Jayapura, Teraspapua.com – Badan Pengurus Persekutuan Anak Negeri Amahusu (Panama) Jayapura periode 2026–2029 resmi dilantik dalam sebuah prosesi yang berlangsung di Ruang Serbaguna Jemaat GPI Papua Bukit Zaitun, Dok VIII, Kota Jayapura, Minggu (20/9/2026).
Kepengurusan baru tersebut dinakhodai Trency Huwae sebagai ketua, yang akan menjalankan roda organisasi bersama sekretaris, bendahara, sejumlah seksi, serta anggota kepengurusan lainnya. Dalam struktur persekutuan, para sesepuh juga memiliki peran penting sebagai orang tua yang menjadi tempat meminta nasihat sekaligus menjaga nilai-nilai persaudaraan anak negeri Amahusu di Jayapura dan Papua.
Prosesi pelantikan dilakukan oleh sesepuh Amahusu, Harry Silooy. Acara diawali dengan ibadah yang dipimpin Pdt. Lisa Dona Parera, sebelum dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) kepengurusan oleh Sekretaris Panama Jayapura, Bais Rumbiak.
Dalam refleksi yang disampaikan berdasarkan 1 Korintus 15:58, Pdt. Lisa Dona Parera mengingatkan bahwa pelantikan pengurus bukan sekadar seremoni organisasi, melainkan momentum menerima panggilan untuk melayani.
Menurut dia, kekuatan sebuah persekutuan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah anggotanya. Persekutuan akan menjadi kuat ketika setiap anggota bersedia mengambil bagian, saling mendukung, menguatkan, dan bersama-sama menjalankan pelayanan.
“Pelantikan bukan sekadar perjanjian atau penetapan, tetapi panggilan untuk melayani. Persekutuan akan menjadi kuat bukan karena banyak anggota, tetapi ketika setiap orang mengambil bagian untuk saling mendukung, saling menguatkan, dan bersama-sama melayani,” kata Pdt. Lisa dalam refleksinya.
Ia juga mengingatkan pengurus yang baru dilantik agar tidak menjalankan pelayanan dengan sikap merasa paling mampu atau paling penting.
Sebaliknya, setiap pengurus diharapkan memiliki keterbukaan hati, berpegang kepada Tuhan, membangun komunikasi, berdiskusi, berdialog, serta mengedepankan kerja sama dalam menjalankan tanggung jawab organisasi.
Pdt. Lisa menilai persekutuan memiliki makna lebih luas daripada sekadar tempat berkumpul. Persekutuan menjadi ruang bagi anggota untuk saling mengenal, menguatkan, menolong, mendoakan, berbagi sukacita maupun pergumulan, serta bertumbuh bersama dalam iman.
Ketua Panama Jayapura periode 2026–2029, Trency Huwae, dalam sambutannya mengatakan pelantikan tersebut bukan hanya pergantian struktur organisasi.
Menurutnya, momentum itu merupakan bentuk kepercayaan sekaligus tanggung jawab yang harus dijalankan bersama-sama.
“Hari ini bukan hanya tentang sebuah pelantikan. Hari ini adalah tentang kepercayaan, tanggung jawab, dan panggilan untuk melayani,” ujar Trency.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Tuhan, para sesepuh, orang tua, pendeta, pengurus, panitia, serta seluruh basudara Amahusu yang telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin Panama Jayapura selama periode 2026–2029.
Trency mengaku menyadari bahwa kepercayaan tersebut bukanlah sesuatu yang ringan. Karena itu, ia menegaskan kepemimpinannya tidak akan dibangun berdasarkan siapa yang paling hebat atau paling mampu.
Sebaliknya, ia ingin kepengurusan baru menjadi ruang bagi seluruh anak negeri Amahusu untuk berjalan bersama, saling menjaga dan menopang.
“Ini bukan tentang siapa yang paling hebat, bukan tentang siapa yang paling mampu, tetapi tentang bagaimana katong samua bisa baku gandeng tangan, baku jaga, baku topang, dan berjalan bersama untuk membangun persekutuan yang lebih kuat,” katanya.
