Orgenes Kawai: Kemenangan BTM Hanya Tertunda, PSU Adalah Momentum Kembalikan Mandat Rakyat

Ketua DAS Sentani, Orgenes Kawai saat bersalaman dengan BTM (foto Arche/Teraspapua.com)

Sentani, Teraspapua.com – Ketua Dewan Adat Suku Sentani (DASS), Orgenes Kawai, menegaskan bahwa Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Papua pada 6 Agustus 2025 bukan
sekadar ajang politik biasa.

Dalam acara peresmian Obhe Yahim, rumah adat Kampung Yahim, sebagai sekretariat tim pemenangan pasangan Benhur Tomi Mano dan Constant Karma (BTM-CK), Orgenes menyerukan bahwa perjuangan ini adalah soal harga diri dan kedaulatan anak adat Tabi dan Saireri.

“Hari ini Obhe ini dihiasi dengan budaya. Rumah adat ini bukan sekadar simbol, tapi telah menjadi pusat gerakan perjuangan politik untuk memenangkan anak negeri sendiri,” ujar Orgenes saat memberikan sambutan di Sentani, Senin (17/6/2025).

Orgenes mengingatkan seluruh tim kerja dan masyarakat bahwa waktu menuju PSU tinggal 1 bulan. Oleh karena itu, ia meminta komitmen penuh untuk memenangkan pasangan calon nomor urut 1, BTM-CK.

“Ini bukan sekadar seremoni. Kita sedang berada dalam perjuangan politik besar, di mana satu pilihan bisa mengubah arah sejarah. Lima menit di bilik suara bisa menentukan lima tahun ke depan,” ujarnya.

Orgenes menegaskan bahwa dukungan kepada BTM-CK harus datang dari kesadaran kolektif sebagai anak negeri yang ingin membangun tanahnya sendiri. Ia mengajak masyarakat untuk tidak tergoda oleh iming-iming kekuasaan atau materi.

Dalam orasinya, Orgenes juga menyinggung pembagian wilayah Papua menjadi enam provinsi. Menurutnya, kondisi ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat posisi anak adat dalam kepemimpinan di daerah masing-masing.

“Dulu kita satu provinsi. Sekarang sudah enam. Kue pembangunan sudah dibagi. Maka, yang berhak menikmati bagian untuk Tabi dan Saireri adalah kita sendiri, bukan orang dari luar yang datang hanya untuk ikut makan hasilnya,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pasangan BTM-CK sudah beberapa kali hadir di Kabupaten Jayapura, terutama di wilayah Sentani Timur, Sentani Tengah, dan Waibu, sebagai bentuk komitmen kepada rakyat.

Orgenes menyebut bahwa saat ini sangat minim keterwakilan orang Sentani dalam struktur pemerintahan provinsi Papua, kecuali di DPRP yang hanya memiliki sembilan orang dari Sentani.

Orgenes menilai kemenangan BTM dalam pemilihan sebelumnya hanyalah kemenangan yang tertunda. PSU menjadi momen untuk mengembalikan mandat rakyat.

“Tanggal 6 Agustus nanti, pilihan kita hanya satu: paslon nomor urut 1. Ini adalah perjuangan untuk mengembalikan kemenangan yang Tuhan telah berikan, tapi ditunda oleh dinamika politik,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar semua relawan dan tim pemenangan benar-benar menjadikan Obhe Yahim sebagai pusat pergerakan, bukan hanya simbol adat semata.

Di akhir pidatonya, kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mengajak masyarakat untuk tidak memilih pemimpin karena uang atau janji kosong.

“Kalau hari ini kita pilih pemimpin karena uang, maka kita menjual masa depan anak cucu kita. Tapi kalau kita pilih anak negeri sendiri, kita sedang menciptakan sejarah baru untuk tanah Papua,” tegas Orgenes.

Menurutnya, Benhur Tomi Mano dan Constant Karma adalah dua figur penting yang bisa menciptakan arah baru bagi Papua, khususnya wilayah adat Tabi dan Saireri.

“Kalau mau jadi pemimpin, maka harus berjuang di atas tanah ini, bukan datang mendadak dan ingin duduk di atas,” pungkasnya.

(Hr/Rck)