Kisah BTM dan KDM di Port Numbay 2016: Ketika Papua Disebut Surga yang Harus Dijaga Bersama

BTM saat menyambut KDM dikediaman jalan jeruk nipis tahun 2016

Jayapura, Teraspapua.com  – Papua kerap digambarkan sebagai tanah yang penuh keindahan. Namun, pesona itu tidak semata-mata terletak pada bentang alamnya yang memukau, gunung yang menjulang tinggi, hutan yang hijau, serta laut yang luas membentang. Lebih dari itu, Papua adalah tentang kehidupan yang dititipkan Tuhan di atas tanah ini.

Pada 2016, di Kota Jayapura, Port Numbay, sebuah kisah tentang persahabatan sekaligus refleksi mendalam terhadap makna tanah Papua mengemuka melalui dua sosok, yakni Benhur Tomi Mano (BTM) dan Dedi Mulyadi (KDM), yang akrab disapa Kang Dedi. Keduanya tidak hanya berbicara tentang Papua sebagai wilayah geografis, melainkan sebagai ruang hidup yang sarat nilai, budaya, dan spiritualitas.

Papua disebut sebagai “rumah”, honai, bagi ribuan suku, bahasa, dan budaya yang tidak ditemukan di tempat lain. Keindahannya tidak hanya dapat dilihat, tetapi juga dirasakan melalui kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam sebuah refleksi yang kemudian diabadikan melalui karya lagu, KDM menyebut Papua sebagai “surga yang harus dijaga bersama.” Pernyataan tersebut tidak berhenti sebagai ungkapan puitis, tetapi menjadi ajakan moral bagi semua pihak untuk menjaga tanah Papua dari berbagai ancaman, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Namun demikian, pertanyaan mendasar pun muncul: apakah hari ini Papua masih dipandang sebagai surga?

BTM, dalam berbagai kesempatan, kerap menegaskan bahwa tanah Papua bukan sekadar aset pembangunan. Ia adalah “mama” sumber kehidupan yang memberi makan, melindungi, dan merawat anak-anaknya. Filosofi ini menempatkan Papua bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai subjek yang harus dihormati, dijaga, dan dilestarikan.

Makna “Surga di Tanah Papua” pun melampaui sekadar sebuah lagu. Ia menjelma menjadi panggilan kolektif bagi seluruh elemen masyarakat untuk menjaga dan merawat Papua melalui berbagai langkah nyata, antara lain menjaga hutan sebagai “mama” yang memberi kehidupan, menghormati hak-hak masyarakat adat, membangun pendidikan dan layanan kesehatan yang bermartabat, merawat perdamaian, serta memastikan generasi Papua menjadi tuan di negerinya sendiri.

BTM bersama KDM dikediaman jalan jeruk nipis tahun 2016

Lagu yang diciptakan KDM tersebut mengandung pesan yang mendalam. Papua dipandang sebagai anugerah Tuhan yang tak ternilai, sekaligus simbol persaudaraan antara Papua dan seluruh Indonesia. Selain itu, lagu tersebut juga menjadi seruan untuk menjaga bumi, tanah, dan manusia Papua sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Bagi BTM, karya tersebut bukan sekadar karya seni, melainkan warisan nilai yang harus dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya. Keindahan Papua sebagai ciptaan Tuhan bukan hanya untuk dinikmati pada masa kini, tetapi juga harus diwariskan kepada anak cucu di masa depan.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa menjaga Papua bukan hanya tanggung jawab segelintir pihak, melainkan panggilan bersama. Sebab, Papua bukan sekadar indah Papua adalah kehidupan itu sendiri.

Di balik seluruh refleksi tersebut, tersimpan pesan sederhana namun kuat: surga itu ada, tetapi harus dijaga bersama.

(veb)