Dalam kepemimpinannya, Trency membawa visi mewujudkan Persekutuan Anak Negeri Amahusu yang kuat dalam persaudaraan, teguh dalam iman, bersatu dalam kebersamaan, serta mampu menjaga dan meneruskan nilai-nilai adat dan budaya Amahusu kepada generasi sekarang dan generasi mendatang.
Untuk mewujudkan visi tersebut, terdapat sejumlah misi yang akan dijalankan bersama pengurus dan seluruh anggota persekutuan.
Pertama, mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan antar-anak negeri Amahusu tanpa membedakan usia, latar belakang maupun keberadaan masing-masing.
Kedua, menjadikan persekutuan sebagai wadah untuk saling menopang dalam kondisi suka maupun duka. Menurut Trency, kekuatan persekutuan terletak pada persatuan dan kepedulian antarsesama.
Ketiga, menjaga nilai-nilai adat, budaya, sejarah dan identitas Amahusu agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda.
Keempat, memberikan ruang kepada anak-anak muda Amahusu untuk berkembang, berkarya, serta mengambil bagian dalam pelayanan dan berbagai kegiatan persekutuan.
“Dan yang terutama, menjadikan Tuhan Yesus sebagai dasar dalam setiap pelayanan dan setiap langkah yang katong tempuh bersama,” ujarnya.
Trency menyadari perjalanan kepengurusan selama tiga tahun ke depan tidak akan selalu berjalan sempurna. Perbedaan pendapat dan berbagai tantangan dinilai sebagai bagian dari dinamika organisasi.

Karena itu, ia mengajak seluruh anggota untuk membangun komunikasi terbuka serta menyelesaikan setiap persoalan dengan mengedepankan kasih persaudaraan.
“Pasti ada perbedaan pendapat. Pasti ada tantangan. Pasti ada saat-saat katong mungkin merasa lelah. Tetapi beta percaya, selama katong tetap duduk bersama, bicara dengan hati yang terbuka, saling menghargai, dan menjadikan kasih persaudaraan sebagai dasar, maka setiap persoalan pasti bisa katong hadapi bersama,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh anggota agar tidak ada lagi warga Amahusu yang merasa berjalan sendirian dalam menghadapi persoalan.
“Kalau ada yang susah, katong bantu. Kalau ada yang jatuh, katong angkat. Kalau ada yang berhasil, katong turut bersukacita. Kalau ada perbedaan, katong selesaikan dengan kasih,” ujar Trency.
Menurut dia, ikatan Amahusu bukan semata-mata karena kesamaan nama keluarga atau asal-usul negeri, tetapi juga karena adanya ikatan persaudaraan yang harus terus dirawat.
“Katong bukan sekadar orang-orang yang mempunyai satu nama keluarga atau berasal dari satu negeri. Katong adalah basudara. Katong adalah satu persekutuan. Katong adalah satu Amahusu,” katanya.
Trency menegaskan keberhasilan kepengurusan tidak dapat dibebankan kepada seorang ketua. Persekutuan yang kuat hanya dapat dibangun melalui keterlibatan seluruh anggota.
Karena itu, ia meminta dukungan, doa, nasihat, kritik dan masukan dari para sesepuh, orang tua, pengurus, anak-anak muda serta seluruh basudara Amahusu di Jayapura.
“Kalau beta salah, tolong tegur beta. Kalau beta kurang, tolong lengkapi beta. Kalau beta lemah, tolong kuatkan beta,” katanya.
Ia berharap periode kepengurusan 2026–2029 tidak sekadar menjadi masa administratif organisasi, tetapi menjadi momentum untuk menanam kasih, memperkuat persaudaraan dan meninggalkan sesuatu yang baik bagi generasi berikutnya.
“Beta berdiri di sini bukan sebagai ketua yang lebih tinggi dari basudara samua, tetapi sebagai orang yang dipercayakan untuk berjalan paling depan dalam pelayanan, dan tetap membutuhkan tangan basudara samua untuk berjalan bersama,” ujarnya.
Trency kemudian mengajak seluruh anak negeri Amahusu untuk bersama-sama menjaga persaudaraan.
“Mari katong berjalan bersama. Mari katong baku gandeng tangan. Mari katong baku jaga. Mari katong baku topang. Karena Amahusu adalah katong pung rumah, katong pung identitas, dan katong pung persaudaraan yang harus katong jaga bersama,” katanya.
