PAC PDI Perjuangan Se- Kota Jayapura Resmi Dikukuhkan, BTM Minta Kader Turun ke Rakyat

Pengukuhan PAC PDIP Se- Kota Jayapura oleh Ketua DPD PDI Perjuangan Papua Benhur Tomi Mano (foto Harley/Teraspapua.com)

Jayapura, Teraspapua.com  – Pengurus  Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan se-Kota Jayapura resmi dikukuhkan untuk masa bakti 2025-2030. Pengukuhan tersebut mencakup PAC Jayapura Selatan, Jayapura Utara, Abepura, Heram, dan Muara Tami.

Pengukuhan dilakukan Ketua DPD PDI Perjuangan Papua Benhur Tomi Mano, didampingi Sekretaris DPD PDI Perjuangan Papua Surya Ibrahim serta jajaran pengurus DPD dan DPC. Kegiatan berlangsung di lantai dua Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Jayapura, Kotaraja, Rabu (23/9/2026).

Dalam sambutannya, Benhur Tomi Mano menegaskan bahwa pengukuhan pengurus PAC bukan sekadar seremoni organisasi. Menurut dia, jabatan yang diberikan melalui surat keputusan merupakan bentuk tanggung jawab yang harus diwujudkan melalui kerja nyata.

“Ada beberapa hal sederhana yang saya ingin titipkan. Bukan teori yang berat, bukan juga sesuatu yang baru. Justru hal-hal sederhana yang kadang-kadang kita semua sudah tahu, tetapi sering lupa melakukannya,” kata Benhur.

Dia mengatakan, pengukuhan bukan hanya menyangkut nama kader yang tercantum dalam struktur kepengurusan. Lebih dari itu, pengukuhan merupakan penyerahan tanggung jawab kepada kader untuk menjalankan roda organisasi di tingkat kecamatan atau distrik.

“Hari ini bukan hanya nama saudara yang dikukuhkan. Yang dikukuhkan adalah tanggung jawab saudara,” ujarnya.

Benhur meminta para pengurus PAC tidak berhenti pada kebanggaan setelah menerima SK kepengurusan. Para kader, kata dia, harus segera memikirkan pekerjaan yang dapat dilakukan setelah resmi menjadi bagian dari struktur organisasi.

“Jangan pulang hanya dengan perasaan bahwa sekarang saya sudah menjadi pengurus. Pulanglah dengan pertanyaan: setelah saya menjadi pengurus, apa yang akan saya kerjakan. Itu jauh lebih penting,” katanya.

Benhur mengingatkan para pengurus bahwa organisasi partai tidak dibangun untuk kepentingan pribadi, termasuk sekadar mengejar posisi maupun kepentingan politik jangka pendek.

Menurut dia, kekuatan organisasi tidak ditentukan oleh banyaknya nama yang tercantum dalam surat keputusan, melainkan oleh seberapa jauh orang-orang yang berada di dalam struktur tersebut bekerja.

“SK itu bukan surat untuk duduk. SK itu surat untuk bekerja,” tegasnya.

Dia mencontohkan, pengurus tidak dapat disebut aktif apabila hanya hadir ketika ada kegiatan besar, pengukuhan, atau agenda yang ramai. Setelah kegiatan selesai, pengurus harus tetap menjalankan tanggung jawabnya.

“Kalau setelah dikukuhkan hari ini lalu besok kita hilang, satu bulan tidak kelihatan, tiga bulan tidak aktif, kemudian muncul lagi kalau ada acara besar, itu berarti yang aktif bukan pengurusnya. Yang aktif hanya namanya di dalam SK,” kata Benhur.

Karena itu, dia meminta seluruh kader PAC menjaga keberadaan dan kekuatan PDI Perjuangan di tengah masyarakat. Menurut Benhur, kekuatan partai tidak hanya berada pada struktur di tingkat provinsi dan kota, tetapi juga pada struktur paling bawah.

“Jangan sampai struktur kita kelihatan kuat di atas, tetapi semakin ke bawah semakin tidak terasa. Justru organisasi yang kuat adalah organisasi yang hidup sampai ke bawah,” ujarnya.

