Jayapura, Teraspapua.com – Wakil Ketua III DPR Provinsi Papua Pegunungan, Bertus Asso, S.Pd., M.Pd., meluncurkan sebuah karya literasi bertajuk “Huruf Bung Karno”, yang terinspirasi dari gagasan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dalam upaya memberantas buta huruf di Indonesia.
Bertus mengungkapkan bahwa gagasan tersebut berangkat dari sebuah peristiwa bersejarah pada 14 Maret 1948 di Yogyakarta, ketika Bung Karno menuliskan instruksi sederhana namun penuh makna: “Bantulah pemberantasan buta huruf.” Menurutnya, kalimat tersebut bukan sekadar ajakan, melainkan sebuah gerakan besar yang relevan hingga saat ini.
“Dari satu kalimat itu, saya mencoba menjadikannya sebagai gerobong untuk menggerakkan pendidikan, khususnya dalam bidang literasi dasar,” ujar Bertus ysai pembukaan Bimtek di Grand Asmat Hotel, Jayapura, (2/7/ 2026) dan diikuti oleh anggota DPRD Fraksi PDI Perjuangan gelombang ke-6 serta jajaran pengurus DPD dan DPC partai dari seluruh tanah Papua.
Ia menjelaskan, pada momentum tersebut, Bung Karno secara langsung menuliskan lima huruf vokal—a, i, u, e, o, dengan kapur tulis di hadapan ribuan masyarakat di Alun-Alun Yogyakarta. Bagi Bertus, peristiwa ini bukan hanya simbolik, tetapi mengandung metode pembelajaran yang selama ini belum tergali secara maksimal.
“Bung Karno menulis di hadapan sekitar 8.000 orang. Itu bukan sekadar tulisan, tetapi sebuah metode dasar pendidikan yang selama ini seperti terlupakan selama lebih dari 75 tahun,” katanya.
Berangkat dari refleksi tersebut, Bertus kemudian melakukan kajian dan penelitian, termasuk saat mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) di Sekolah Partai PDI Perjuangan. Dari situ, ia menemukan adanya pendekatan literasi yang menurutnya dapat dikembangkan kembali dalam konteks kekinian.
Ia juga mengaitkan temuan tersebut dengan sejarah teks Proklamasi yang diketik oleh Sayuti Melik, yang sempat tersimpan lama sebelum akhirnya dikembalikan ke Arsip Nasional Republik Indonesia. Menurutnya, banyak nilai sejarah yang belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk pembangunan literasi bangsa.
Buku “Huruf Bung Karno” yang ditulisnya mengulas secara sistematis proses pembelajaran mulai dari pengenalan huruf, suku kata, hingga penyusunan kalimat dan paragraf. Materi tersebut disusun dalam sembilan jilid, dengan tujuan agar dapat digunakan secara luas oleh masyarakat, khususnya di daerah-daerah dengan tingkat literasi yang masih rendah.
“Selama ini kita mengenal banyak simbol Bung Karno—patung, nama jalan, bandara, hingga stadion. Tapi tidak ada yang secara khusus mengangkat ‘huruf Bung Karno’. Ini yang saya coba hadirkan sebagai kajian mendalam,” ujarnya.
Bertus menambahkan, buku tersebut telah ia tawarkan kepada Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan serta pemerintah kabupaten sebagai salah satu alternatif metode peningkatan literasi berbasis kearifan sejarah bangsa.
Ia menegaskan bahwa dirinya ingin dikenal sebagai salah satu penggali pemikiran Bung Karno, khususnya dalam bidang pendidikan dasar. Motivasi tersebut juga diperkuat oleh arahan Ketua Umum PDI Perjuangan yang mendorong kader untuk mampu menggali dan mengaktualisasikan pemikiran Bung Karno dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Sepulang dari Sekolah Partai pada 24 Januari 2025, saya langsung menggarap buku ini. Bahkan, saya juga mulai membangun konsep sekolah rakyat berbasis pemikiran Bung Karno,” jelasnya.
Menurut Bertus, semangat pemberantasan buta huruf harus menjadi gerakan bersama seluruh elemen bangsa. Ia menilai upaya tersebut sejalan dengan berbagai inisiatif nasional yang mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dari hasil penelitiannya, ia menyebut lima huruf vokal yang ditulis Bung Karno memiliki makna yang lebih dalam dan bersifat konseptual. Ia optimistis, sebagai putra asli Papua Pegunungan, dirinya mampu menggali nilai-nilai tersebut dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.
“Ini bukan sekadar huruf, tetapi dasar dari peradaban literasi. Jika ini tidak kita arsipkan dan kembangkan, maka kita kehilangan bagian penting dari sejarah bangsa,” ujarnya.
Ia berharap karyanya dapat menjadi pemantik kesadaran nasional akan pentingnya literasi, sekaligus menjadi kontribusi nyata dari Papua Pegunungan bagi Indonesia.
“Kalau tidak kita rawat dan masukkan dalam arsip nasional, maka makna besar dari perjalanan bangsa ini bisa hilang, padahal kita selalu menyanyikan ‘Dari Sabang sampai Merauke’,” pungkasnya.Kalau mau, saya juga bisa buatkan versi lebih singkat, versi feature (lebih naratif), atau ditambah kutipan tokoh lain biar lebih kuat seperti standar media nasional.
(har)














