Ketua Komisi IV DPR Papua Joni Betaubun Gelar Buka Puasa Bersama Janda dan Yatim Piatu, Sekaligus Salurkan Bantuan

Jayapura, Teraspapua.com – Ketua Komisi IV DPR Papua, Joni Y. Betaubun, menggelar buka puasa bersama para janda dan anak yatim piatu pada hari ke-29 bulan suci Ramadan. Kegiatan yang dirangkaikan dengan silaturahmi tersebut berlangsung di kediamannya, Perumahan Puri Kencana, Kotaraja Dalam, Kota Jayapura, Selasa (17/3/20226)

Dalam kegiatan itu, politisi dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut tidak hanya mengundang warga untuk berbuka puasa bersama, tetapi juga menyalurkan bantuan berupa bahan makanan (bama), beras, serta sejumlah uang kepada para janda dan anak yatim piatu dan pengurus masjid Al-Ihsan. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap masyarakat, khususnya mereka yang membutuhkan di wilayah Kota Jayapura.

Betaubun menegaskan, kegiatan berbagi ini merupakan komitmen yang secara rutin dilakukan, bukan sekadar momentum pemilu.

“Setiap bulan saya memberi makan janda dan anak yatim piatu. Hari ini kita rangkaikan dengan buka puasa bersama. Ini bukan karena momen tertentu seperti pemilu, tetapi memang sudah menjadi kebiasaan saya dan keluarga untuk berbagi,” ujarnya dalam sambutan menjelang berbuka puasa.

Ia menyebut, membantu sesama tidak harus dalam jumlah besar. Menurutnya, hal sederhana seperti memberikan beras beberapa kilogram sudah cukup membantu kebutuhan sehari-hari masyarakat.

“Kalau kita bisa memberi, kenapa harus menahan kebaikan itu. Tidak harus besar, yang penting bisa menolong orang hari ini. Dengan beras lima kilogram saja, mereka bisa makan hari ini dan besok,” katanya.

Suasana kegiatan semakin khidmat saat tausiyah disampaikan oleh Ketua Mas Kei Provinsi Papua, Najaruddin Tuatubun. Dalam ceramahnya, ia mengingatkan bahwa puasa mengandung makna mendalam, yakni melatih kesabaran serta menumbuhkan empati terhadap sesama, terutama kaum dhuafa.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari para janda dan anak yatim piatu dari Pasar Lama Abepura, jemaat GKI Sborhoinyi, hingga tokoh agama dan pengurus organisasi kemasyarakatan. Kehadiran lintas agama, termasuk pendeta dan pengurus masjid, menjadi gambaran nyata toleransi yang terbangun di Kota Jayapura.

Bagi para penerima bantuan, kegiatan ini bukan sekadar tentang makanan atau materi yang diterima, melainkan perhatian dan kepedulian yang dirasakan secara langsung.

“Bukan soal makan dan minum, tapi bagaimana ada hati untuk membantu orang-orang yang lemah,” ungkap salah satu warga yang hadir.

Usai berbuka puasa, para janda yang datang dari kawasan pasar dan lingkungan sekitar tampak membawa pulang beras dan bantuan lainnya untuk persiapan menyongsong Hari Raya Idulfitri.

Dalam kesempatan tersebut, Betaubun juga menyampaikan pesan kepada masyarakat agar tetap menjaga kebersamaan dan kesederhanaan menjelang hari kemenangan.

“Atas nama keluarga, saya mengucapkan selamat menyongsong Hari Raya Idulfitri. Mari kita nikmati kebersamaan ini, tetap bertahan karena tinggal beberapa hari lagi, dan jangan lupa untuk tetap rendah hati karena hidup ini sementara,” tuturnya.

Selain berbagi dengan masyarakat, Betaubun bersama keluarga juga menyerahkan bantuan sebesar Rp10 juta untuk pembangunan Masjid Al-Ikhsan Kotaraja. Bantuan tersebut diberikan sebagai bagian dari upaya memperkuat silaturahmi serta mendukung kegiatan keagamaan di lingkungan setempat.

