Pangdam Cenderawasih Dorong Pelajar dan Masyarakat Kuasai Teknik BHD untuk Selamatkan Nyawa

Jayapura, Teraspapua.com – Pangdam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI Febriel Buyung Sikumbang, S.H., M.M., mendorong pelajar, mahasiswa, dan masyarakat sipil memiliki kemampuan dasar dalam memberikan pertolongan pertama pada kondisi kegawatdaruratan.

Hal tersebut disampaikan Pangdam saat menghadiri pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Resusitasi Jantung Paru (RJP) bagi pelajar, mahasiswa, serta masyarakat sipil di Rumah Sakit TK II Marten Indey, Jayapura, Papua, Sabtu (19/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan yang membutuhkan respons cepat dan tepat sebelum korban memperoleh penanganan medis lebih lanjut.

Pelatihan diikuti siswa SMA, siswa Akper Marten Indey, serta masyarakat sipil. Peserta mendapatkan materi mengenai prinsip dasar BHD sekaligus praktik RJP sebagai salah satu bentuk pertolongan awal pada kondisi darurat.

Pangdam XVII/Cenderawasih menilai kemampuan memberikan pertolongan pertama tidak semata-mata menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan.

Menurut dia, pengetahuan dasar mengenai pertolongan pada kondisi darurat penting dimiliki masyarakat karena situasi kegawatdaruratan dapat terjadi kapan saja dan di mana saja.

Dalam kondisi tersebut, orang-orang yang berada di sekitar korban sering kali menjadi pihak pertama yang dapat memberikan bantuan sebelum tenaga medis tiba.

“Bantuan hidup dasar bukan sekadar keterampilan medis, tetapi pengetahuan kemanusiaan yang dapat dimiliki siapa saja. Ketika terjadi kondisi darurat, beberapa menit pertama sangat berarti,” kata Febriel.

Karena itu, masyarakat dinilai perlu memiliki pengetahuan sekaligus keberanian untuk memberikan pertolongan awal dengan langkah yang tepat.

“Karena itu, masyarakat perlu memiliki keberanian, pengetahuan, dan kemampuan untuk memberikan pertolongan awal dengan cara yang benar,” tegasnya.

Menurut Pangdam, kemampuan tersebut dapat menjadi bekal penting bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai kondisi darurat, terutama ketika akses terhadap layanan medis membutuhkan waktu.

Febriel juga mendorong agar edukasi mengenai BHD dan RJP terus diperluas, khususnya kepada generasi muda.

Pelajar dan mahasiswa dinilai memiliki posisi strategis karena dapat menjadi bagian dari upaya menyebarluaskan pengetahuan mengenai keselamatan dan pertolongan pertama di lingkungan sekolah, kampus, keluarga maupun masyarakat.

Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan tidak seharusnya berhenti pada peserta. Keterampilan tersebut diharapkan dapat diterapkan ketika menghadapi situasi yang membutuhkan pertolongan.

“Anak-anak muda yang hari ini belajar BHD dan RJP bukan hanya sedang belajar sebuah teknik, tetapi sedang mempersiapkan diri untuk menjadi orang yang mampu hadir ketika orang lain membutuhkan pertolongan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kemampuan memberikan pertolongan secara tepat dapat menjadi bagian dari upaya memberikan kesempatan bagi seseorang untuk bertahan sebelum mendapatkan penanganan medis.

“Satu pengetahuan yang dipraktikkan dengan benar dapat memberikan kesempatan hidup bagi seseorang,” kata Febriel.

Pelatihan BHD dan RJP tersebut tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi secara teori. Peserta juga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan teknik pertolongan secara langsung.

Pendekatan tersebut dilakukan agar peserta tidak sekadar memahami konsep, tetapi juga mengenal tahapan tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi kegawatdaruratan.

Melalui praktik, peserta diharapkan memiliki pengalaman sekaligus kepercayaan diri dalam menerapkan pengetahuan yang diperoleh di lingkungan masing-masing.

Kegiatan yang melibatkan unsur pendidikan dan masyarakat tersebut juga dinilai menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.

Pangdam mengapresiasi keterlibatan berbagai unsur dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, membangun masyarakat yang tanggap terhadap kegawatdaruratan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, tidak hanya institusi kesehatan.

Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Tri Purwanto, S.I.P., mengatakan kehadiran Pangdam dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk perhatian Kodam XVII/Cenderawasih terhadap peningkatan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat.

Menurut Tri, kemampuan dasar memberikan pertolongan pertama memiliki nilai kemanusiaan yang penting karena dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Melalui kegiatan ini, Kodam XVII/Cenderawasih ingin mendorong agar pengetahuan tentang BHD dan RJP tidak berhenti di lingkungan rumah sakit atau tenaga kesehatan saja, tetapi dapat dipahami dan dipraktikkan secara tepat oleh pelajar maupun masyarakat,” jelasnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sehingga semakin banyak masyarakat yang memiliki pengetahuan dasar mengenai pertolongan pada kondisi kegawatdaruratan.

Pengetahuan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal praktis bagi peserta sekaligus membangun kepedulian terhadap keselamatan orang lain.

Pelatihan BHD dan RJP di Rumah Sakit TK II Marten Indey menjadi salah satu upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi situasi yang membutuhkan pertolongan segera.

Kodam XVII/Cenderawasih mendorong agar pengetahuan mengenai pertolongan pertama dapat semakin dikenal di lingkungan pendidikan maupun masyarakat umum.

Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat, diharapkan respons awal terhadap kondisi kegawatdaruratan dapat dilakukan secara lebih tepat sembari menunggu penanganan dari tenaga medis.

Kegiatan tersebut sekaligus menanamkan pesan bahwa kepedulian terhadap keselamatan sesama dapat dimulai dari pengetahuan dan keterampilan sederhana yang dipelajari secara benar.

Melalui edukasi BHD dan RJP, Kodam XVII/Cenderawasih terus mendorong terbentuknya masyarakat yang lebih peduli, siap menghadapi kondisi darurat, dan memiliki kemampuan dasar untuk memberikan pertolongan kepada sesama.