Jayapura, Teraspapua.com – Setelah menapaki perjalanan panjang selama satu dekade di industri musik, musisi asal Papua, Sonya Bara, akhirnya merilis album perdananya bertajuk Teweraut.
Album ini bukan sekadar kumpulan lagu, tetapi menjadi refleksi perjalanan, pergulatan, sekaligus identitasnya sebagai perempuan Papua yang terus bertahan dan berkembang di dunia musik Indonesia.
Album Teweraut diluncurkan bersamaan dengan konser tunggal perdana bertajuk One Decade Live Concert yang digelar di MaxOne Hotel Jayapura, Jumat (9/5/2026). Momen ini menjadi tonggak penting dalam karier Sonya, sekaligus perayaan atas dedikasinya selama 10 tahun berkarya.
Album tersebut memuat 12 lagu, terdiri dari 11 lagu berbahasa Inggris dan satu lagu yang memadukan bahasa Inggris dengan bahasa Asmat sebuah pendekatan musikal yang menegaskan akar budaya Papua dalam karya-karyanya.
“Puji Tuhan, ini album pertama saya. Saya ambil nama Temaraut dari bahasa Asmat yang artinya perempuan yang kuat dan tangguh,” ujar Sonya menjelang konser.
Nama Teweraut dipilih bukan tanpa makna. Bagi Sonya, kata tersebut mencerminkan perjalanan hidupnya sebagai perempuan yang terus bertahan, bertumbuh, dan melangkah di tengah berbagai tantangan industri musik.
Di balik album ini, tersimpan proses kreatif yang panjang dan penuh dinamika. Sonya mengungkapkan bahwa setiap lagu memiliki waktu penciptaan yang berbeda, mulai dari satu hingga lima tahun.
“Prosesnya panjang. Ada lagu yang saya tulis satu tahun, dua tahun, bahkan sampai lima tahun. Lirik dan aransemen terus saya ubah sampai akhirnya menjadi satu album yang utuh,” katanya.
Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Ia mengaku sempat mengalami keraguan, revisi berulang, hingga proses pencarian jati diri musikal. Namun justru dari fase itulah lahir karya yang matang dan personal.
Dalam konser peluncuran, Sonya membawakan sejumlah lagu dari album tersebut, termasuk dua lagu andalan berjudul Somebody dan Ulala, yang langsung mendapat sambutan hangat dari para penonton.
Meski mayoritas lagu dalam album ini menggunakan bahasa Inggris, Sonya tetap menyisipkan identitas lokal Papua. Salah satunya melalui lagu yang menggabungkan bahasa Inggris dan bahasa Asmat, sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya asalnya.
Bagi Sonya, musik bukan hanya soal melodi, tetapi juga medium untuk menyampaikan jati diri.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin sekadar mengikuti tren, melainkan menghadirkan karya yang otentik dan memiliki karakter kuat.
“Saya ingin anak-anak Papua, khususnya perempuan, tidak hanya ikut-ikutan. Tapi bagaimana mereka bisa jadi diri sendiri dan menciptakan sesuatu yang punya ciri khas,” ujarnya.
Lebih dari sekadar peluncuran album, konser Teweraut menjadi ruang inspirasi bagi generasi muda Papua. Sonya berharap kehadirannya di industri musik dapat membuka jalan bagi lebih banyak perempuan Papua untuk berani berkarya.
“Lewat konser dan album ini, saya ingin membangun semangat perempuan Papua agar lebih percaya diri dan terus berkarya,” katanya.
Makna Teweraut sebagai “perempuan yang kuat dan tangguh” pun menjadi pesan utama yang ingin ia sampaikan kepada publik.
Kesuksesan konser ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. CEO Bacakar Manajemen, Eko T.J, menyebut konser ini sebagai bentuk apresiasi atas perjalanan panjang Sonya di industri musik.
“Kami melihat Sonya sudah berkarya cukup lama, bahkan sempat berkiprah di luar negeri. Ini momentum yang tepat untuk merayakan pencapaian tersebut,” ujarnya.
Konser ini dikemas sebagai mini konser eksklusif, namun memiliki makna besar sebagai penanda tonggak baru bagi musisi perempuan Papua.
Sementara itu, perwakilan manajemen kreatif, Stenli, turut mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk PT Freeport Indonesia, pelaku industri kreatif, serta instansi pemerintah yang berperan dalam mendukung perkembangan talenta muda Papua.
Menurutnya, konser Teweraut menjadi salah satu momen penting dalam perkembangan musik Papua, terutama karena masih minimnya musisi perempuan yang merilis album dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini bisa menjadi inspirasi. Harapannya ke depan akan muncul lebih banyak talenta baru dari Papua,” ujarnya.
Di tengah gemuruh tepuk tangan malam itu, Teweraut hadir bukan hanya sebagai karya musik, tetapi juga simbol keberanian, ketekunan, dan harapan.
Sebuah pesan kuat dari timur Indonesia bahwa suara perempuan Papua terus tumbuh, menguat, dan siap menembus panggung yang lebih luas.
(Veb)











