Depapre, Teraspapua.com – Calon Wakil Gubernur Papua, Constant Karma, mengajak masyarakat dari wilayah Moi – Tanah Merah untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas terselenggaranya acara deklarasi dukungan dari para Ondoafi, kepala suku, dan masyarakat adat kepada pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Benhur Tomi Mano – Constant Karma (BTM-CK).
Deklarasi ini digelar di kawasan wisata Pantai Amai, Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, Jumat (13/6/2025).
Dalam sambutannya, Constant Karma menekankan bahwa kehadiran masyarakat dalam acara tersebut bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari rencana besar Tuhan untuk membawa perubahan dan kemajuan bagi Tanah Papua.
“Kita harus bersyukur kepada Tuhan karena kita berada di sini untuk satu tujuan besar: menyatukan hati dalam dukungan, dan meneguhkan komitmen untuk membangun negeri ini melalui kepemimpinan anak-anak asli Papua,” ujar Constant Karma.
Constant Karma menegaskan bahwa semangat Undang-Undang Otonomi Khusus Jilid I telah diwujudkan melalui kebijakan bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur di Tanah Papua harus berasal dari orang asli Papua.
Kebijakan ini, menurutnya, adalah bentuk aktualisasi dari pesan yang dahulu disampaikan oleh misionaris Izaak Samuel Kijne, bahwa suatu saat anak negeri ini akan bangkit dan memimpin negerinya sendiri.
“Apa yang dikatakan oleh Izaak Samuel Kijne kini telah menjadi kenyataan. Bangsa ini bangkit dan berdiri di atas kakinya sendiri. Kita anak-anak Papua, kini menjadi pemimpin di atas tanah ini,” tegasnya.
Saat menjabat sebagai Wakil Gubernur Papua, Constant Karma turut berperan dalam proses pembentukan Provinsi Papua Barat serta tiga kabupaten baru, yaitu Supiori, Mamberamo Raya, dan Keerom.
Ia melanjutkan bahwa dalam era Otonomi Khusus Jilid II, terjadi lagi pemekaran wilayah dengan terbentuknya empat provinsi baru di Tanah Papua, sehingga kini total terdapat enam provinsi di seluruh wilayah Papua.
Constant Karma juga mengungkapkan rencana yang dikonsep oleh calon gubernur Papua, Benhur Tomi Mano untuk memekarkan wilayah adat Saireri menjadi Provinsi Papua Utara, yang mencakup Kabupaten Biak Numfor, Supiori, Kepulauan Yapen, dan Waropen.
Dengan begitu, jumlah wilayah adat dan provinsi akan genap menjadi tujuh yang memiliki provinsi dan gubernur masing-masing, sejalan dengan struktur adat yang ada di Papua.
Wilayah Adat Mamta/Tabi, Wilayah Adat Saireri, Wilayah Adat Domberai, Wilayah Adat Bomberai, Wilayah Adat Meepago, Wilayah Adat Lapago, dan Wilayah Adat Ha Anim.
“Kita ingin setiap wilayah adat memiliki provinsinya sendiri, agar anak-anak Papua punya ruang untuk memimpin di negerinya sendiri. Ini bukan hanya soal politik, ini tentang keadilan dan masa depan,” ungkapnya.
Constant Karma menekankan bahwa perubahan Papua harus dimulai dari pemimpinnya. Menurutnya, Gubernur dan Wakil Gubernur harus menjadi contoh dalam mengubah pola pikir dan kebijakan agar masyarakat juga bisa berubah ke arah yang lebih baik.
“Perubahan tidak akan terjadi jika pemimpinnya tidak berubah. Karena itu, saya dan Bapak BTM akan menjadi pelopor perubahan yang nyata bagi rakyat Papua,” tegasnya.
Dalam orasinya, Constant Karma juga menyoroti kacau-balaunya pengelolaan beasiswa bagi mahasiswa Papua di luar negeri pasca dirinya pensiun dari jabatan birokrasi. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi mahasiswa yang terpaksa tidur di perpustakaan, taman, bahkan kantor gubernur karena tidak menerima hak mereka.
“Saat saya mengurus beasiswa, tidak pernah ada masalah. Tapi sejak 2021, semua menjadi kacau. Orang tua menangis di kantor gubernur. Ini tidak boleh terjadi lagi,” tegasnya.
Ia berjanji bahwa bersama BTM, mereka akan menuntaskan persoalan beasiswa, memastikan bahwa setiap anak Papua bisa sekolah dengan baik, sebagai bagian dari investasi masa depan bangsa.
Constant Karma juga mengangkat isu kesehatan, khususnya penanggulangan HIV/AIDS, sebagai bagian penting dari program BTM-CK. Ia menceritakan pengalamannya mengikuti konferensi internasional di Amerika dan Belanda untuk memperjuangkan hak-hak kesehatan masyarakat Papua.
“Kami sudah belajar dan memahami bagaimana menangani persoalan HIV/AIDS dengan pendekatan global dan lokal. Program kami nanti akan menyentuh langsung masyarakat,” katanya.
Di akhir sambutannya, Constant Karma menyampaikan bahwa komitmen BTM-CK bukan sekadar untuk menang dalam pemilihan, tetapi untuk memastikan bahwa Papua bangkit, berdikari, dan sejahtera, dengan cara memberikan ruang kepemimpinan dan kesejahteraan bagi anak-anak negeri sendiri.
“Kami akan berjuang untuk masa depan Tanah Papua, demi rakyat, demi generasi berikutnya, dan demi menjaga warisan leluhur yang telah menitipkan negeri ini kepada kita,” pungkasnya.
Pantai Amai pada hari itu bukan sekadar saksi deklarasi politik, tetapi simbol semangat perubahan yang datang dari akar budaya dan kearifan lokal.
Dukungan dari masyarakat Moi – Tanah Merah kepada pasangan BTM-CK menjadi penegas bahwa Papua hari ini bergerak menuju masa depan yang lebih adil, berdaulat, dan sejahtera di tangan anak-anak aslinya sendiri.
(Hr/Rck)








