HLM TPID, Wali Kota : Tugas Pemerintah Jaga Ketersediaan Pangan dan Kestabilan Harga

Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano saat memimpin HLM TPID, di Swiss-Belhotel, Senin (19/4/2021)

Jayapura, Teraspapua.com – Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano pimpin High  Level Meeting (HLM)  Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), di Swiss-Belhotel, Senin (19/4/2021).

Bersamaan juga dilakukan pengukuhan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah Kota Jayapura

Wali Kota Benhur Tomi Mano yang juga Ketua TPID mengatakan, tugas pemerintah adalah menjaga ketersediaan pangan dan kestabilan harga 9 bahan pokok.

“Itu tugas kita dan jangan lalai. Kalau harga tinggi apa yang kita buat bagi masyarakat. Itu tugas kita yang harus dipahami bersama. Sebaliknya jangan fokus pada tugas dan tugas pokok dan fungsi masing-masing,” kata Wali Kota Tomi Mano.

Wali Kota Tomi Mano juga mengungkapkan, ekonomi itu akan baik tentu ditunjang dari sisi keamanan. Jika tidak, maka tentu para investor yang akan menanam investasi pun ragu-ragu.

“Yang terpenting harus ada komunikasi dan koordinasi kerja. Apalagi di saat bulan suci Ramadhan ini kita harus memantau takjil takjil yang dijual oleh masyarakat, apakah layak dikonsumsi oleh umat muslim atau tidak,” ujarnya.

Saat memberikan gambaran umum tentang perekonomian di Kota Jayapura, Wali Kota mengingatkan, daya saing kota Jayapura yang dominan adalah sektor Jasa dan Perdagangan.

Ibu Kota Provinsi Papua ini tidak punya hutan yang luas seperti Merauke, tidak punya tambang seperti Timika, tapi kita hanya bergerak di sektor jasa dan perdagangan.

Dengan hanya mengandalkan dua sektor itu, ungkap Wali Kota, Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebelum Covid-19, Rp250 Miliar, sesudah Covid maka turun menjadi Rp150 Miliar.

“Memang anjlok dari sisi pendapatan dan sangat mengganggu ekonomi kota. Selain itu APBD sebelum Covid, Rp1,3 Triliun sekarang turun menjadi Rp1,2 triliun,” ungkapnya.

Hal ini lanjut Wali Kota, dari laju pertumbuhan ekonomi kota Jayapura pada tahun 2019 ini memiliki tren positif yaitu 5, 13% namun pada tahun 2020 menjadi negatif 1, 67%. Hal ini disebabkan karena pandemi Covid.

Kamudian, turun juga jasa layanan transportasi, pergudangan, penyediaan akomodasi dan juga makan minum, jasa perusahaan dan juga jasa keuangan dan asuransi dan jasa-jasa lainnya.

“Kalau kita lihat berbanding terbalik dengan nilai investasi penanaman modal dalam negeri yang jauh melebihi target, hanya Rp. 4,758 Miliar yaitu sebesar Rp. 1,361 Triliun dari nilai investasi penanaman modal asing yaitu sebesar Rp. 64,05 Miliar,” rincinya.

Sedangkan sambung Wali Kota Tomi Mano, iklim investasi di kota Jayapura, kita telah menerapkan sistem Online System Submission (OSS), untuk Wali Kota minta harus jalan, Karen diamati OSS ini belum jalan.

Untuk itu, Kepala DPMPTSP di minta perhatikan OSS dan harus conek dengan Dinas Pariwisata, Bapenda. Ini kita mengalami penurunan, untuk – urusan urusan izin berusaha secara online.

“Bisa memfasilitasi pelaku usaha untuk terhubung dengan semua stakeholder dan juga memperoleh ijin – secara aman dan cepat dan real time,” harapnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, perkembangan Inflasi kota Jayapura pada tahun 2019 adalah 0,60 %, dalam kepemimpinan say berbagai upaya dilakukan untuk mengendalikannya di wilayah kota Jayapura.

Saya melakukan monitoring harga bahan pokok di wilayah Kota Jayapura. Juga kita melakukan rapat koordinasi, serta laporan triwulan, penyerahan laporan kinerja pengendalian setiap tahun ke Kemenko Republik Indonesia.

