Jayapura, Teraspapua.com – Tekad membawa pulang trofi Soekarno Cup 2026 dari Surabaya ke tanah Papua ditegaskan Ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Papua, Benhur Tomi Mano. Komitmen itu disampaikannya saat mendampingi Ketua Panitia Nasional Soekarno Cup 2026 dari DPP PDIP, Komarudin Watubun, meninjau langsung proses seleksi pemain di Jayapura, Jumat (30/4/2026).
Peninjauan dilakukan di lapangan sepak bola Universitas Ottow Geissler, yang menjadi pusat penjaringan talenta muda Papua. Seleksi ini merupakan bagian dari persiapan menghadapi turnamen Soekarno Cup U-17 tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026 di Jawa Timur.
“Saya sudah bertekad dalam berbagai pertemuan, Papua Raya harus siap membawa pulang piala Soekarno Cup dari Surabaya ke Papua,” kata Benhur Tomi Mano.
Turnamen Soekarno Cup tahun ini menjadi edisi ketiga, dengan diikuti 16 DPD dari seluruh Indonesia yang telah mendaftarkan diri. Papua Raya menjadi salah satu peserta, dengan komposisi pemain yang direkrut dari wilayah Papua, Papua Selatan, hingga Papua Pegunungan.
Menurut Benhur Tomi Mano, persiapan tim telah dilakukan secara intensif selama satu bulan terakhir. Proses seleksi dilakukan berlapis, mulai dari penjaringan pemain di tingkat kampung hingga pertandingan uji antarwilayah untuk melihat kemampuan teknis dan mental para pemain.
“Hari ini kita undang anak-anak dari kampung-kampung untuk bertanding. Pelatih terus melakukan seleksi hingga nantinya kita mendapatkan 23 pemain inti,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tim yang terbentuk nantinya tidak langsung diberangkatkan ke arena pertandingan. Sebaliknya, skuad Papua Raya akan lebih dulu menjalani pemusatan latihan di Surabaya selama dua pekan sebelum turnamen dimulai, termasuk melakoni uji tanding melawan tim-tim lokal.
Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kesiapan tim menghadapi persaingan ketat di tingkat nasional. Terlebih, tuan rumah Jawa Timur dikenal memiliki sistem pembinaan yang lebih matang dan kompetitif.
“Dua minggu sebelum kick-off, tim sudah harus ada di Surabaya untuk uji tanding. Ini bagian dari strategi kita agar anak-anak lebih siap,” kata Benhur.
Ia juga memastikan, seluruh kebutuhan selama di Surabaya mulai dari transportasi, konsumsi, hingga fasilitas latihan—akan ditanggung oleh panitia tuan rumah. Hal ini memberi ruang bagi tim Papua untuk fokus penuh pada persiapan teknis.
Dalam proses seleksi, pemain yang dijaring merupakan kelompok usia 17 tahun. Sebagian besar berasal dari sekolah sepak bola (SSB), namun ada juga yang direkrut dari kompetisi lokal seperti Liga 4, termasuk dari wilayah pegunungan Papua.
Menariknya, tim juga diperkuat sejumlah pemain yang memiliki pengalaman lebih matang meski masih dalam batas usia, guna menambah keseimbangan skuad.
Seleksi difokuskan pada pemain dari sejumlah daerah, seperti Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura, dan Kabupaten Keerom. Dari proses ini, tim pelatih akan menyaring pemain terbaik yang dinilai layak memperkuat skuad Papua Raya di pentas nasional.
“Kami sudah punya perangkat tim pelatih yang bekerja melakukan seleksi. Targetnya jelas, membentuk tim yang solid dan kompetitif,” ujarnya.
Dengan persiapan yang terus dimatangkan, Papua Raya kini memasang ambisi besar untuk tidak sekadar berpartisipasi, tetapi juga menjadi penantang serius dalam perebutan gelar Soekarno Cup 2026.
Tekad itu sekaligus menjadi simbol kebangkitan sepak bola Papua di level usia muda sebuah langkah awal untuk kembali menegaskan posisi Papua sebagai salah satu lumbung talenta sepak bola nasional.
(har)