Benhur menyebut setiap tingkatan struktur memiliki peran masing-masing, mulai dari DPD di tingkat provinsi, DPC di tingkat kota, PAC di tingkat kecamatan atau distrik, hingga ranting di tingkat kelurahan dan kampung.

Karena itu, dia meminta PAC dan ranting memastikan kegiatan organisasi tetap berjalan, komunikasi antarpengurus terjaga, dan keberadaan partai dirasakan masyarakat.

Benhur juga mengingatkan bahwa pengurus PAC dan ranting merupakan struktur yang paling dekat dengan masyarakat. Karena itu, kader di tingkat bawah harus memahami persoalan yang terjadi di wilayah masing-masing.

“Rakyat tidak setiap hari bertemu dengan Ketua DPD. Rakyat juga tidak setiap hari bertemu dengan Ketua DPC. Yang paling dekat dengan mereka justru saudara-saudara yang berada di PAC dan ranting,” katanya.

Menurut dia, pengurus PAC harus mengetahui kondisi yang terjadi di distriknya, sedangkan pengurus ranting harus memahami persoalan yang berkembang di kelurahan maupun kampung.

Benhur menekankan bahwa tidak semua persoalan masyarakat harus diselesaikan langsung oleh PAC maupun ranting. Namun, masyarakat setidaknya harus merasa memiliki tempat untuk menyampaikan persoalan.

“Tidak berarti semua persoalan harus kita selesaikan sendiri. Tidak mungkin. Tetapi paling tidak masyarakat tahu, ada orang yang mau mendengar kami,” ujarnya.

Dia juga meminta kader tidak memberikan janji yang tidak mampu dipenuhi. Apabila suatu persoalan membutuhkan penanganan di tingkat DPC, maka harus diteruskan. Begitu pula jika membutuhkan penanganan di tingkat DPD.

“Kalau kita mampu membantu, bantu. Kalau belum mampu, jangan kasih janji sembarang,” kata Benhur.

Menurut dia, kepercayaan masyarakat dapat rusak apabila kader terlalu sering memberikan janji tanpa penyelesaian.

“Yang penting jangan masyarakat datang membawa masalah, kemudian pulang membawa janji baru,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Benhur juga menyinggung kebiasaan sebagian pengurus yang aktif ketika organisasi sedang menggelar kegiatan besar, tetapi sulit ditemui ketika pekerjaan harus dilakukan.

“Kalau ada acara, hadir. Kalau ada pengukuhan, hadir. Kalau ada rapat besar, hadir. Kalau ada foto bersama, paling depan. Tetapi kalau diminta bekerja, telepon mulai susah diangkat,” katanya.

Dia menegaskan, organisasi membutuhkan kader yang tetap bekerja meski tidak mendapatkan sorotan.

“Organisasi tidak membutuhkan pengurus yang hanya hadir ketika ramai. Justru kita membutuhkan orang yang tetap bekerja ketika tidak ada yang melihat,” ujar Benhur.

Menurut dia, kerja organisasi tidak selalu menghasilkan dokumentasi atau foto. Namun, pekerjaan yang dilakukan secara konsisten justru menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan.

“Sering kali pekerjaan seperti itu tidak ada fotonya. Tetapi justru di situlah kepercayaan dibangun,” katanya.

Benhur juga meminta para pengurus yang baru dikukuhkan tidak terjebak pada persoalan kelompok, kedekatan personal, maupun kepentingan berdasarkan siapa yang menduduki jabatan tertentu.

Setelah masuk dalam satu struktur organisasi, kata dia, seluruh pengurus harus menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan kelompok maupun pribadi.

“Kalau kita sudah dikukuhkan dalam satu struktur, maka kita harus menjadi orangnya organisasi,” ujarnya.

Dia mengibaratkan organisasi sebagai sebuah rumah besar yang tidak boleh dipenuhi sekat kepentingan kelompok.