“Atas berbagai upaya tersebut, akhirnya Kota Jayapura meraih penghargaan TPID atas kinerja pengendalian inflasi terbaik wilayah Nusa Tenggara, Maluku dan Papua,”

Maka itu, saya minta komunikasi dan kerjasama kita untuk mempertahankan penghargaan TPID untuk wilayah Nusa Tenggara, Maluku dan Papua pada tanggal 22 Oktober 2020

Lebih jauh diuraikan Wali Kota Tomi Mano, perkembangan inflasi kota, pada tahun 2020 sebesar 0,75%. ini lebih rendah dibanding dengan inflasi provinsi Papua yaitu Papua 1,64% dan inflasi nasional 1,68%.

TPID kata Wali Kota Tomi Mano, akan melakukan sidak atau operasi pasar, pada pasar – pasar tradisional dan pasar pasar modern di wilayah Kota Jayapura menjelang bulan puasa dan juga menyambut hari raya Idul Fitri. Rencanannya pada Kamis tanggal 22 April 2021. Satgas Pangan juga diundang.

Ini kita laksanakan dengan prinsip 4K. Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi dan Komunikasi yang efektif.

“Perkembangan inflasi kota Jayapura triwulan pertama (Januari, Februari dan Maret). Bulan Januari 0,4 %. Penyumbang inflasi ini adalah ikan ekor kuning, telur ayam ras dan daging ayam. Jadi 0,42% secara bulanan dan 0,15 secara tahunan,” urai pria yang akrab di sapa BTM itu.

Kemudian lanjutnya, bulan Februari 0,7 % untuk bulanan dan 0,48 % untuk tahunan, penyumbang inflasi ikan ekor kuning, tomat dan cabe rawit.

Sedangkan untuk bulan Maret, untuk bulanan 1,07 % untuk tahunan 1,85, penyumbang inflasi, ikan ekor kuning, ikan cakalang, cabe rawit, tomat dan angkutan udara,” paparnya.

Ditempat yang sama Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Papua, Naek Tigor Sinaga mengatakan, pencapaian inflasi selama tahun 2020 terkendali dan cukup stabil. Kalau inflasi secara nasional di tahun 2020 masih di warnai oleh kelemahan perekonomian karena dampak dari pandemi Covid – 19.

“Kalau kita lihat untuk Jayapura inflasi secara tahunan itu terjadi sekitar 0,76%, masih relatif jauh di bawah nasional yang 1,68%,” ungkapya.

Sebagaimana diketahui bahwa inflasi di Jayapura tercatat 0,79% relatif tidak terlalu berfluktuasi dibandingkan inflasi yang ada di daerah tetangga kita, Merauke maupun di Mimika.

Survey berdasarkan kelompok kelompok barang yaitu makanan minuman dan tembakau yang memberikan inflasi andilnya sebesar 1,43%.

“Inflasi di Papua relatif lebih fluktuasi. Jadi kalau naik, naiknya jauh di atas nasional namun begitu juga deflasi juga lebih dalam dibandingkan nasional. Ini merupakan salah satu tantangan inflasi di Papua yang relatif lebih fluktuatif,” ujar Tigor Sinaga.

Meskipun kata Tigor, inflasi 2020 cukup terkendali, namun memang perlu dilakukan pemantauan dan pengendalian yang lebih insentif.

Menurut Tigor, inflasi Maret 2021 tertinggi, ini merupakan salah satu tantangan juga kita akan melakukan inflasi bulanan. inflasi kita tertinggi dari 90 kota inflasi pada bulan Maret kemarin, ternyata inflasi kita mencapai 1,07% pada bulan Maret.

“Bulan Maret highlight cabe rawit, ikan ekor kuning, ikan cakalang, tomat memberikan dampak inflasi yang luar biasa besarnya. Ini juga tergantung dengan cuaca gelombang laut yang tinggi sehingga hasil tangkapan nelayan berkurang,” terangnya.

Jika dibandingkan selama 38 bulan sejak Februari 2018 sampai dengan Maret 2021, kita coba jejerkan selama 38 bulan kami ambil 10 komoditas yang penyebab inflasi ternyata cabe rawit ini bisa mencapai 22 kali hampir sama dengan ikan ekor kuning.

Sementara tomat 18 kali, ikan cakalang 17 kali jadi menunjukkan bahwa frekuensinya terus menerus inflasi itu selalu dihantui oleh komoditas Ini.

Sementara di Papua frekuensinya 20 kali, seperti cabe rawit, ikan ekor kuning, tongkol, tomat, daging ayam cabe merah dan bawang merah,” pungkasnya.

(arc)