DAERAH  

14.200 Porsi Kuliner Lokal Gratis Meriahkan Munara Fan Nanggi di Biak

Sebanyak 14.200 porsi kuliner lokal dalam kegiatan Munara Fan Nanggi dan Pesona Kuliner (foto Kwa/Teraspapua.com)

Biak, Teraspapua.com – Sebanyak 14.200 porsi kuliner lokal dibagikan secara gratis kepada masyarakat dalam kegiatan Munara Fan Nanggi dan Pesona Kuliner yang digelar di sepanjang Jalan Imam Bonjol, Kota Biak, Minggu (18/10/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu agenda yang memeriahkan Festival Budaya Biak-Melanesia 2026 sekaligus memperkenalkan kekayaan pangan lokal Kabupaten Biak Numfor.

Kegiatan yang dipimpin Bupati Biak Numfor Markus O. Mansnembra tersebut menghadirkan beragam hidangan berbahan pangan lokal, termasuk ikan hasil tangkapan nelayan dari perairan Biak. Pembagian ribuan porsi makanan secara gratis itu menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil kerja, panen, dan kekayaan alam yang selama ini menopang kehidupan warga.

Selain menghadirkan sajian kuliner khas daerah, Munara Fan Nanggi juga menjadi ruang untuk merawat tradisi, memperkuat identitas budaya masyarakat Biak, serta mempererat kebersamaan antara pemerintah, masyarakat adat, dan berbagai kalangan yang hadir dalam festival tersebut.

Dalam sambutannya, Markus mengatakan Munara Fan Nanggi merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas berkat yang diterima masyarakat Biak Numfor, termasuk hasil kerja keras petani, nelayan, dan seluruh warga yang berkontribusi dalam kehidupan sosial dan ekonomi daerah.

“Hari ini sebagai bentuk ungkap rasa syukur kita kepada Tuhan, Sang Pencipta, kita akan sama-sama mengucap syukur atas segala berkat yang telah diberikan kepada kita semua,” kata Markus.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak boleh dipandang hanya sebagai hiburan atau agenda seremonial. Lebih dari itu, Munara Fan Nanggi memiliki makna budaya dan sosial yang penting karena mengingatkan masyarakat untuk menghargai hasil kerja serta menjaga hubungan dengan alam yang menjadi sumber kehidupan.

Ia menilai hasil pertanian, perikanan, dan berbagai produk pangan lokal merupakan kekayaan yang perlu dikelola dan dimanfaatkan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, melalui kegiatan Pesona Kuliner, pemerintah daerah ingin memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal sekaligus menikmati hasil pangan lokal Biak Numfor.

Markus menjelaskan, penyelenggaraan Festival Budaya Biak-Melanesia, termasuk Munara Fan Nanggi, berangkat dari usul dan saran para tetua adat agar masyarakat Biak tetap menjaga adat istiadat serta mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya.

Menurut dia, keterlibatan tokoh adat dan budayawan menjadi bagian penting dalam memastikan tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Ia menyebut pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai momentum bersejarah bagi masyarakat Biak untuk memperkuat komitmen dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas.

“Hari ini sebuah momentum bersejarah kembali sama-sama kita yang ada di Biak mengukirnya,” ujarnya.

Markus berharap masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam kegiatan kebudayaan, tetapi turut mengambil bagian dalam melestarikan nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur.

Ia menilai kebudayaan merupakan fondasi penting dalam membangun karakter masyarakat, memperkuat persatuan, dan menjaga keberlanjutan identitas Biak sebagai bagian dari rumpun Melanesia.

Melalui rangkaian festival tersebut, pemerintah daerah juga berharap kekayaan budaya Biak semakin dikenal oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

Di tengah kemeriahan kegiatan, Markus mengajak masyarakat menikmati aneka hidangan yang disiapkan panitia. Ia menegaskan bahwa sajian kuliner dalam kegiatan tersebut mengutamakan bahan pangan lokal Biak Numfor, termasuk ikan hasil tangkapan nelayan setempat.

Menurutnya, penggunaan hasil pangan lokal merupakan bentuk penghargaan terhadap kerja keras masyarakat, terutama petani dan nelayan yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi daerah.

Ia juga ingin menunjukkan bahwa Biak Numfor memiliki potensi pangan dan hasil laut yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik tersendiri dalam kegiatan pariwisata berbasis budaya.

