DAERAH  

Gandeng BRMP Papua Tengah, Pemkab Yapen Gelar Sekolah Lapang untuk Tingkatkan Produktivitas Petani Padi

Foto bersama usai kegiatan (Mang/Teraspapua.com)

Serui, Teraspapua.com – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan bekerja sama dengan Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua Tengah menggelar sekolah lapang bagi kelompok tani di Kabupaten Kepulauan Yapen, Selasa (3/11/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan melalui Bidang Sumber Daya Penyuluhan Pertanian tersebut melibatkan 25 petani yang merupakan perwakilan dari 12 kelompok tani di Distrik Teluk Ampimoi dan Distrik Angkaisera.

Sekolah lapang ini menjadi salah satu langkah pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan petani, khususnya dalam mengembangkan budidaya tanaman padi yang efektif, produktif, dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan tersebut, para petani mendapatkan pembelajaran langsung mengenai tahapan budidaya padi, mulai dari persiapan lahan, pemilihan benih berkualitas, teknik penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga proses panen dan perhitungan keuntungan serta kerugian usaha tani.

Kepala Loka Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP Papua Tengah), Merlin Kornelia Rumbarar, mengatakan sekolah lapang dirancang untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada petani mengenai tata cara pengelolaan usaha tani yang baik.

Menurut Merlin, selama ini sebagian petani masih menghadapi keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam menerapkan teknik budidaya padi yang tepat. Kondisi tersebut turut memengaruhi hasil produksi yang diperoleh.

Karena itu, melalui pembelajaran yang dilaksanakan dalam 12 kali pertemuan, petani diharapkan mampu meningkatkan kemampuan dalam mengelola lahan dan menerapkan teknik budidaya yang lebih efektif.

“Dengan kegiatan sekolah lapang ini, petani diharapkan mendapatkan peningkatan kapasitas dalam pengelolaan usaha tani, termasuk memahami bagaimana teknik budidaya padi yang benar. Sebelumnya, hasil produksi mereka masih relatif sedikit. Melalui pembelajaran selama 12 kali pertemuan ini, kami berharap produksi dapat meningkat secara maksimal,” ujar Merlin.

Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti setiap tahapan pembelajaran dengan baik, sehingga materi dan praktik yang diberikan tidak hanya dipahami, tetapi juga diterapkan secara langsung di lahan pertanian masing-masing.

Selain peningkatan kapasitas petani, Merlin juga memaparkan perkembangan luas tambah tanam (LTT) padi di Kabupaten Kepulauan Yapen.

Menurutnya, target LTT reguler yang ditetapkan sebesar sembilan hektare telah terealisasi hingga 12 hektare. Capaian tersebut menunjukkan adanya perkembangan positif dalam upaya meningkatkan luas areal pertanaman padi di daerah itu.

Namun, masih terdapat pekerjaan yang harus diselesaikan, terutama untuk pengembangan padi gogo atau padi lahan kering dengan target luas tanam mencapai 120 hektare.

Ia menjelaskan, salah satu kendala yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan ketersediaan benih yang belum mampu memenuhi kebutuhan pengembangan areal tanam tersebut.

Ke depan, pengembangan pertanian di Kabupaten Kepulauan Yapen juga akan diarahkan melalui program cetak sawah rakyat. Pada 2026, program tersebut menargetkan pembukaan lahan sekitar 200 hektare serta pengembangan satu brigade pangan.

Program ini diharapkan dapat memperluas areal persawahan sekaligus memperkuat kapasitas produksi pangan di Kabupaten Kepulauan Yapen.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kepulauan Yapen, Jeffry M.B. Manderi, berharap pelaksanaan sekolah lapang dapat memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan kepada petani untuk mengembangkan lahan pertanian secara lebih optimal.

Menurut Jeffry, peningkatan kemampuan petani menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong peningkatan hasil produksi pertanian yang pada akhirnya berdampak terhadap pendapatan dan kesejahteraan keluarga petani.

Ia mengatakan, melalui kerja sama dengan BRMP Papua Tengah, para peserta akan mendapatkan berbagai inovasi dan pengetahuan baru terkait teknik budidaya tanaman padi, mulai dari proses penanaman hingga penanganan saat panen.

“Ada berbagai inovasi baru yang akan diberikan untuk menambah pemahaman petani dalam melaksanakan proses penanaman padi hingga tahapan panen. Kami berharap pengetahuan tersebut dapat diterapkan sehingga hasil produksi pertanian semakin baik,” katanya.

Jeffry menegaskan, pemerintah daerah terus mendorong peningkatan sektor pertanian sebagai salah satu upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya petani di Kabupaten Kepulauan Yapen.

Senada dengan itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bidang Sumber Daya Penyuluhan Pertanian, Delila E. Ruamba, meminta seluruh peserta memanfaatkan kesempatan mengikuti sekolah lapang dengan sebaik-baiknya.

Ia menilai kegiatan tersebut menjadi kesempatan penting bagi petani untuk memperoleh tambahan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kegiatan pertanian sehari-hari.

“Ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi petani. Karena itu, saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti materi dengan serius dan mengambil ilmu sebanyak-banyaknya untuk diterapkan dalam proses budidaya padi agar hasil yang diperoleh bisa lebih maksimal,” ujarnya.

Delila menjelaskan, tujuan utama sekolah lapang adalah meningkatkan kapasitas petani dalam menerapkan teknik budidaya tanaman padi yang efektif dan berkelanjutan.

Dengan demikian, petani tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mempraktikkan setiap tahapan budidaya secara tepat di lahan masing-masing.

“Petani belajar, petani tahu, dan mampu menerapkannya di lahan masing-masing. Harapannya, kegiatan ini dapat meningkatkan produktivitas padi, memperkuat ketahanan pangan, serta mendorong kesejahteraan petani di Kabupaten Kepulauan Yapen,” katanya.

Melalui kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen dan BRMP Papua Tengah, sekolah lapang diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam membangun sektor pertanian yang lebih produktif.

Peningkatan pengetahuan, penerapan teknologi budidaya, serta dukungan terhadap perluasan areal tanam diharapkan dapat membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan hasil produksi sekaligus memperkuat kemandirian pangan daerah.

(Mg)