Ia berharap, melalui kegiatan ini, nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, dan toleransi dapat terus terjaga, khususnya di momentum bulan suci Ramadan yang sarat makna.

Ketua Mas Kei Provinsi Papua, Najaruddin Tuatubun, menegaskan bahwa esensi puasa tidak semata-mata menahan lapar dan haus, melainkan membangun kesadaran sosial serta empati terhadap sesama.

Dalam tausiyahnya, ia menjelaskan bahwa ibadah puasa bukan hanya diwajibkan bagi umat Islam saat ini, tetapi juga telah diperintahkan kepada umat-umat terdahulu sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Baqarah ayat 183. Puasa, kata dia, dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan tujuan melatih pengendalian diri sekaligus merasakan kondisi mereka yang hidup dalam kekurangan.

“Puasa mengajarkan kita untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang tidak memiliki apa-apa. Dari situlah lahir empati dan kepedulian sosial,” ujarnya.

Menurut Najaruddin, praktik berbagi yang dilakukan pak Ketua Komisi IV, Joni Betaubun dalam momentum Ramadan, seperti pemberian beras dan bantuan kepada masyarakat, bukanlah hal baru, melainkan bagian dari nilai dasar ajaran agama. Ia menekankan bahwa dalam konsep keimanan, memberi tidak akan mengurangi harta, justru sebaliknya akan membuka pintu rezeki yang lebih luas.

“Semakin banyak memberi, semakin banyak pula yang datang. Itu adalah janji Tuhan yang nyata,” katanya.

Ia juga membagikan kisah nyata tentang seorang pengusaha sukses di Jayapura yang dulunya hanya seorang penjual telur keliling. Kisah tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa kerja keras yang disertai dengan kedermawanan dapat mengubah kehidupan seseorang secara signifikan.

Lebih lanjut, ia mengaitkan nilai puasa dengan manfaat kesehatan, baik secara fisik maupun spiritual. Menurutnya, puasa merupakan bentuk latihan yang mampu menyeimbangkan kehidupan manusia, sekaligus memperkuat hubungan sosial dengan sesama.

“Puasa bukan untuk menyiksa, tetapi untuk melatih. Dari rasa lapar dan haus itu, kita belajar memahami penderitaan orang lain,” ucapnya.

Ia juga menekankan bahwa Ramadan seharusnya tidak dimaknai sebagai ajang meningkatkan fanatisme, melainkan momentum untuk memperluas kasih sayang tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun status sosial.

“Tidak ada batasan dalam mengasihi. Puasa justru mengajarkan kita untuk peduli kepada siapa saja yang ada di sekitar kita,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, kegiatan buka puasa bersama yang digelar oleh Joni Y. Betaubun turut dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari pengurus masjid, tokoh agama, hingga warga dari berbagai latar belakang.

Perwakilan pengurus Masjid Al-Ikhsan Kotaraja menyampaikan apresiasi atas kepedulian yang ditunjukkan. Mereka menilai kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang berbagi, tetapi juga mempererat hubungan antarumat beragama di Kota Jayapura.

Sementara itu, salah satu warga Kompleks Puri Kencana, Fauzi, mengungkapkan bahwa sosok Betaubun dikenal luas sebagai figur yang tidak membeda-bedakan masyarakat dalam memberikan bantuan.

“Beliau melayani semua kalangan tanpa melihat latar belakang. Itu yang membuat masyarakat merasa dekat dan terbantu,” ujarnya.

Kegiatan tersebut dinilai sebagai contoh nyata bagaimana nilai-nilai Ramadan dapat diterjemahkan dalam tindakan konkret, yakni memperkuat solidaritas sosial dan membangun kebersamaan di tengah keberagaman.
(arc)