Rufaer, Teraspapua.com – Deru mesin perahu jomson memecah sunyi pagi di tepian Sungai Mamberamo. Dari Kasonaweja, ibu kota Kabupaten Mamberamo Raya, perjalanan panjang itu dimulai. Di atas arus sungai yang dikenal sebagai salah satu yang terbesar di Papua, Anggota DPR Kabupaten Mamberamo Raya, Banny Kujiro, bersama timnya menyusuri derasnya aliran air menuju Distrik Rufaer, sebuah wilayah yang tak mudah dijangkau, namun menyimpan harapan besar akan kehadiran negara.
Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan biasa. Bagi Banny, kader Partai Hanura tersebut, ini adalah bagian dari reses, momen untuk mendengar langsung suara masyarakat di daerah pemilihan (dapil) II yang mencakup Distrik Mamberamo Hulu dan Distrik Rufaer.
Selama tiga hingga empat jam, perahu melaju membelah Sungai Mamberamo. Di kiri dan kanan, hamparan bukit dan pepohonan hijau berdiri kokoh, menghadirkan lanskap yang memukau sekaligus mengingatkan betapa luas dan sulitnya medan yang harus ditempuh warga setiap hari.
Tujuan perjalanan itu adalah Kampung Kai, pintu masuk menuju Kampung Persiapan Deido, sebuah wilayah kecil di perbatasan Kabupaten Mamberamo Raya dan Puncak Jaya yang hingga kini masih bergelut dengan keterbatasan.
Di kampung inilah, realitas kehidupan masyarakat Papua yang jauh dari pusat pembangunan tampak nyata.
Akses terhadap layanan dasar seperti listrik, kesehatan, dan pendidikan masih sangat terbatas. Kampung Persiapan Deido, yang merupakan pemekaran dari Kampung Kai, bahkan tergolong wilayah terisolasi.

Sebagai bentuk kepedulian, Banny menyerahkan bantuan satu unit generator set (genset) kepada warga pada Senin (8/6/2026). Bagi masyarakat setempat, genset bukan sekadar alat, melainkan simbol harapan, penerangan di tengah gelapnya keterbatasan.
“Reses ini bukan hanya untuk mendengar, tetapi juga menindaklanjuti kebutuhan masyarakat. Pemerintah harus hadir hingga ke wilayah terpencil,” kata Banny.
Namun, persoalan di kampung ini tak berhenti pada minimnya listrik. Banny juga mendapati sebuah bangunan sederhana yang telah berdiri sekitar 15 tahun. Rumah itu kini difungsikan sebagai tempat ibadah bagi Jemaat Gereja GIDI.
Kondisinya memprihatinkan. Dinding kayu tampak lapuk, tiang-tiang penyangga mulai rapuh, dan atap seng yang berlubang tak lagi mampu melindungi dari hujan. Meski demikian, bangunan itu tetap digunakan, karena tak ada pilihan lain.
Ironisnya, hingga kini belum ada bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki atau membangun rumah ibadah yang layak. Di tengah keterbatasan itu, masyarakat tetap bertahan.
Kepala Kampung Kai, Kores Tiasa, bersama warga menyambut kedatangan rombongan dengan harapan sederhana, didengar dan diperhatikan. Dalam dialog yang berlangsung, berbagai keluhan disampaikan mulai dari sulitnya akses kesehatan dan pendidikan, hingga kebutuhan dasar seperti rumah layak huni dan air bersih.
Menurut Banny, kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.
“Sekitar 25 kepala keluarga tinggal di sini. Mereka hidup dengan segala keterbatasan. Ini bukan hanya soal pembangunan, tetapi soal keadilan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti ironi yang dirasakan masyarakat. Di tengah keterbatasan, warga tetap aktif berpartisipasi dalam setiap pemilihan umum, memilih anggota legislatif, kepala daerah, hingga presiden. Namun, partisipasi itu belum diimbangi dengan pemerataan pembangunan.
“Partisipasi politik mereka tinggi, tetapi perhatian yang diterima masih minim. Ini menjadi catatan penting bagi pemerintah,” kata Banny.
Lebih jauh, ia menilai Kampung Persiapan Deido sebenarnya telah memenuhi syarat untuk menjadi kampung definitif. Dengan jumlah penduduk dan potensi sumber daya alam yang ada, status administratif tersebut diyakini dapat membuka akses lebih luas terhadap anggaran pembangunan.
Dorongan pun diarahkan kepada Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya agar segera menindaklanjuti usulan tersebut.

Sementara itu, Ketua Bamuskam yang juga kepala suku setempat mengungkapkan bahwa kampung ini telah dibuka sejak tahun 2000. Namun, selama lebih dari dua dekade, pembangunan yang dirasakan masyarakat masih sangat terbatas.
“Kami belum pernah mendapatkan rumah layak huni, air bersih, apalagi gereja yang layak. Padahal ini kebutuhan dasar,” ujarnya.
Di ujung perjalanan itu, Sungai Mamberamo kembali menjadi saksi. Ia mengalir tenang, menyimpan cerita tentang kehidupan di tepian yang jauh dari sorotan. Di sana, masyarakat Kampung Deido menunggu, bukan sekadar kunjungan, tetapi perubahan.
Reses mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun bagi warga, harapan akan kehadiran negara adalah sesuatu yang mereka nantikan setiap waktu.
(Sand)














