Jakarta, Teraspapua.com – Upaya menjawab tantangan geografis ekstrem di Tanah Papua terus didorong melalui inovasi di sektor transportasi dan logistik. Salah satu terobosan yang kini digagas adalah program Papua Air Bridge, sebuah konsep jaringan distribusi berbasis udara yang dirancang untuk memperkuat konektivitas antarwilayah, mempercepat pemerataan pembangunan, sekaligus menekan tingginya biaya logistik di daerah terpencil.
Gagasan ini disampaikan Senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Papua, Pdt. David Harold Waromi, yang menegaskan bahwa program tersebut difokuskan untuk menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini sulit diakses. Sejumlah daerah prioritas yang masuk dalam rencana pengembangan antara lain Maybrat, Sorong Selatan, Prafi di Manokwari, Manokwari Selatan, Mamberamo Raya, Sarmi, Apawer, hingga Sinak.
“Papua Air Bridge ini kami rancang sebagai solusi konkret untuk menjangkau daerah-daerah yang selama ini terisolasi. Kami ingin memastikan distribusi logistik bisa berjalan lebih cepat, efisien, dan merata hingga ke wilayah pedalaman,” ujar Waromi kepada Teraspapua.com, Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, program ini mengandalkan teknologi pesawat kargo ringan tanpa awak atau drone cargo HY100 yang memiliki kemampuan menjangkau wilayah pegunungan dengan akses terbatas.
“Dengan kapasitas angkut hingga 1.900 kilogram dan jangkauan operasional mencapai 1.800 kilometer, HY100 menjadi solusi strategis untuk distribusi barang secara cepat dan efisien, terutama di wilayah yang sulit dijangkau transportasi konvensional,” jelasnya.
Selama ini, Papua dikenal memiliki bentang alam yang kompleks, mulai dari pegunungan tinggi, lembah curam, hingga wilayah terpencil yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Kondisi tersebut membuat distribusi logistik sering kali memakan waktu lama dan biaya yang tinggi.
Melalui pendekatan berbasis udara, Papua Air Bridge diharapkan mampu memutus hambatan tersebut dengan memungkinkan pengiriman barang langsung ke titik tujuan tanpa ketergantungan penuh pada infrastruktur jalan.
Waromi menambahkan, teknologi HY100 juga dilengkapi sistem navigasi modern yang memungkinkan operasional lebih fleksibel.
“Pesawat ini menggunakan sistem navigasi GPS canggih sehingga dapat terbang kapan saja dan dalam berbagai kondisi cuaca. Bahkan tidak memerlukan beacon pemandu di landasan,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kebutuhan landasan sangat minimal.
“Cukup dengan landasan sepanjang sekitar 150 meter, bahkan bisa menggunakan landasan rumput atau tanah yang diperkeras. Ini sangat cocok untuk kondisi geografis Papua,” tambahnya.
Dalam tahap implementasi, Papua Air Bridge akan membangun jaringan hub utama dan hub pengembangan di sejumlah wilayah strategis seperti Jayapura, Timika, Wamena, Nabire, hingga Merauke. Jaringan ini dirancang untuk menghubungkan pusat distribusi dengan daerah pedalaman secara lebih efektif dan terintegrasi.
Distribusi yang dilakukan mencakup berbagai kebutuhan vital masyarakat, mulai dari bahan pokok, layanan kesehatan, logistik publik, hingga distribusi BBM dan kargo khusus.
“Program ini tidak hanya berfokus pada distribusi barang, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk menurunkan disparitas harga di Papua. Dengan biaya logistik yang lebih efisien, harga barang di daerah terpencil bisa lebih terjangkau,” tegas Waromi.
Lebih jauh, Papua Air Bridge juga diharapkan membuka peluang baru bagi masyarakat lokal, baik dari sisi ekonomi maupun pengembangan sumber daya manusia.
“Ke depan, program ini akan mendorong lahirnya tenaga-tenaga lokal di bidang teknologi dan logistik, sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah pedalaman,” katanya.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat akan menjadi kunci dalam membangun ekosistem logistik yang berkelanjutan di Papua.

Pengembangan Papua Air Bridge dirancang dilakukan secara bertahap, dimulai dari proyek percontohan hingga integrasi nasional.
“Tahap awal adalah pilot project untuk uji coba operasional. Setelah itu masuk ke tahap pengembangan jaringan regional, hingga akhirnya terintegrasi dalam sistem logistik udara nasional yang terpadu,” papar Waromi.
Inisiatif ini juga diperkuat melalui kerja sama internasional. Waromi diketahui telah melakukan kunjungan ke pusat produksi drone HY100 yang ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) bersama perusahaan teknologi dirgantara asal China, Ursa Aeronautical Technology (UAT) Co., Ltd., di Kota Shihezi, Provinsi Xinjiang.
Sementara itu, 1945 Institute yang dipimpin Prof. J.W. Saputro saat ini tengah melakukan kajian awal berupa Pre-Feasibility Study (Pra Studi Kelayakan) untuk memastikan kesiapan implementasi program tersebut di Papua.
Papua Air Bridge menjadi langkah nyata dalam menghadirkan solusi inovatif atas persoalan klasik keterisolasian wilayah di Papua. Dengan memanfaatkan teknologi modern dan pendekatan terintegrasi, program ini diharapkan mampu mempercepat pembangunan, memperkuat konektivitas antarwilayah, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua secara berkelanjutan.
(veb/har)