“Jangan kita bangun rumah besar, tetapi di dalam rumah itu kita masih sibuk bikin kamar masing-masing,” katanya.

Benhur mengakui perbedaan pendapat merupakan hal yang biasa dalam organisasi. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh berkembang menjadi permusuhan atau alasan bagi kader untuk berhenti bekerja.

“Beda pendapat boleh. Itu biasa dalam organisasi. Tetapi jangan perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan,” katanya.

Dia juga meminta kader tetap bekerja meskipun orang yang mereka dukung tidak mendapatkan posisi tertentu.

“Organisasi lebih besar daripada kepentingan pribadi kita,” tegasnya.

Benhur kemudian menyampaikan pesan yang lebih tegas mengenai evaluasi kepengurusan. Menurut dia, pengukuhan bukan berarti seseorang mendapatkan posisi yang aman tanpa batas.

“Jabatan adalah kepercayaan. Dan setiap kepercayaan harus bisa dipertanggungjawabkan. Karena itu, semua pengurus harus siap dievaluasi,” ujarnya.

Dia menegaskan evaluasi berlaku untuk seluruh tingkatan organisasi, bukan hanya pengurus di bawah.

“Pengurus di tingkat provinsi bisa dievaluasi. Pengurus di tingkat kota bisa dievaluasi. PAC bisa dievaluasi. Ranting juga bisa dievaluasi,” katanya.

Menurut Benhur, evaluasi merupakan bagian dari mekanisme organisasi untuk memastikan setiap kader menjalankan tanggung jawab yang diberikan.

“Kalau kita meminta orang lain bekerja, kita juga harus siap dinilai dari pekerjaan kita,” ujarnya.

Dia mengingatkan pengurus agar tidak menganggap pengukuhan sebagai akhir dari proses.

“Justru setelah dikukuhkan, pekerjaan baru dimulai. Kalau bekerja, organisasi akan melihat. Kalau tidak bekerja, organisasi juga akan melihat,” kata Benhur.

Apabila seorang pengurus telah mendapatkan kesempatan, kepercayaan, dan waktu, tetapi tidak menjalankan tugasnya, menurut dia, kader tersebut harus siap dievaluasi, termasuk apabila organisasi membutuhkan pergantian kepengurusan.

“Kalau kepentingan organisasi membutuhkan pergantian, ya harus siap diganti. Sederhana saja,” ujarnya.

Benhur juga meminta kader tidak memandang evaluasi sebagai persoalan suka atau tidak suka.

“Evaluasi bukan soal suka atau tidak suka. Evaluasi adalah cara organisasi memastikan bahwa orang yang diberikan tanggung jawab benar-benar menjalankan tanggung jawabnya,” katanya.

Di sisi lain, Benhur menegaskan bahwa evaluasi tidak hanya ditujukan kepada pengurus yang dinilai tidak aktif. Kader yang bekerja dan menunjukkan loyalitas terhadap tugas juga harus mendapatkan penghargaan dan ruang untuk berkembang.

“Kalau kita berani mengevaluasi orang yang tidak bekerja, maka kita juga harus berani menghargai orang yang bekerja,” ujarnya.

Menurut dia, organisasi harus mampu melihat kader yang bekerja meskipun tidak selalu berada di depan atau tampil dalam setiap kegiatan.

“Ada kader yang mungkin tidak banyak bicara. Tidak selalu berdiri paling depan. Tidak selalu muncul dalam setiap foto. Tetapi ketika diberikan pekerjaan, dia selesaikan. Ketika organisasi membutuhkan, dia hadir. Ketika ada masalah, dia tidak lari. Orang-orang seperti itu harus kita lihat,” kata Benhur.

Dia meminta pimpinan di setiap tingkatan memberikan penghargaan kepada kader yang menjalankan tugas dengan baik.

“Yang bekerja harus dihargai. Yang setia menjalankan tugas harus dijaga. Yang punya kemampuan harus diberikan ruang,” ujarnya.

Benhur mengingatkan agar kader yang telah bekerja bertahun-tahun tidak diabaikan hanya karena tidak sering tampil dalam kegiatan organisasi.

