Frida Ramela Perjuangkan Beasiswa Otsus, Dua Anak Skouw Kuliah di Unhas

Anggota DPR Kota Jayapura dari Kelompok Khusus, Frida M. Ramela,bersama dua anggota DPRK dari kelompok Khusus (foto Harley/Teraspapuya.com)

Jayapura, Teraspapua.com – Pemanfaatan Dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua untuk sektor pendidikan di wilayah Skouw, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, menjadi sorotan masyarakat. Warga berharap dukungan pemerintah tidak hanya terbatas pada kebutuhan sekolah, tetapi juga menjangkau pembiayaan pendidikan tinggi bagi anak-anak asli Papua.

Anggota DPR Kota Jayapura dari Kelompok Khusus, Frida M. Ramela, mengungkapkan upayanya memperjuangkan akses pendidikan bagi generasi muda dari wilayah Skouw. Ia menyebut dua siswa lulusan SMA tahun 2025 asal Kampung Skouw Sae dan Skouw Yambe kini tengah menempuh pendidikan di Universitas Hasanuddin, Makassar, dengan pembiayaan dari Dana Otsus.

Hal itu disampaikan Frida saat Panitia Khusus (Pansus) Otsus DPR Kota Jayapura menggelar pertemuan dengan masyarakat dari tiga kampung, yakni Skouw Sae, Skouw Yambe, dan Skouw Mabo, di Kantor Distrik Muara Tami, Kamis (8/10/2026).

Menurut Frida, penjelasan tersebut sekaligus menjadi jawaban atas kritik masyarakat yang mempertanyakan kontribusi perwakilan adat di DPRK dalam memperjuangkan kepentingan warga Skouw.

Ia menegaskan, anggota DPRK dari jalur pengangkatan yang mewakili masyarakat adat memiliki tanggung jawab untuk menyerap aspirasi, memperjuangkan kebutuhan warga, serta mengawasi pelaksanaan program pemerintah, termasuk pemanfaatan Dana Otsus di bidang pendidikan.

“Untuk anak-anak lulusan tahun 2025, saya sudah mengupayakan sehingga dua anak dari Kampung Skouw Sae dan Skouw Yambe saat ini mengikuti pendidikan di Universitas Hasanuddin Makassar,” kata Frida.

Frida menjelaskan, dirinya bersama Christian, sesama anggota Kelompok Khusus DPR Kota Jayapura, telah bekerja sama mengumpulkan data pendidikan masyarakat dari tiga kampung di wilayah Skouw.

Dalam pembagian tugas tersebut, Frida menangani pendataan di Kampung Skouw Sae dan Skouw Yambe, sedangkan Christian bertanggung jawab terhadap pendataan di Kampung Skouw Mabo.

Langkah itu dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kebutuhan pendidikan masyarakat, khususnya anak-anak yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan membutuhkan dukungan pembiayaan.

Frida mengaku telah meminta data anak sekolah dan mahasiswa kepada kepala kampung. Data tersebut kemudian dihimpun dan diserahkan ke sekretariat Kelompok Khusus DPR Kota Jayapura sebagai bahan untuk menjalankan fungsi pengawasan.

Menurut dia, pendataan menjadi salah satu langkah penting untuk mengetahui kondisi pendidikan masyarakat secara lebih terperinci, sekaligus memastikan aspirasi warga dapat disampaikan kepada instansi pemerintah yang berwenang.

“Untuk pendidikan, saya sudah meminta data mahasiswa dan memasukkannya ke sekretariat Kelompok Khusus DPR Kota Jayapura. Sebagai perwakilan masyarakat adat, kami tetap melakukan pengawasan melalui Dinas Pendidikan,” ujarnya.

Ia berharap upaya tersebut dapat membantu memperjelas kebutuhan pendidikan di tiga kampung, termasuk peluang bagi anak-anak asli Skouw untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Di sisi lain, Tokoh Perempuan Skouw Yambe, Hagar Rollo, meminta Pansus Otsus DPR Kota Jayapura menghadirkan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan setiap kali melakukan pertemuan langsung dengan masyarakat.

Menurut Hagar, kehadiran kedua instansi tersebut diperlukan agar masyarakat memperoleh penjelasan langsung mengenai program yang telah dilaksanakan dan pemanfaatan anggaran Otsus di masing-masing sektor.

Ia menilai, pertemuan antara DPRK dan warga seharusnya tidak hanya menjadi wadah untuk menampung keluhan, tetapi juga kesempatan bagi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan program kepada masyarakat.

Hagar meminta Dinas Kesehatan menjelaskan berbagai program pelayanan kesehatan yang telah diberikan kepada warga. Hal serupa juga perlu dilakukan Dinas Pendidikan terkait bantuan dan program pendidikan bagi anak-anak di wilayah Skouw.

Menurut dia, keterbukaan informasi akan membantu masyarakat mengetahui program yang tersedia, manfaat yang telah diberikan, serta kebutuhan yang masih belum terpenuhi.

Ia berharap, dengan menghadirkan dinas teknis dalam pertemuan seperti itu, aspirasi masyarakat dapat langsung ditanggapi oleh instansi yang memiliki kewenangan.

