Besum, Teraspapua.com – Masyarakat dari enam distrik di Lembah Grime Nawa, Kabupaten Jayapura, Papua, menyatakan dukungan penuh kepada pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua, Benhur Tomi Mano dan Constant Karma (BTM–CK), pada Selasa (27/5/2025).
Deklarasi digelar di Lapangan Besum, Distrik Namblong, yang diawali dengan prosesi adat penyerahan jubi dan noken oleh Kepala Suku Klesi Ayahnang Hertok Samon kepada pasangan BTM–CK. Masyarakat tampak antusias, menyambut kehadiran dua tokoh yang dianggap sebagai anak asli Tabi dan Saireri.
Ketua Dewan Adat Grime Nawa, Ayahnang Zadrak Wamebu, menyatakan bahwa dukungan adat ini bukan sekadar simbolis.
“Apa yang kita lakukan hari ini adalah langkah nyata. Kami percaya BTM–CK akan melindungi tanah, manusia, dan seluruh kekayaan alam di atasnya,” tegasnya.
Menurut Zadrak, masyarakat adat selama ini merasa terpinggirkan. “Tanah, hutan, dan kekayaan ini kami yang punya, tapi sekarang seperti tak punya. Yang tak punya, justru ambil hak kami. Ini tantangan besar yang kami serahkan kepada BTM–CK,” ujarnya geram.
Ketua Adat Tabi, Yakonias Wabra, juga mengungkapkan bahwa tokoh agama dan paguyuban turut hadir dan mendukung langkah ini.
“Sebagai anak asli, BTM–CK tak perlu merebut, mereka layak menerima. Kami percaya, mereka jujur dan tulus membangun Papua,” kata Wabra.
Constant Karma, yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur Irian Jaya, mengenang masa lalunya saat bertugas sebagai dokter hewan di Grime Nawa.
“Saya pernah keliling dari kandang ke kandang, mengurus ternak rakyat. Tuhan membawa saya dari belakang rumah warga ke kursi pemerintahan,” ujarnya.
Karma menegaskan komitmennya untuk fokus pada penanggulangan AIDS dan memperkuat layanan kesehatan jika terpilih.
“Kami akan jaga nilai budaya, adat, dan kehidupan bersama. BTM dan saya bekerja dengan baik di masa lalu, kami siap lanjutkan dengan integritas,” tegasnya.
Benhur Tomi Mano (BTM), mantan Wali Kota Jayapura dua periode, menegaskan keinginannya untuk membangun Papua dari dalam, bukan sebagai orang asing.
“Saya anak negeri, bukan datang cari kekayaan. Saya hadir untuk menghapus air mata anak-anak Tabi dan Saireri,” kata BTM penuh emosi.
Menanggapi berbagai fitnah yang diarahkan padanya, BTM menyatakan tak akan terprovokasi. “Jangan hina, jangan fitnah. Sampaikan program, bukan kebencian. Kita semua ciptaan Tuhan,” katanya sambil menegaskan dirinya menolak menjadi anggota DPR RI karena ingin fokus membangun Papua.
BTM juga mengungkapkan sejumlah rencana konkret: membangun pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan ekonomi masyarakat. Ia berjanji akan memperjuangkan agar Grim Nawa bisa menjadi kabupaten sendiri.
“Jika pendidikan baik, kesehatan baik, infrastruktur memadai, ekonomi akan tumbuh. Grime bisa jadi kabupaten jika kita satu hati dan pemerintah mendukung,” ujarnya.
Dalam 100 hari kerja, salah satu program prioritas BTM–CK adalah pembentukan Provinsi Papua Utara, yang terdiri dari Biak Numfor, Supiori, Kepulauan Yapen, dan Waropen.
“Tabi juga akan berdiri sendiri dengan lima kabupaten/kota. Ini demi percepatan pelayanan masyarakat,” jelasnya.
Deklarasi ini bukan hanya momentum politik, tetapi juga pernyataan kultural dan spiritual. Sebuah harapan besar warga Grime Nawa agar pemimpin yang memahami tanah dan
rakyatnya bisa membawa perubahan nyata bagi Papua.
(HR)








