Jayapura, Teraspapua.com – Hari Kamis, 2 Oktober 2025, menjadi tonggak sejarah yang membanggakan bagi dunia pendidikan tinggi di Tanah Papua. Bertempat di Auditorium Universitas Cenderawasih (Uncen), sosok akademisi berdedikasi, Prof. Dr. Hendry Yoshua Nanlohy, MT., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Teknik di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ).
Pengukuhan ini bukan sekadar perayaan atas capaian akademik tertinggi. Lebih dari itu, ia menjadi simbol kebangkitan pendidikan teknik di kawasan timur Indonesia. Prof. Nanlohy adalah guru besar teknik pertama yang berasal dari Papua, sekaligus putra asli Ambon, Maluku, yang telah mengabdikan diri dan ilmunya untuk membangun masa depan generasi Papua.
Perjalanan panjang Prof. Nanlohy dimulai dari kampus yang sama USTJ empat ia menempuh pendidikan teknik puluhan tahun silam. Kini, ia kembali sebagai pendidik dan peneliti, membawa misi besar: membangun kapasitas lokal dan menjadikan Papua sebagai pusat keunggulan dalam teknologi energi terbarukan.
“Ini bukan hanya pengukuhan saya pribadi. Ini adalah tentang bagaimana seorang alumni bisa kembali dan menumbuhkan almamaternya,” ujarnya kepada Teraspapua.com usai acara pengukuhan.

Momen ini menjadi inspirasi kuat bagi generasi muda Papua. Ia membuktikan bahwa pencapaian tertinggi di dunia akademik tidak hanya milik kota-kota besar, melainkan bisa lahir dari tanah sendiri—asal disertai tekad, dedikasi, dan kerja keras.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Nanlohy menyampaikan tema yang sangat relevan dengan tantangan dunia masa kini: teknologi rekayasa konversi energi, dengan fokus pada pemanfaatan komoditas lokal seperti sagu dan kelapa.
Selama ini, sagu dikenal sebagai bahan pangan utama masyarakat Papua. Namun melalui riset yang ia lakukan, limbah sagu ternyata dapat diolah menjadi karbon aktif dan biografit, dua material yang sangat berharga untuk digunakan sebagai katalis bahan bakar. Kombinasi bahan ini, ketika dicampur dengan minyak kelapa hasil olahan masyarakat lokal, mampu menghasilkan energi alternatif yang ramah lingkungan.
“Ini bukan sekadar riset laboratorium. Ini adalah jalan menuju kemandirian energi yang berakar pada potensi lokal dan kearifan budaya,” jelasnya.
Penelitian ini bukanlah upaya yang dilakukan seorang diri. Prof. Nanlohy menjalin kerja sama strategis lintas kampus dan negara. Ia menggandeng Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), mengirimkan sampel material ke laboratorium di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), serta membangun kolaborasi riset dengan dua perguruan tinggi di Rusia.
Dukungan untuk proyek ini datang dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada tahun 2024, dan dilanjutkan dengan pendanaan dari Russian Science Foundation pada tahun 2025. Ini menunjukkan bahwa riset lokal dari Papua telah mendapatkan pengakuan pada level internasional.
Kisah riset ini membuka mata banyak pihak bahwa Papua tidak hanya kaya akan gas, minyak, dan mineral. Lebih dari itu, provinsi ini menyimpan potensi besar dalam energi terbarukan, yang bersumber dari alam dan budaya lokal.
“Papua bukan hanya indah karena pemandangannya, tapi juga karena ide-ide besar yang lahir dari putra-putri terbaiknya,” tegas Prof. Nanlohy.
Pengukuhan ini pun menjadi lebih dari sekadar seremoni akademik. Ia menjadi simbol harapan dan semangat kebangkitan ilmiah di Tanah Papua, bahwa dari Jayapura, dari USTJ, dan dari ujung timur Indonesia, telah lahir kontribusi global yang menyatukan ilmu pengetahuan, budaya, dan semangat nasionalisme.
Dalam suasana penuh haru dan kebanggaan, momen pengukuhan ini juga disaksikan oleh orang-orang tercinta yang selalu menjadi sumber kekuatan. Hadir mendampingi adalah sang istri tercinta, Susi Marianingsih, S.Kom., M.Kom., yang juga berlatar belakang sebagai dosen, serta kedua anak mereka: Naysa Nanlohy, siswi kelas IX SMP, dan Nevan Nanlohy, siswa kelas V SD di Kota Jayapura.

Turut hadir pula kedua orang tua Prof. Nanlohy yang tak kalah membanggakan: sang ayah, Ir. Cony Nanlohy, M.Eng., mantan dosen Teknik Perkapalan di Fakultas Teknik Universitas Pattimura (Unpati) dan pernah mengabdi di USTJ; serta sang ibu, Aty Pietersz, yang memberikan dukungan penuh sejak awal. Juga hadir, kakak kandungnya, Vecky Nanlohy, yang saat ini bertugas sebagai staf Dinas Perhubungan Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah.
Kini, Indonesia memiliki alasan baru untuk menoleh ke arah Timur. Papua telah menorehkan sejarah baru dengan hadirnya guru besar teknik pertamanya, yang bukan hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga memberikan kontribusi konkret bagi masa depan energi dan ilmu pengetahuan.
Sagu dan kelapa bukan lagi sekadar simbol pangan dan kehidupan masyarakat adat. Di tangan ilmuwan seperti Prof. Hendry Nanlohy, keduanya telah menjelma menjadi simbol harapan dan keberlanjutan, bahwa masa depan yang bersih dan mandiri bisa dimulai dari akar local dan tumbuh untuk dunia.
(Har/Myo/Nov)