Ia menutup sambutannya dengan seruan, “Amahusu! Baku gandeng, baku jaga, baku topang.”
Sementara itu, Ketua Panama Jayapura periode sebelumnya, Dominggus Risad Tathuhey, menyampaikan bahwa pergantian kepengurusan merupakan sesuatu yang alamiah dalam sebuah organisasi.
Menurut Dominggu, pergantian kepemimpinan menjadi bagian dari dinamika organisasi sekaligus kesempatan untuk memberikan ruang kepada generasi dan figur lain dalam melanjutkan pelayanan.
Dalam kesempatan tersebut, Dominggu menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota, pengurus, sesepuh dan orang tua Amahusu yang selama masa kepemimpinannya telah memberikan dukungan, motivasi dan kekuatan dalam menjalankan roda organisasi.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama menjalankan kepemimpinan terdapat ucapan maupun tindakan yang kurang berkenan atau menyakiti hati anggota persekutuan.
“Beta selaku ketua, atas nama pribadi, keluarga dan seluruh pengurus yang bersama-sama dengan beta menjalankan roda organisasi, mengucapkan banyak terima kasih kepada semua basudara yang selama ini menopang, memberikan kekuatan dan motivasi kepada beta,” ujarnya.
Dominggu mengatakan selama memimpin organisasi, tentu terdapat berbagai dinamika yang dihadapi, mulai dari kelebihan dan kekurangan hingga pengalaman suka dan duka.
Karena itu, ia berharap seluruh pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi kepengurusan baru.
“Sebagai manusia biasa, beta tidak luput dari banyak kekurangan dan kesalahan, bahkan kealpaan. Untuk itu, secara pribadi dan keluarga beta meminta maaf sebesar-besarnya atas semua hal yang sepanjang kepemimpinan ini boleh terjadi dalam kehidupan organisasi kita semua,” katanya.
Tatuhey kemudian menyampaikan pesan kepada kepengurusan Panama Jayapura periode 2026–2029 agar menjalankan organisasi dengan hati serta mengesampingkan ego pribadi.
Ia menegaskan Panama merupakan organisasi sosial yang dibangun atas dasar persaudaraan, sehingga pola kepemimpinannya tidak dapat disamakan dengan organisasi pemerintahan.
“Tolong bawa persekutuan ini dengan baik dan benar. Tinggalkan rasa ego masing-masing. Ini bukan organisasi pemerintahan yang hanya dari atas kemudian semua harus berjalan dan diberi upah. Ini persekutuan sosial, persekutuan yang kita bangun dan kita pimpin dengan hati,” katanya.
Dominggu juga mengingatkan seluruh pengurus agar berhati-hati dalam bertutur kata dan bertindak. Menurutnya, perkataan maupun tindakan yang dianggap sepele dapat berdampak terhadap keutuhan persekutuan apabila tidak disikapi dengan baik.
Ia meminta seluruh pengurus mengedepankan sikap sehati, sepikir dan sepenanggungan dalam menjalankan organisasi.

“Sekecil apa pun kita berkata-kata yang menyakiti orang lain, maka satu demi satu akan hilang dari persekutuan ini. Jadi, tolong tinggalkan rasa ego. Sehati berpikir, sepenanggungan,” ujarnya.
Dominggu juga mengingatkan agar setiap persoalan yang muncul di dalam persekutuan tidak dibiarkan berlarut-larut.
Menurut dia, anggota yang memiliki persoalan perlu ditemui, dirangkul dan diajak kembali untuk bersama-sama menyelesaikan masalah.
“Ketika ada yang salah, jangan dibiarkan begitu saja, tetapi ditemui lalu dirangkul kembali,” katanya.
Dengan pelantikan tersebut, kepengurusan Panama Jayapura periode 2026–2029 diharapkan dapat melanjutkan semangat persaudaraan sekaligus memperkuat persekutuan anak negeri Amahusu di Kota Jayapura.
Kepengurusan baru juga diharapkan mampu menjaga nilai-nilai iman, adat, budaya dan sejarah Amahusu serta memberikan ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk mengambil bagian dalam kehidupan persekutuan.
(Har)









