Jayapura, Teraspapua.com – Pendekatan humanis yang dibarengi pemberdayaan ekonomi kembali dilakukan Kodam XVII/Cenderawasih sebagai bagian dari upaya membangun perdamaian dan menciptakan kondisi keamanan yang kondusif di Tanah Papua.
Sebanyak lima anggota keluarga eks Organisasi Papua Merdeka (OPM) dari wilayah perbatasan Papua-Papua Nugini menyatakan kembali bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka juga secara sukarela menyerahkan tiga pucuk senjata api beserta sejumlah amunisi dan magasin kepada aparat keamanan.
Kelima warga tersebut sebelumnya berada di lingkungan kelompok OPM di wilayah perbatasan. Keputusan untuk kembali dan menjalani kehidupan bersama masyarakat dilakukan setelah mereka melihat secara langsung manfaat pendampingan serta pemberdayaan ekonomi yang diberikan pemerintah melalui aparat kewilayahan.
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang mengatakan, kembalinya lima warga tersebut merupakan hasil dari proses pembinaan teritorial yang dilakukan secara berkelanjutan oleh jajaran Kodam XVII/Cenderawasih.
Pembinaan tersebut, kata Febriel, dilakukan mulai dari tingkat Korem, Kodim hingga satuan kewilayahan dengan mengedepankan komunikasi dan pendekatan kepada masyarakat.
“Ini merupakan bagian dari proses pembinaan teritorial yang dilakukan secara berkelanjutan oleh jajaran Kodam XVII/Cenderawasih,” kata Febriel saat memberikan keterangan pers di Makodam XVII/Cenderawasih, Jayapura, Minggu (27/9/2026).
Menurut dia, pendekatan yang dilakukan tidak semata-mata berorientasi pada aspek keamanan. Aparat juga berupaya membangun komunikasi, memberikan pendampingan serta membuka ruang pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang berada di wilayah rawan konflik.
Salah satu proses pembinaan bahkan telah berlangsung sejak 2019. Saat itu, seorang tokoh OPM berinisial LK memutuskan kembali ke NKRI.
Setelah kembali, LK mendapatkan dukungan sarana usaha peternakan. Bantuan tersebut diarahkan untuk membantu keluarganya membangun sumber penghasilan yang lebih mandiri sehingga tidak lagi bergantung pada kelompok bersenjata.
“Kami memberikan dukungan sarana usaha peternakan agar ekonomi keluarga beliau lebih mandiri,” ujar Febriel.
Pendekatan tersebut kemudian memberikan dampak terhadap anggota keluarga LK lainnya. Perubahan kondisi kehidupan dan ekonomi keluarga setelah mendapatkan pendampingan menjadi pengalaman langsung yang ikut memengaruhi keputusan anggota keluarga lainnya untuk kembali.
Mereka yang sebelumnya masih berada di seberang perbatasan bersama kelompok OPM akhirnya memilih meninggalkan kehidupan tersebut dan kembali menjalani kehidupan secara damai di tengah masyarakat.
Proses kepulangan lima warga itu mencapai puncaknya pada Jumat (25/9/2026). Mereka diterima langsung oleh Danrem 172/PWY Brigjen TNI Robby Suryadi.
Dalam kesempatan tersebut, kelima warga secara sukarela menyerahkan tiga pucuk senjata api kepada aparat keamanan.
Tiga senjata tersebut terdiri atas satu pucuk pistol FN, satu pucuk revolver dan satu pucuk senjata api rakitan. Selain senjata, mereka juga menyerahkan sejumlah amunisi serta magasin.
Penyerahan senjata tersebut menjadi bagian penting dari proses kembalinya mereka ke tengah masyarakat. Aparat selanjutnya melakukan pembinaan agar para warga tersebut dapat menjalani kehidupan secara aman dan produktif.
Febriel mengatakan, proses tersebut menunjukkan bahwa upaya menciptakan perdamaian di Papua tidak hanya dapat dilakukan melalui pendekatan keamanan. Pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan.
“Harapan saya, mereka yang baru kembali dapat menjadi jembatan damai untuk mengajak saudara-saudara kita yang masih berada di dalam hutan untuk kembali berbaur, berkebun, dan membangun masa depan bersama tanpa rasa cemas,” ujarnya.
Ia berharap warga yang telah kembali dapat menjadi bagian dari masyarakat dan ikut berkontribusi dalam membangun kehidupan sosial serta ekonomi di wilayahnya.
Menurut Febriel, proses reintegrasi tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. TNI dan Polri tidak dapat bekerja sendiri dalam menciptakan kondisi keamanan yang berkelanjutan.
Karena itu, sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat dinilai penting untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat Papua dalam meningkatkan kesejahteraan.
“Menjaga kedamaian dan membangun masa depan Papua membutuhkan keterlibatan seluruh pihak,” kata Febriel.
Ia menambahkan, masyarakat yang berada di wilayah perbatasan maupun daerah yang selama ini terdampak konflik membutuhkan kepastian keamanan sekaligus kesempatan untuk mengembangkan kehidupan ekonomi secara mandiri.
Sementara itu, Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Tri Purwanto mengatakan, kembalinya lima anggota keluarga eks OPM tersebut menunjukkan pentingnya pembinaan teritorial yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Menurut Tri, kehadiran aparat di tengah masyarakat tidak hanya ditujukan untuk menjaga keamanan, tetapi juga membantu menciptakan ruang bagi masyarakat untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
“Pembinaan teritorial harus mampu menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Kehadiran aparat bukan hanya dalam konteks keamanan, tetapi juga bagaimana membantu masyarakat membangun kehidupan yang lebih baik,” kata Tri.
Ia menilai pendekatan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat membuka ruang komunikasi antara aparat dan masyarakat. Dari komunikasi tersebut, berbagai persoalan sosial dan ekonomi dapat diidentifikasi sekaligus dicarikan jalan keluar bersama.
Tri mengatakan, proses kepulangan warga dari lingkungan kelompok OPM merupakan bagian dari upaya membangun Papua yang lebih aman dan damai.
Pihaknya berharap keputusan lima warga tersebut dapat diikuti anggota kelompok lainnya yang masih berada di wilayah hutan maupun daerah perbatasan.
Dengan kembali ke tengah masyarakat, mereka diharapkan dapat menjalani kehidupan secara normal, mengembangkan usaha, berkebun serta membangun masa depan bersama keluarga tanpa harus berada dalam situasi konflik.
“Yang paling utama adalah bagaimana masyarakat dapat hidup aman, tenang dan memiliki kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraannya,” kata Tri.
Kodam XVII/Cenderawasih juga berharap proses pendekatan dan pemberdayaan masyarakat dapat terus diperkuat sebagai bagian dari upaya menciptakan perdamaian yang berkelanjutan di Papua.
Kembalinya lima warga tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa pendekatan keamanan yang berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi dan komunikasi sosial dapat membuka ruang bagi proses reintegrasi masyarakat yang sebelumnya berada di lingkungan kelompok bersenjata.
(red)










