Pansus Covid : Kasus Virus Corona di Kota Jayapura Naik Signifikan di Bulan Juli

Ketua Pansus Covid-19 DPRD Kota Jayapura, Yuli Rahman

Jayapura, Teraspapua.com – Ketua Pansus Covid-19 DPRD Kota Jayapura, Yuli Rahman menyebut kasus virus corona di bulan Juli naik sangat signifikan.

“Awal bulan Juli kita lakukan evaluasi kasus masih 286. Tapi selama bulan Juli kasus naik cukup tajam hingga saat ini tercatat, 1.923 kasus,” kata Yuli Rahman pada rapat evaluasi penanganan Covid-19 oleh Satgas Kota Jayapura di parkiran utama Kantor Wali Kota, Senin ( 2/8).

Memang kata Yuli Rahman, banyak kendala – kendala. Tetapi juga banyak kerja – kerja juga yang sudah dilakukan oleh Satgas Covid yang tidak henti-hentinya memberikan motivasi, edukasi kepada masyarakat.

Tetapi masih juga banyak kendala – kendala yang kita dapati. Seperti kesadaran masyarakat terkait penggunaan masker mulai menurun.

Selain itu lanjut politis Golkar itu, lamanya waktu PCR. Kepada kepala Litbangkes Yuli Rahman minta apakah kita juga bisa meminta alat yang baru untuk bisa menambah alat PCR yang ada.

“Jadi bagaimana peran serta kita, bisa memutus mata rantai Covid yang ada di kota Jayapura,” cetusnya.

Sehingga salah satu cara pemerintah yang saat ini yaitu menggalakan vaksinasi. Namun ada 126 tenaga kesehatan yang terpapar

“Ini juga menjadi perhatian kita, karena kita buka vaksin tentu difasilitasi oleh para Nakes yang ada di semua Puskesmas dan dinas Kesehatan,” lugasnya.

Kemudian diungkapkan Yuli Rahman, obat virus juga berkurang. Selama bulan Juli semuanya sangat berkurang karena naiknya pasien Covid yang signifikan di kota Jayapura.

Jadi, semuanya sangat minim. Kemudian ketersediaan tabung oksigen. Pansus sarankan ada kadarnya dan tidak bisa dipakai untuk sembarangan,” imbuhnya.

Ditambahkan, peti jenazah yang saat ini kekurangan, bahkan harga naik signifikan. Jangan orang sudah susah kita tambah kasih susah lagi dengan harga peti jenazah,” sindir Yuli.

Legislator asal partai pohon beringin ini juga menyoroti banyak masyarakat kita yang tidak mau di vaksin. Ini menjadi tugas kita.

“Begitu PPKM darurat pada saat itu dan level 4 sekarang mengharuskan syarat – syarat perjalanan harus PCR dan vaksin. Sehigga orang berlomba – lomba untuk divasin,” tegasnya.

Terkait dengan PPKM level 4 ini memang sangat diperketat di mana semuanya bekerja dari rumah work from home (WFH).

Penutupan mall, pusat perbelanjaan dan pusat perdagangan, larangan kegiatan yang menimbulkan kerumunan seperti resepsi pernikahan,” tandasnya.

Lanjutnya, Sekolah dilakukan dengan pembelajaran jarak jauh, rumah ibadah ini tetap dilarang menyelenggarakan ibadah. Kemudian kewajiban menunjukkan hasil PCR bagi penumpang pesawat dan hasil tes antigen yang untuk moda transportasi.

“Bahkan transportasi kita ini juga sekarang dibatasi 70% tidak bisa lebih. Tapi kita juga tidak bisa memberikan pengawasan langsung ke lapangan apakah itu 50% , 70% atau full,” ujarnya.

DIjelaskan juga, saat kita buka yustisi pada Kamis lalu, banyak sekali orang-orang yang langsung tertangkap tidak menggunakan masker.

Mereka lebih senang bayar Rp200.000 daripada membeli masker yang Rp5.000. Dia harap kit aharus membudayakan pakai masker. Ini harus menjadi perhatian untuk kita semuanya,” jelas Yuli.

Pansus juga minta ada penyekatan. Jadi tepat jam 8 malam atau jam 20.00 WIT disetiap Distrik dan kelurahan ada penyekatan.

Walau sudah ada pembatan waktu aktifitas, namun masih masyarakat dan pelaku usaha yang melanggar.

Memang kota Jayapura adalah kota jasa dan perdagangan, tapi kita tidak mau ada masyarakat yang sakit,” tukasnya.

(let)