DAERAH  

Dana Belum Cair dari Pusat, Masyarakat dan Relawan Palang Dapur SPPG Kosiwo Kepulauan Yapen

Masyarakat dan Relawan Palang Dapur SPPG Kosiwo (foto Mg/Teraspapua.com)

Serui, Teraspapua.com – Belum cairnya penambahan dana bantuan pemerintah dari Badan Gizi Nasional (BGN) berdampak pada operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kosiwo di Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua. Kondisi tersebut memicu kekecewaan masyarakat dan relawan hingga berujung pada aksi pemalangan dapur pada Kamis (22/10/2026) sekitar pukul 10.00 WIT.

Dapur SPPG Kosiwo yang sebelumnya beroperasi untuk mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini terpaksa menghentikan aktivitasnya sementara waktu. Hingga aksi berlangsung, belum ada kepastian mengenai waktu operasional dapur tersebut akan kembali dibuka.

Masyarakat dan relawan mendatangi lokasi untuk menyuarakan keberatan atas terhentinya pelayanan yang selama ini membantu pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Aksi pemalangan dilakukan sebagai bentuk protes terhadap belum adanya penambahan dana atau top up bantuan pemerintah yang dibutuhkan untuk mendukung keberlangsungan operasional dapur.

Keterlambatan pencairan dana tersebut dinilai berdampak langsung terhadap pelaksanaan program di lapangan. Sejumlah kelompok penerima manfaat, mulai dari anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita, disebut ikut merasakan dampak penghentian layanan tersebut.

Masyarakat dan relawan berharap pemerintah pusat memberikan perhatian terhadap kondisi yang terjadi di Kosiwo. Mereka meminta adanya kejelasan mengenai pencairan dana agar pelayanan pemenuhan gizi dapat kembali berjalan.

“Belum masuknya penambahan dana tersebut menyebabkan operasional dapur tidak dapat berjalan kembali dan penyaluran MBG kepada penerima manfaat di wilayah Kosiwo terhenti. Anak-anak sekolah yang sebelumnya menerima makanan bergizi kini tidak lagi mendapatkan penyaluran. Selain itu, layanan bagi ibu hamil dan balita yang menjadi sasaran program juga ikut terdampak,” demikian keluhan yang disampaikan masyarakat dan relawan.

Penghentian sementara operasional SPPG Kosiwo menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pelayanan pemenuhan gizi bagi kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program.

Anak-anak sekolah yang sebelumnya menerima makanan bergizi melalui program MBG kini tidak lagi memperoleh penyaluran dari dapur tersebut selama operasional terhenti.

Dampak serupa juga dirasakan oleh kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang menjadi bagian dari penerima layanan pemenuhan gizi. Kondisi ini membuat masyarakat berharap persoalan pencairan dana segera mendapatkan penyelesaian agar pelayanan tidak terhenti lebih lama.

Bagi masyarakat, keberadaan dapur SPPG tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan, tetapi juga mendukung pelaksanaan program pemenuhan gizi bagi kelompok sasaran di wilayah tersebut.

Karena itu, kepastian mengenai kelanjutan operasional dapur menjadi hal yang dinantikan, terutama oleh masyarakat yang selama ini bergantung pada layanan tersebut.

Selain memengaruhi penerima manfaat, penghentian aktivitas dapur juga berdampak terhadap para relawan yang terlibat dalam pelaksanaan program MBG.

Selama dapur tidak beroperasi, para relawan tidak memperoleh penghasilan dari kegiatan tersebut. Kondisi ini menambah persoalan yang dihadapi para pekerja di lapangan akibat terhentinya pelayanan.

Masyarakat dan relawan berharap Badan Gizi Nasional bersama instansi terkait segera memberikan penjelasan mengenai status penyaluran dana bantuan pemerintah, termasuk kepastian waktu pencairan dana operasional untuk SPPG Kosiwo.

Mereka juga meminta agar penyelesaian persoalan tersebut tidak berlarut-larut sehingga aktivitas dapur dapat kembali berjalan dan para relawan bisa melanjutkan pekerjaan mereka.

Aksi pemalangan dapur SPPG Kosiwo menjadi bentuk penyampaian aspirasi masyarakat dan relawan atas kondisi yang mereka hadapi setelah operasional program MBG terhenti.

Masyarakat berharap pemerintah pusat segera memberikan kejelasan terkait penambahan dana bantuan pemerintah yang disebut menjadi kendala operasional dapur. Kepastian tersebut dinilai penting agar pengelola dapat mempersiapkan pembukaan kembali layanan.

Mereka menginginkan agar penyaluran makanan bergizi bagi anak-anak sekolah serta pelayanan pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dapat kembali dilaksanakan.

Hingga berita ini ditayang, belum terdapat informasi mengenai kepastian pencairan dana maupun jadwal pembukaan kembali dapur SPPG Kosiwo.

Masyarakat dan relawan berharap pemerintah segera mengambil langkah penyelesaian agar penghentian operasional tidak berlangsung berkepanjangan, sehingga pelayanan pemenuhan gizi bagi masyarakat di Kabupaten Kepulauan Yapen dapat kembali berjalan.

Dengan di palangnya dapur SPPG Kosiwo :
-Anak anak sekolah tidak lagi menerima makanan bergizi
-Ibu hamil tidak mendapatkan layanan pemenuhan gizi
-Balita tidak menerima layanan pemenuhan gizi
-Relawan tidak memperoleh penghasilan selama dapur tidak beroperasi
-Masyarakat berharap adanya kejelasan dan penyelesaian dari pemerintah pusat agar operasional SPPG Kosiwo dapat kembali berjalan

(Mg)