“Jangan sampai orang yang bekerja bertahun-tahun tidak pernah kita lihat, sementara orang yang baru muncul ketika ada kegiatan justru selalu berada paling depan,” katanya.

Benhur menilai keberhasilan pengukuhan tidak seharusnya diukur dari jumlah orang yang hadir maupun banyaknya dokumentasi kegiatan.

Menurut dia, ukuran yang lebih penting adalah perubahan yang terjadi setelah para pengurus menjalankan tugasnya di tengah masyarakat.

“Jangan ukur keberhasilan pengukuhan hari ini dari berapa banyak orang yang hadir. Jangan ukur dari berapa banyak foto yang kita ambil,” ujarnya.

“Ukurlah beberapa bulan ke depan. Apakah yang berubah setelah kehadiran kita,” lanjutnya.

Dia kemudian meminta pengurus memulai pekerjaan dari hal-hal sederhana, seperti mengenali wilayah kerja, membangun komunikasi, menghidupkan struktur organisasi, mendengarkan masyarakat, menjaga kekompakan, dan menjalankan tanggung jawab.

“Mulailah dari yang sederhana. Kenali wilayah saudara. Kenali pengurus saudara. Bangun komunikasi. Hidupkan struktur. Dengar masyarakat. Jaga kekompakan. Kerjakan apa yang menjadi tanggung jawab saudara. Dan jangan takut dievaluasi,” katanya.

Benhur kembali meminta para pengurus PAC yang baru dikukuhkan menjaga kepercayaan dan kekompakan serta tetap hadir di tengah masyarakat.

“Karena pada akhirnya, jabatan akan selesai, kepengurusan akan berganti, tetapi nama baik dan kerja yang kita tinggalkan akan tetap diingat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Jayapura Edward Jimmy D. Rahail mengatakan pengukuhan PAC menjadi momentum penting untuk menentukan arah kerja organisasi ke depan.

Menurut Edward, PAC memiliki posisi strategis karena merupakan bagian dari struktur yang berhubungan langsung dengan masyarakat.

“Pengukuhan PAC ini awal pekerjaan yang menentukan arah kita ke depan. Momentum pada hari ini adalah momentum yang baik bagi partai dan kalau bisa dikatakan ini menunjukkan arah kita ke mana,” kata Edward.

Dia meminta pengurus PAC yang baru dikukuhkan membangun koordinasi dan menjaga soliditas dalam menjalankan berbagai instruksi organisasi.

“PAC adalah bagian daripada akar rumput yang bekerja langsung di tengah masyarakat. Kami mohon ke depan kita berkoordinasi baik, solid untuk bersama-sama bergerak di dalam setiap instruksi yang turun dari DPP maupun DPD,” ujarnya.

Edward juga menekankan pentingnya komitmen, kekompakan, serta semangat gotong royong dalam menjalankan amanah organisasi.

“Kita akan tetap bekerja, berkoordinasi, saling menjaga etika komunikasi. Tidak saling menyinggung di dalam grup-grup. Itu bukan tempat untuk kita saling menyampaikan hal-hal yang tidak sepantasnya,” katanya.

Selain memperkuat PAC, Edward meminta jajaran pengurus mengaktifkan kembali struktur ranting dan mempersiapkan program penyusunan anak ranting.

“Kita kuatkan partai ini, aktifkan ranting-ranting yang akan ke depan melakukan program penyusunan anak ranting. Jaga komunikasi dan bangun kebersamaan,” ujarnya.

Dia juga meminta seluruh pengurus tetap dekat dengan masyarakat dan mengikuti perkembangan serta kebutuhan warga di wilayah masing-masing.

“Artinya yang bermanfaat dengan situasi ekonomi Indonesia yang tidak baik-baik saja dengan segala macam trennya, efisiensi, kita tetap akan koordinasi. DPC akan tetap mendukung kerja-kerja PAC yang sifatnya menjalankan instruksi, khususnya dari DPP dan DPD,” kata Edward.

(Har)