PAPUA  

Gubernur Papua Dorong Universitas Yapis Papua Cetak SDM yang Mampu Ciptakan Peluang Kerja

Gubernur Papua Matius D. Fakhiri, Rektor Uniyap Papua, Dr. Ir. Didik S. S. Mabui, S.T., M.T., IPM dan Kepala LLDIKTI Wilayah XIV, Dr. Suriel Semuel Mofu (foto Harley/Teraspapua.com)

Jayapura, Teraspapua.com – Universitas Yapis Papua (Uniyap) diharapkan terus mengambil peran dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Tanah Papua. Perguruan tinggi tersebut dinilai memiliki posisi strategis dalam mendidik, membina, dan mempersiapkan generasi Papua agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

Harapan itu disampaikan Gubernur Papua Matius D. Fakhiri saat memberikan sambutan dalam Rapat Terbuka Senat Wisuda Program Pascasarjana ke-18 dan Program Sarjana ke-23 Universitas Yapis Papua yang digelar di Hotel Suni Abepura, Kamis (24/9/2026).

Fakhiri mengatakan Universitas Yapis Papua merupakan salah satu perguruan tinggi swasta yang telah lama hadir di kawasan Timur Indonesia. Keberadaan perguruan tinggi tersebut dinilai memiliki kontribusi penting dalam pembangunan pendidikan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di Papua.

Menurut Fakhiri, perkembangan Universitas Yapis Papua dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya upaya untuk memperkuat kualitas kelembagaan dan layanan pendidikan tinggi.

“Kita juga melihat perkembangan Universitas Yapis Papua yang semakin maju, baik dari sisi sarana dan prasarana, jumlah mahasiswa maupun tata kelola akademiknya,” kata Fakhiri.

Ia menilai perkembangan tersebut menjadi indikator komitmen Universitas Yapis Papua untuk terus memperkuat perannya dalam pembangunan sumber daya manusia di Tanah Papua.

Fakhiri mengatakan peningkatan kualitas SDM menjadi salah satu fondasi penting dalam agenda pembangunan Papua. Pemerintah Provinsi Papua, kata dia, terus mendorong transformasi daerah menuju Papua yang cerdas, sejahtera, harmonis, dan cerah.

Untuk mencapai tujuan tersebut, pembangunan manusia tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan jumlah lulusan perguruan tinggi. Pendidikan tinggi juga harus mampu melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan memecahkan persoalan, menciptakan inovasi, serta membangun kemandirian.

“Dalam mewujudkan visi tersebut, pembangunan sumber daya manusia Papua yang unggul tentu merupakan salah satu fondasi utama,” ujarnya.

Fakhiri berharap perguruan tinggi di Papua tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik. Lebih dari itu, perguruan tinggi dituntut melahirkan insan yang mampu membaca persoalan dan menghadirkan solusi bagi masyarakat.

Menurut dia, lulusan perguruan tinggi harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan serta berani mengambil peran dalam pembangunan daerah.

“Karena itu saya berharap perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah dan kemampuan akademik, tetapi juga melahirkan insan yang mampu menghadirkan solusi, menciptakan inovasi, membangun kemandirian, serta mengambil bagian dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan Papua,” katanya.

Pesan tersebut disampaikan Fakhiri kepada para wisudawan yang baru menyelesaikan pendidikan pada jenjang sarjana maupun magister.

Ia mengatakan wisuda merupakan momentum penting setelah para mahasiswa menyelesaikan rangkaian pendidikan di perguruan tinggi. Namun, menurut dia, pencapaian tersebut bukanlah akhir dari perjalanan.

“Hari ini adalah sebuah pencapaian, tetapi bukan akhir dari perjalanan. Gelar sarjana dan magister yang Saudara peroleh merupakan jembatan menuju tanggung jawab dan pengabdian yang lebih besar,” kata Fakhiri.

Ia meminta para lulusan tidak menjadikan gelar akademik hanya sebagai simbol keberhasilan pribadi. Ilmu dan kompetensi yang diperoleh selama menempuh pendidikan harus diterjemahkan menjadi karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Fakhiri juga menyoroti tantangan yang akan dihadapi para lulusan setelah meninggalkan lingkungan kampus.

Menurut dia, persaingan di dunia kerja semakin ketat. Pada saat yang sama, ketersediaan lapangan pekerjaan di daerah masih menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi bersama.

Kondisi tersebut, kata Fakhiri, mengharuskan lulusan perguruan tinggi memiliki cara pandang yang lebih luas mengenai dunia kerja.

Ia mendorong para lulusan tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi juga memiliki keberanian untuk menciptakan peluang ekonomi.

“Kita menyadari bahwa persaingan di dunia kerja semakin ketat, sementara ketersediaan lapangan kerja di daerah masih menjadi tantangan. Karena itu, Saudara tidak cukup hanya menjadi pencari kerja,” ujarnya.

Menurut Fakhiri, lulusan perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui pengembangan usaha, pengelolaan potensi lokal, maupun penciptaan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Ia bahkan mendorong para lulusan untuk membangun usaha yang pada akhirnya dapat membuka kesempatan kerja bagi masyarakat lainnya.

“Saudara harus memiliki keberanian untuk menjadi pencipta peluang, membangun usaha, mengembangkan potensi lokal dan, jika memungkinkan, membuka kesempatan kerja bagi orang lain,” katanya.

Fakhiri mengatakan Tanah Papua memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Potensi tersebut tidak hanya berasal dari sumber daya alam, tetapi juga mencakup kekayaan budaya, kreativitas masyarakat, serta berbagai potensi ekonomi yang tersebar di wilayah Papua.

Karena itu, ia meminta para lulusan memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh selama berada di perguruan tinggi untuk mengembangkan potensi tersebut secara inovatif dan berkelanjutan.

“Tanah Papua memiliki kekayaan sumber daya alam, budaya, kreativitas dan potensi ekonomi yang sangat besar,” ujarnya.

Fakhiri menekankan bahwa pengelolaan potensi daerah harus tetap mempertimbangkan keberlanjutan dan manfaat langsung bagi masyarakat.

Para lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi bagian dari proses tersebut dengan membawa pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, serta kewirausahaan.

Dengan demikian, keberadaan perguruan tinggi tidak berhenti pada aktivitas akademik di lingkungan kampus, tetapi dapat memberikan dampak yang lebih luas terhadap pembangunan daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Fakhiri juga mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi dalam membangun Papua.

Menurut dia, pembangunan daerah tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah. Perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, dan berbagai elemen lainnya memiliki peran yang saling melengkapi.

Karena itu, momentum Dies Natalis dan wisuda Universitas Yapis Papua diharapkan menjadi energi baru untuk memperkuat kerja sama lintas sektor.

“Mari kita jadikan momentum Dies Natalis dan wisuda ini sebagai energi baru untuk memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat dalam membangun Tanah Papua,” kata Fakhiri.

Ia berharap sinergi tersebut dapat menciptakan ekosistem pembangunan yang mendorong peningkatan kualitas SDM sekaligus membuka lebih banyak ruang bagi masyarakat untuk berinovasi dan mengembangkan potensi ekonomi lokal.

Bagi para wisudawan, pesan tersebut menjadi penanda bahwa gelar akademik yang diperoleh bukan sekadar capaian personal. Setelah meninggalkan kampus, mereka dihadapkan pada tanggung jawab yang lebih besar untuk menerapkan ilmu, menjaga integritas, serta mengambil bagian dalam pembangunan Papua.

Sementara bagi Universitas Yapis Papua, tantangan tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi untuk terus menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu beradaptasi, menciptakan peluang, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat di Tanah Papua.

(Har)