BTM: Papua Tak Boleh Terus Jadi Panggung Pertarungan Kepentingan

Tokoh politik Papua, Mantan Wali Kota Jayapura dua Periode Benhur Tomi Mano (foto Arche/Teraspapua.com)

Jayapura, Teraspapua.com – Di tengah dinamika isu yang kembali menghangat di Papua dalam beberapa hari terakhir, seorang tokoh Papua yang dikenal dengan inisial BTM menyampaikan seruan reflektif yang menekankan pentingnya kemanusiaan, dialog, dan penghormatan terhadap martabat orang asli Papua.

Dalam pidato pembukaannya, BTM mengawali dengan salam lintas agama sebagai simbol persaudaraan, sebelum menegaskan posisinya bukan semata sebagai tokoh politik, melainkan sebagai anak Papua yang lahir, tumbuh, dan menyaksikan langsung perjalanan panjang tanah ini di antara harapan dan luka.

“Papua kembali ramai dibicarakan. Ada yang marah, tersinggung, merasa dibela, bahkan dipermalukan. Tetapi yang paling penting bukan siapa yang paling keras berbicara, melainkan apakah kita masih mau mendengar jeritan kecil rakyat di kampung-kampung,” ujarnya.

Ia menyoroti bahwa perhatian terhadap Papua kerap muncul hanya saat konflik mencuat, sementara realitas keseharian masyarakat sering terabaikan. Menurutnya, di balik hiruk-pikuk perdebatan, terdapat kebutuhan mendasar yang sederhana namun krusial.

“Ada mama-mama Papua yang hanya ingin anaknya sekolah dengan tenang. Ada anak muda yang ingin bekerja tanpa kehilangan identitasnya. Ada masyarakat adat yang ingin tanah leluhurnya dihormati,” kata dia.

BTM menilai Papua tidak boleh terus dijadikan panggung pertarungan kepentingan, sementara masyarakat kecil hanya menjadi penonton yang menanti keadilan dan ketenangan hidup. Ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan politik seharusnya tidak menghilangkan rasa hormat terhadap manusia Papua itu sendiri.

“Papua bukan tanah kosong. Papua punya jiwa, sejarah, adat, dan harga diri,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa pembangunan di Papua tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur fisik. Menurutnya, pembangunan sejati juga harus menyentuh aspek kepercayaan, keadilan, dan kemanusiaan.

“Tidak cukup hanya membangun jalan, tetapi juga membangun rasa percaya. Tidak cukup hanya menghadirkan proyek, tetapi juga menghadirkan keadilan. Tidak cukup hanya bicara keamanan, tetapi juga bicara kemanusiaan,” ujarnya.

Di akhir pidatonya, BTM mengajak seluruh pihak untuk tidak terjebak dalam kemarahan yang berlarut-larut. Ia mendorong agar momentum yang ada dimanfaatkan untuk membuka ruang dialog yang lebih jujur, damai, dan bermartabat.

Menurutnya, masa depan Papua tidak boleh diwariskan dalam bentuk trauma kepada generasi berikutnya, melainkan dalam bentuk harapan, persaudaraan, dan martabat yang tetap terjaga.

“Kita ingin mewariskan Papua yang berdiri tegak dengan martabatnya,” tutupnya.

(arc/rck)