Biak, Teraspapua.com – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) perwakilan Provinsi Papua, Carel Simon Petrus Suebu, S.E., mendorong Festival Budaya Biak-Melanesia 2026 menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian tradisi sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi pariwisata Papua ke tingkat nasional maupun internasional.
Menurut Carel, festival budaya tidak semestinya hanya dipandang sebagai kegiatan seremonial atau hiburan bagi masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menampilkan identitas masyarakat, menjaga warisan leluhur, serta memperkenalkan potensi daerah kepada khalayak yang lebih luas.
Hal itu disampaikan Carel saat menghadiri Festival Budaya Biak-Melanesia 2026 bertema “Elok Alamku, Pesona Budayaku” di Kabupaten Biak Numfor, Sabtu (17/10/2026).
Festival yang berlangsung pada 17–21 Oktober 2026 tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Biak Numfor Markus O. Mansnembra. Kegiatan ini menghadirkan beragam atraksi budaya dan seni tradisional, sekaligus memperkenalkan kekayaan alam serta kuliner lokal masyarakat Biak.
Carel menilai Biak Numfor memiliki kekayaan alam dan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Papua dan rumpun Melanesia. Potensi tersebut, menurut dia, perlu terus dijaga dan diperkenalkan melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat secara luas.
Ia mengajak masyarakat Papua, khususnya masyarakat Biak Numfor, untuk berpartisipasi aktif dalam menyukseskan festival tersebut.
“Saya mengajak seluruh masyarakat Papua, khususnya masyarakat Biak Numfor, para tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, perempuan, serta generasi muda untuk hadir dan berpartisipasi menyukseskan festival ini,” ujar Carel.
Ia berharap festival tersebut menjadi wadah untuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya, mempererat persaudaraan, dan memperkenalkan pariwisata Papua kepada masyarakat dari berbagai daerah maupun mancanegara.
“Mari kita jadikan momentum ini sebagai wujud kecintaan terhadap budaya, adat istiadat, dan kekayaan alam Papua, sekaligus mempererat persaudaraan serta mempromosikan pariwisata Papua kepada dunia,” katanya.

Carel menegaskan, pelestarian budaya harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau para pelaku seni. Keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda, diperlukan agar tradisi dan nilai-nilai adat tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Menurut dia, generasi muda perlu mengenal sejarah, adat istiadat, bahasa, seni, dan berbagai warisan budaya yang dimiliki masyarakat Biak maupun Papua secara umum.
Ia berharap Festival Budaya Biak-Melanesia tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga sarana pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami dan menghargai identitas budayanya.
Carel mengingatkan bahwa budaya tidak boleh dipandang sebatas peninggalan masa lalu. Sebaliknya, warisan budaya harus terus dirawat dan dikembangkan agar tetap relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
“Budaya adalah jati diri kita, persatuan adalah kekuatan kita, dan Papua adalah kebanggaan kita bersama,” ujar Carel.
Ia menilai keberagaman tradisi, bahasa, kesenian, dan adat istiadat merupakan kekayaan yang harus dijaga bersama. Keberagaman tersebut menjadi bagian dari identitas masyarakat Papua sekaligus memperkuat persatuan.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat memanfaatkan festival sebagai ruang untuk mempererat hubungan sosial dan menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya daerah.
Selain menghadiri pembukaan festival, Carel Suebu turut menikmati sajian kuliner lokal yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Biak Numfor bagi masyarakat dan pengunjung.
Kegiatan penyajian kuliner berlangsung di sepanjang Jalan Imam Bonjol, Kota Biak, Minggu (18/10/2026), sebagai bagian dari rangkaian Festival Budaya Biak-Melanesia 2026.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 14.200 porsi kuliner lokal dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Hidangan yang disajikan menggunakan bahan pangan lokal, termasuk ikan hasil tangkapan dari perairan Biak.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan pangan lokal kepada masyarakat sekaligus memperkuat suasana kebersamaan dalam perayaan budaya tersebut.
Carel menilai kuliner lokal merupakan bagian dari identitas daerah yang dapat diperkenalkan bersamaan dengan seni, tradisi, dan potensi alam.
Menurutnya, makanan tradisional masyarakat Biak memiliki tempat penting dalam kehidupan sehari-hari dan dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata budaya bagi pengunjung.
Ia juga menyoroti pentingnya memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mama-mama Papua, serta masyarakat yang bergerak di bidang kuliner dan ekonomi kreatif.
Keterlibatan pelaku usaha lokal dalam kegiatan budaya, menurut dia, perlu terus diperhatikan agar masyarakat dapat mengambil bagian dalam memperkenalkan produk dan hasil olahan daerahnya.
Dengan demikian, penyelenggaraan festival tidak hanya menampilkan seni dan tradisi, tetapi juga memberi ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan kekayaan pangan lokal Biak Numfor.
Carel menilai Kabupaten Biak Numfor memiliki potensi untuk menjadi salah satu pintu promosi kebudayaan Papua, mengingat kekayaan tradisi dan alam yang dimiliki daerah tersebut.
Melalui Festival Budaya Biak-Melanesia, berbagai unsur kebudayaan masyarakat dapat ditampilkan kepada pengunjung dari dalam maupun luar negeri.

Ia berharap festival tersebut dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan dengan melibatkan komunitas budaya, seniman, pelaku pariwisata, pelaku ekonomi kreatif, dan generasi muda.
Menurut Carel, pengembangan pariwisata perlu berjalan seiring dengan pelestarian budaya. Kekayaan alam dan tradisi masyarakat merupakan dua unsur yang dapat diperkenalkan secara bersamaan tanpa mengabaikan nilai-nilai adat yang diwariskan para leluhur.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keberagaman budaya Papua sebagai kekuatan bersama. Setiap tradisi dan kesenian daerah memiliki nilai yang perlu dihormati serta diwariskan kepada generasi selanjutnya.
“Festival ini harus menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan kita terhadap budaya dan adat istiadat. Kita juga ingin agar kekayaan alam dan budaya Papua semakin dikenal, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga oleh masyarakat dunia,” kata Carel.
Ia mengajak masyarakat menjadikan Festival Budaya Biak-Melanesia sebagai kesempatan untuk memperkuat persaudaraan sekaligus menunjukkan kekayaan identitas Papua kepada khalayak yang lebih luas.
Festival Budaya Biak-Melanesia 2026 berlangsung hingga 21 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Elok Alamku, Pesona Budayaku”. Selain menampilkan kekayaan budaya masyarakat Biak, kegiatan ini juga menghadirkan sajian kuliner lokal sebagai bagian dari rangkaian perayaan.
Bagi Carel, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat agar tradisi tetap hidup, identitas daerah terjaga, dan generasi muda memiliki kebanggaan terhadap warisan leluhurnya.
(Har)









