<

Program Pendidikan Guru Penggerak Moda Intensif Bagi Guru di Daerah Blankspot, Transportasi Terbatas, dan Daerah Konflik

Jayapura, Teraspapua.com – Selama satu bulan ke depan 62 orang guru dari enam Kabupaten yang ada di Provinsi Papua, Papua Pegunungan dan Papua Tengah mengikuti kegiatan pendidikan guru penggerak yang dilaksanakan oleh Balai Guru Penggerak (BGP) Provinsi Papua di Kota Jayapura.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala BGP, Fatkurohmah, S. Pd.,M.Pd, Senin (19/2/2024). Yang turut dihadiri pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota Kayapura, Abdul Majid, M, Pd, Kepala Bidang BPG dan Nara Sumber.

“Kegiatan yang akan dilaksanakan selama satu bulan kedepan adalah pembelajaran tatap muka bagi program pendidikan guru penggerak model intensif angkatan IX gelombang kedua,” kata Kepala BGP Provinsi, Papua Fatkurohmah, S. Pd.,M.Pd kepada Teraspapua.com.

Diungkapkan, pendidikan guru penggerak intensif ini dikhususkan untuk guru-guru yang berada di daerah blankspot internet, transportasi sulit dan juga daerah rawan konflik.

Menurut Fatkurohmah, peserta awal ada 68 orang dari 6 Kabupaten, tapi beberapa mundur karena dengan alasan lolos ikut seleksi P3K, sehingga total yang ikut ada 62 guru.

Dengan rincian, 7 orang dari Kabupaten Intan Jaya, Mamberamo Raya (10) orang, Nduga (15) orang, Paniai (9) orang, Pegunungan Bintang (8) orang, Yahukimo (8) orang dan Kabupaten Yalimo (5) orang.

“Program pendidikan guru penggerak model intensif ini akan dilakukan selama kurang lebih satu bulan, dengan narasumber adalah fasilitator dari Balai Besar Guru Penggerak BBGP) Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Jambi dan pengawas dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi,” ujarnya.

Lanjut dikatakan Fatkurohmah, kegiatan ini akan dilakukan selama satu bulan, setelah itu peserta akan kembali ke daerah masing-masing untuk membuat aksi nyata selama satu bulan.

Setelah itu mereka akan kembali ke kota Jayapura untuk mempraktekkan ilmu yang didapat pada saat pembelajaran tatap muka ini pada kegiatan panen hasil yang akan dilakukan selama satu minggu di kota Jayapura.

“Tujuan dari program pendidikan guru penggerak ini untuk melahirkan calon pemimpin masa depan, terutama pemimpin pembelajaran,” jelasnya.

Sehingga diharapkan, guru penggerak ini benar-benar mampu menjadi contoh dan juga mampu menjadi motivator bagi teman-teman guru yang ada di daerahnya.

Ditambahkan, keberhasilan mereka nanti akan terlihat, jika guru-guru di sekitar guru penggerak itu juga ikut membangun komunitas belajar sesuai dengan roh merdeka belajar yang akan ditingkatkan dalam kolaborasi antara guru.

Nantinya juga ujar Fatkurohmah, para guru penggerak ini akan disebar di beberapa sekolah yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan dan kebudayaan kota Jayapura untuk magang.

“Jadi, kami memang minta Kepala Dinas Pendidikan Kota Jayapura untuk memfasilitasi guru-guru ini, untuk belajar ataupun juga magang, mempraktekkan apa yang sudah didapat ke sekolah-sekolah yang ditunjuk oleh dinas. Ada jenjang SD, SMP SMA,” tuturnya.

Untuk para guru yang akan di sebar ini, tidak seharusnya sekolah penggerak. Kami meminta memang untuk sekolah-sekolah itu kalau bisa jangan sekolah yang terlalu high.

Karena menurutnya, guru-guru ini nota benenya ada di daerah pedalaman, seraya menginginkan sekolah-sekolah yang tidak harus bicara terlalu banyak, sehingga mereka benar-benar bisa menerapkan apa yang ada di sekolah itu.

“Yang baik dari sekolah itu bisa diterapkan di sekolah asal dari guru penggerak, karena kalau sekolahnya terlalu bagus mungkin akan sulit guru itu untuk meniru,” tandasnya.

Untuk itu dirinya membutuhkan dukungan dari kepala-kepala sekolah dimana 62 guru ini magang untuk bisa membantu, membimbing mereka. Baik dari manajerialnya maupun dari pengelolaan pembelajaran di kelas dari guru-guru yang ada di sekolah,” pungkasnya.

(Har/Ricko)