Jayapura, Teraspapua.com – Di tengah hamparan kekayaan alam Papua yang melimpah, sekelompok anak muda memilih melihat lebih jauh dari sekadar hasil bumi. Mereka tidak hanya memanen, tetapi juga mengolah pisang, memberi nilai, dan menghadirkan harapan baru dari sesuatu yang sederhana.
Di Kota Jayapura, sekelompok mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih membuktikan bahwa kreativitas dapat tumbuh dari ruang-ruang belajar. Mereka menamai diri Timure Cendrawasih, sebuah kelompok kecil dengan gagasan besar mengangkat potensi lokal menjadi peluang usaha melalui produk banana crispy.
Kelompok ini terdiri dari Selvi Nur Afifah, Magdalena Paskalin Sisindey Yowei, Vania Cherlia Monei, Gunsales Doromi, dan Rina Kasipdana. Di bawah bimbingan Maylen Kathrin Petra Kambuaya dan Kurniawan Patma, mereka menjalankan sebuah proyek yang awalnya hanyalah bagian dari tugas mata kuliah Komunikasi dan Presentasi Bisnis.

Namun, seperti banyak cerita inovasi lainnya, ide sederhana itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.
Bagi sebagian mahasiswa, tugas kuliah mungkin berhenti pada presentasi di ruang kelas. Tetapi bagi Timure Cendrawasih, tugas ini menjadi pintu masuk untuk memahami dunia usaha secara nyata.
Maret 2026 menjadi awal perjalanan mereka. Di tengah rutinitas perkuliahan, mereka mulai merancang ide, membagi peran, hingga turun langsung ke proses produksi. Pisang bahan yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Papua dipilih bukan tanpa alasan. Selain mudah ditemukan, pisang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Dari dapur sederhana, mereka memulai proses produksi. Pisang dikupas, diiris tipis, digoreng dengan teknik khusus hingga menghasilkan tekstur renyah, lalu dikemas dengan tampilan yang menarik. Setiap tahap dikerjakan bersama, dengan pembagian tugas yang terstruktur.
Bagi mereka, ini bukan sekadar membuat camilan, tetapi belajar membangun usaha dari nol.
Lebih dari sekadar produk, pengalaman yang mereka dapatkan menjadi inti dari perjalanan ini. Mereka belajar bagaimana mengelola waktu, bekerja dalam tim, hingga menghadapi tantangan produksi dan pemasaran.
Kerja sama menjadi kunci utama. Setiap anggota memiliki peran dan tanggung jawab, menciptakan koordinasi yang solid dalam setiap tahap. Dari proses ini, lahir tidak hanya produk, tetapi juga karakter disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi.
“Ini pengalaman yang sangat berharga, karena kami belajar langsung bagaimana membangun usaha, bukan hanya teori,” menjadi semangat yang dirasakan oleh seluruh anggota tim.
Papua selama ini dikenal kaya akan sumber daya alam, namun tidak semua potensi tersebut diolah secara maksimal. Melalui banana crispy, Timure Cendrawasih mencoba menghadirkan pendekatan baru: sederhana, tetapi relevan dengan selera masa kini.
Produk yang mereka hasilkan mendapat respons positif, baik dari dosen pembimbing maupun masyarakat yang mencicipi. Rasa yang khas, tekstur yang renyah, serta kemasan yang menarik menjadi daya tarik tersendiri. Beberapa konsumen bahkan menyatakan minat untuk membeli kembali.
Lebih dari itu, kehadiran produk ini ikut memperkenalkan kembali potensi pangan lokal kepada masyarakat, sekaligus membuka peluang ekonomi baru, meski dalam skala kecil.
Menurut Kurniawan Patma dan Maylen Kathrin Petra Kambuaya, kegiatan seperti ini menjadi metode pembelajaran yang efektif. Mahasiswa tidak hanya memahami konsep bisnis, tetapi juga mengaplikasikannya secara langsung di lapangan.

Evaluasi yang diberikan pun tidak berhenti pada hasil penjualan, tetapi pada proses pembelajaran yang terjadi. Kegiatan ini dinilai mampu menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan.
Bagi Timure Cendrawasih, perjalanan ini belum berakhir. Justru, ini adalah langkah awal. Mereka berharap dapat terus mengembangkan produk, menjaga kualitas, dan mungkin suatu hari membawa usaha kecil ini menjadi lebih besar.
Kisah Timure Cendrawasih adalah potret kecil dari potensi besar yang dimiliki generasi muda Papua. Di tengah keterbatasan, mereka memilih untuk berinovasi. Di tengah kesederhanaan, mereka menemukan peluang.
Banana crispy yang mereka hasilkan mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya, ada proses belajar, kerja keras, dan semangat untuk menciptakan sesuatu yang bernilai.
Pada akhirnya, inovasi tidak selalu lahir dari teknologi canggih. Terkadang, ia tumbuh dari hal-hal sederhana dari dapur kecil, dari kerja tim, dan dari keberanian untuk memulai.
(veb)








