Mahasiswa Uncen Kembangkan “Holy BananaMoly”, Inovasi Kuliner Pisang Lokal Tembus Pasar Sejak Hari Pertama

Jayapura, Teraspapua.com – Inovasi berbasis pangan lokal  lahir dari Sekelompok mahasiswa Semester IV Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih (Uncen), berhasil membangun usaha kuliner kreatif bertajuk “Holy BananaMoly” yang langsung mendapat respons positif dari pasar pada hari perdana penjualannya.

Inisiatif ini berangkat dari program mata kuliah Komunikasi dan Presentasi Bisnis, yang kemudian berkembang menjadi peluang usaha nyata. Tim ini diketuai oleh Djastin Bintang Gabriel bersama sejumlah anggota, yakni Wandes Michael Demeiro Sibarani, Junita Margaretha Pattiheuwean, Virginia M. Taime, Milyan Linggi, dan Maria Novi Arianti.

Dengan memanfaatkan pisang sebagai bahan pangan lokal yang mudah ditemukan di Papua, tim ini mengolahnya menjadi produk bernilai jual tinggi. Produk unggulan mereka, yang diberi nama “Banban”, merupakan olahan kue pisang cokelat yang dipadukan dengan topping es krim vanila dan saus karamel, dan dipasarkan dengan harga Rp25.000 per porsi.

Penjualan perdana yang dilaksanakan pada 4 Maret 2026 di kontainer booth Jurusan Akuntansi Uncen mendapat sambutan hangat dari konsumen. Pada hari pertama tersebut, tim berhasil mencatatkan total penjualan sebesar Rp680.000, capaian yang melampaui ekspektasi awal.

“Kami tidak menyangka akan mendapat penjualan sebesar itu pada hari pertama. Banyak pembeli yang memuji rasa dan penyajiannya, bahkan ada yang mengatakan harga kami seharusnya bisa lebih tinggi,” ujar Djastin Bintang Gabriel.

Tidak hanya berfokus pada inovasi produk, tim “Holy BananaMoly” juga menunjukkan komitmen terhadap pemberdayaan ekonomi lokal. Dalam proses produksinya, mereka secara sadar memilih membeli bahan baku pisang dari pedagang mama-mama Orang Asli Papua (OAP) di Pasar Youtefa. Langkah ini menjadi bentuk nyata dukungan terhadap pelaku usaha lokal sekaligus upaya mendorong perputaran ekonomi masyarakat asli Papua.

Meski berangkat dari keterbatasan modal dan peralatan dengan memanfaatkan oven serta perlengkapan dapur milik pribadi tim ini mampu menghadirkan produk yang kompetitif di pasar. Kekompakan tim dan kreativitas menjadi kunci dalam mengembangkan usaha tersebut.

Dosen pengampu mata kuliah, Kurniawan Patma dan Maylen Kathrin Petra Kambuaya, menilai kegiatan ini sebagai sarana efektif dalam mendorong kreativitas, kemandirian, serta kemampuan mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu secara langsung. Selain itu, kegiatan ini juga dinilai mampu menumbuhkan jiwa kewirausahaan sekaligus memperkenalkan kembali potensi pangan lokal kepada masyarakat luas.

Inisiatif ini menjadi refleksi atas besarnya potensi pangan lokal Papua yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Melalui inovasi pada rasa, tampilan, dan penyajian, “Holy BananaMoly” menghadirkan pendekatan baru yang relevan dengan selera generasi muda tanpa menghilangkan identitas produk lokal.

Ke depan, tim berharap pengalaman ini dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk berani memulai usaha mandiri berbasis potensi lokal, sekaligus memperkuat posisi pangan tradisional sebagai bagian dari identitas budaya yang bernilai ekonomi tinggi.

(veb)