Kegiatan yang membagikan 14.200 porsi kuliner secara gratis itu sekaligus memperlihatkan potensi kolaborasi antara sektor kebudayaan, perikanan, pertanian, dan pariwisata.

Jika dikembangkan secara berkelanjutan, kegiatan semacam ini berpeluang membuka ruang promosi bagi produk lokal sekaligus memperluas kesempatan ekonomi bagi masyarakat.

Bagi pelaku usaha dan produsen pangan lokal, festival budaya dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan hasil produksi mereka kepada pengunjung. Sementara itu, bagi masyarakat, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk merayakan kekayaan daerah dalam suasana kebersamaan.

Nuansa tradisi semakin terasa melalui penampilan prosesi ritual Munara Fan Nanggi yang dibawakan Grup Tari Roriku dari Kampung Opiaref, Bakribo, dan Yensama, Distrik Oridek.

Pertunjukan tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan karena menghadirkan unsur ritual dan ekspresi seni tradisional yang berkaitan dengan identitas masyarakat Biak.

Kehadiran budayawan dan tetua adat juga memperkuat makna penyelenggaraan Munara Fan Nanggi sebagai ruang untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Rangkaian kegiatan itu tidak hanya menampilkan seni pertunjukan, tetapi juga mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya menghormati adat dan menjaga warisan leluhur.

Dalam konteks Festival Budaya Biak-Melanesia 2026, pelaksanaan ritual adat dan penyajian kuliner lokal menjadi dua unsur yang saling melengkapi. Keduanya memperlihatkan hubungan antara kebudayaan, alam, dan kehidupan masyarakat Biak.

Melalui perpaduan tersebut, Munara Fan Nanggi diharapkan menjadi agenda budaya yang mampu menarik perhatian pengunjung sekaligus memberikan pemahaman lebih luas mengenai tradisi masyarakat setempat.

Kegiatan Munara Fan Nanggi dan Pesona Kuliner turut dihadiri sejumlah tamu undangan dari berbagai kalangan, mulai dari perwakilan DPD RI, DPR RI, DPR Provinsi Papua, pimpinan dan anggota DPRK Biak Numfor, hingga kepala daerah dari Kabupaten Mamberamo Raya dan Kabupaten Kepulauan Yapen.

Hadir pula mitra dari Australia, sejumlah duta besar negara tetangga, serta wisatawan mancanegara yang turut menyaksikan rangkaian kegiatan budaya tersebut.

Kehadiran para tamu dari dalam dan luar negeri menjadi kesempatan bagi Kabupaten Biak Numfor untuk memperkenalkan kekayaan tradisi, potensi kuliner, dan daya tarik pariwisatanya.

Markus menyambut kehadiran seluruh tamu dan berharap interaksi yang terbangun melalui festival dapat memperluas hubungan serta membuka peluang kerja sama dalam pengembangan kebudayaan dan pariwisata.

Menurutnya, kegiatan budaya seperti Munara Fan Nanggi perlu terus dirawat agar dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Biak sebagai salah satu tujuan wisata budaya di kawasan timur Indonesia dan Pasifik.

Menutup sambutannya, Markus berharap seluruh rangkaian prosesi Munara Fan Nanggi dan Pesona Kuliner dapat berlangsung dengan baik, tertib, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia juga membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik dan saran apabila terdapat kekurangan dalam penyelenggaraan kegiatan. Namun, ia mengingatkan agar setiap masukan disampaikan secara santun dan bertanggung jawab.

Menurut Markus, sikap santun dan beradab merupakan nilai yang perlu terus dijaga sebagai bagian dari karakter masyarakat Biak.

“Kita tunjukkan orang Biak adalah orang yang santun, orang Biak adalah bangsa yang beradab, dan bertanggung jawab terhadap dirinya serta keturunannya ke depan,” ujarnya.

Ia berharap semangat kebersamaan yang tercermin dalam pembagian ribuan porsi kuliner, pelaksanaan ritual adat, dan pertemuan berbagai kalangan dalam festival dapat terus dipelihara.

Melalui Munara Fan Nanggi dan Pesona Kuliner, Pemerintah Kabupaten Biak Numfor berharap pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan promosi pangan lokal, pengembangan pariwisata, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dengan demikian, festival tidak hanya menjadi perayaan budaya tahunan, tetapi juga momentum untuk memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap identitas Biak serta mendorong potensi lokal menjadi kekuatan pembangunan daerah.

(Kwa)