Angka Stunting di Kota Jayapura Tahun 2023 Sebanyak 2. 595 Jiwa, Sri Antari : Tidak Ada Penurunan, Tapi Naik

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Ni Nyoman Sri Antari

Jayapura, Teraspapua.com – Penanganan stunting di Kota Jayapura, Provinsi Papua masih jauh dari harapan, pasalnya di tahun 2023 angka stunting mencapai 2. 595 ribu jiwa.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Ni Nyoman Sri Antari menyebutkan, tahun 2023 tidak ada penurunan angka stunting di Kota Jayapura, mala naik.

Untuk penanganan stunting tahun 2023 di kota Jayapura, melibatkan 218 Posyandu, bayi balit dan sudah bertambah sekarang menjadi 220.

Kalau kita melihat target sasaran untuk bayi balita yang harusnya datang ke Posyandu untuk ditimbang itu sekitar 25 ribu anak, namun selalu kesulitan untuk yang diukur dan ditimbang

“Jadi, bulan Desember yang datang ke Posyandu sebanyak 18. 838 yang terdata untuk diukur, dilihat apakah stunting atau tidak,” kata Sri Antari kepada Teraspapua.com di ruang kerjannya, Rabu (17/1/2024).

Biasanya hanya sekitar 7000. Jadi, cukup banyak dan angka stunting yang kita input di elektronik pencatatan pelaporan gizi berbasis masyarakat sebanyak 2. 595, sekitar 13 50%.

“Jadi, kalau di e-PPGBM kenapa naik turun, karena tergantung berapa yang datang untuk diukur, mungkin yang tidak diukur itu yang stunting juga.” terang Sri Antari.

Lanjut Sri Antari, bulan Desember memang ada kebijakan pimpinan untuk menggunakan dana Dana Alokasi Umum (DAU) yang diberikan kepada setiap OPD, dan setiap OPD menjadi Bapak Asuh Anak Stunting atau BAAS.

Disebutkan, dengan memberikan bantuan ke masyarakat memang memancing masyarakat agara bisa datang ke Posyandu. Kami, berharap itu lebih ditingkatkan lagi di tahun ini, sehingga yang datang ke Posyandu diharapkan semua bayi balita.

Sehingga kata Sri Antari, kita bisa benar-benar mendapatkan angka riil stunting berapa, kalau di Tahun 2022, kita di 22, 6 persen. Kalau jumlah stunting 25 ribu, berarti 1/5-nya, sekitar 5000 sebenarnya kalau dari survey.

“Untuk tahun 2023 hasil survei kesehatan Indonesia belum kita dapatkan berapa sebenarnya, apakah ada penurunan dari 20,6%, kita berharap memang targetnya di tahun ini nantinya kita bisa mencapai 14%, artinya survei benar-benar di lapangan,” ujarnya.

Dikatakan Sri Antari, kalau elektronik pencatatan pelaporan gizi berbasis masyarakat itu betul-betul semua, karena itu sebenarnya gambaran ril, kalau betul-betul semua ke Posyandu, tapi kenyataannya baru 70%, 18 ribu dari 25 ribu.

“Jadi, baru sekian persen yang datang yang kita dapatkan di Posyandu itu anak yang stunting adalah 2.595,” jelasnya.

Sementara total dana untuk penanganan stunting dari pemerintah pusat untuk Kota Jayaura tahun anggaran 2023, sebesar Rp. 4. 172. 839.000, dan tentunya ada berbagai kegiatan, ada penyediaan bahan makanan tambahan berbasis kearifan lokal sekitar Rp. 1,7 miliar. Kemudian penyediaan makanan tambahan untuk balita gizi kurang itu kemudian untuk pelatihan.

Ni Nyoman menambahkan untuk penanganan stunting di Kota Jayapura, sesungguhnya kerja bersama. Jadi yang punya masyarakat yang betul-betul ada di lapangan dan Posyandu ada di lingkungan RT/RW.

“Kepala Kelurahan juga sebagai penggerak masyarakat supaya semua yang punya bayi balita datang ke Posyandu. Kemudian dari sisi penanganan, di kita Kesehatan ada intervensi gizi spesifik,” tandasnya.

Tentu lanjut Sri Antari, kita mulai dari remaja putri, pemberia vitamin penambah darah, kemudian calon pengantin kita periksa kesehatannya, ibu hamil kita buat kelas ibu hamil tangani yang kurang energi kalorinya (KEK).

Kemudian waktu melahirkan juga, dan tentunya 2 tahun pasca melahirkan tergantung gizinya, itu yang selama ini yang kita tekankan saat lahir sampai balita.

“Tapi kan tidak semua bisa tercover oleh Dinas Kesehatan, karena ini kesadaran masyarakatnya kurang, kepedulian kita terhadap bayi balita kurang. Jadi itu yang perlu kerja sama,” kata Dia.

Kemudian pangan di Dinas Pertanian, Dinas Sosial melihat yang benar-benar miskin kita bantu. Bahkan Dinkes sudah coba membuka sekolah lansia sehingga yang mengasuh anak-anak juga tahu.

Selain itu ditambahkan Sri Antari, Perda untuk percepatan penurunan stunting kemungkinan bulan depan baru bisa tuntas, karena lagi konsultasi ke provinsi, kalau itu bisa turun maka kita akan lebih ketat lagi, semua yang punya bayi balita harusnya dibawa ke Posyandu.

Lanjut Ni Nyoman pun berujar, kenapa stunting di Kota Jayapura turun naik, karena yang datang ke Posyandu juga turun naik, itu yang menentukan. Kenapa tidak bisa turun mungkin tidak datang itu yang memang stunting,” tutup dia.

(Har/Ricko).