Kritik terhadap pemanfaatan Dana Otsus juga disampaikan Tokoh Perempuan Kampung Skouw Yambe, Flora Patipeme. Ia mempertanyakan sejauh mana anggaran tersebut telah memberikan manfaat bagi pendidikan anak-anak di wilayah Skouw.

Flora menilai, dukungan pendidikan bagi masyarakat perlu dirancang lebih luas dan berkelanjutan. Menurut dia, kebutuhan anak-anak tidak berhenti pada perlengkapan sekolah, tetapi juga mencakup biaya pendidikan untuk melanjutkan studi hingga perguruan tinggi.

Ia mengaku belum melihat manfaat Dana Otsus di sektor pendidikan yang benar-benar dirasakan masyarakat sesuai dengan kebutuhan mereka.

“Lewat Dana Otsus yang turun ke kampung, kami belum merasakan manfaatnya secara maksimal, terutama untuk pendidikan anak-anak. Jangan sampai bantuan hanya berhenti pada pembelian sepatu, buku, dan tas sekolah,” kata Flora.

Ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih besar kepada anak-anak Skouw yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, termasuk melalui dukungan pembiayaan kuliah.

Menurut Flora, kesempatan memperoleh pendidikan tinggi menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia asli Papua, sekaligus membuka peluang bagi generasi muda untuk berperan lebih besar dalam pembangunan daerah.

Karena itu, ia mengaku telah beberapa kali mengusulkan agar Dana Otsus di Kampung Skouw Yambe dapat dimanfaatkan untuk membantu anak-anak melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister (S2), bahkan doktoral (S3).

“Saya sudah beberapa kali mengusulkan agar anak-anak di Skouw Yambe mendapat dukungan untuk kuliah. Kalau bisa, jangan hanya sampai sarjana, tetapi juga diberikan kesempatan melanjutkan pendidikan S2 dan S3,” ujarnya.

Flora menegaskan, keberhasilan program Otsus di sektor pendidikan perlu dilihat dari sejauh mana anak-anak asli Papua memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan bersaing dalam berbagai bidang.

Ia berharap anak-anak dari wilayah Skouw mendapatkan dukungan pemerintah agar dapat mengakses pendidikan yang lebih baik, meningkatkan kompetensi, dan mempersiapkan diri untuk mengisi berbagai posisi strategis di daerah.

Menurut dia, generasi muda Skouw memiliki kemampuan untuk bersaing, tetapi membutuhkan dukungan yang memadai agar tidak tertinggal dalam memperoleh kesempatan pendidikan maupun pekerjaan.

Flora juga menyoroti tantangan yang dihadapi anak-anak setempat ketika harus bersaing untuk mendapatkan posisi tertentu, terutama apabila terdapat persyaratan pendidikan, kompetensi, dan regulasi yang harus dipenuhi.

“Kami ingin anak-anak yang ada di wilayah Skouw bisa bersaing. Kami anak-anak Skouw pintar, hanya membutuhkan dukungan pemerintah melalui Dana Otsus,” katanya.

Ia berharap pemerintah tidak hanya berfokus pada bantuan jangka pendek, tetapi juga menyusun kebijakan yang memberikan dampak berkelanjutan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia di tiga kampung tersebut.

Bagi Flora, dukungan pendidikan merupakan investasi bagi masa depan masyarakat Skouw. Semakin besar kesempatan anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang memadai, semakin terbuka pula peluang mereka untuk berkontribusi dalam pembangunan dan mengambil bagian dalam berbagai sektor pekerjaan.

Berbagai aspirasi yang disampaikan dalam pertemuan tersebut menjadi catatan penting bagi Pansus Otsus DPR Kota Jayapura dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan program Otsus.

Masyarakat meminta agar perencanaan dan pemanfaatan anggaran lebih memperhatikan kebutuhan nyata warga, terutama dalam sektor pendidikan dan kesehatan. Mereka juga menginginkan adanya penjelasan terbuka dari dinas terkait mengenai program yang telah dijalankan.

Sementara itu, upaya pendataan mahasiswa yang dilakukan Frida dan Christian diharapkan dapat membantu DPRK mengidentifikasi kebutuhan pendidikan masyarakat dari Skouw Sae, Skouw Yambe, dan Skouw Mabo.

Dengan data yang lebih lengkap, pemerintah daerah diharapkan dapat mengevaluasi program yang berjalan dan mempertimbangkan dukungan yang lebih sesuai bagi siswa maupun mahasiswa yang membutuhkan bantuan.

Pada akhirnya, masyarakat Skouw berharap Dana Otsus tidak hanya tercatat dalam program dan alokasi anggaran pemerintah, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh generasi muda Papua.

Dukungan pendidikan yang berkelanjutan, transparansi pelaksanaan program, serta keterlibatan masyarakat dalam perencanaan dinilai menjadi bagian penting untuk memastikan Otsus memberikan dampak nyata bagi masa depan anak-anak di wilayah Skouw.

(sand)