Yahukimo, Teraspapua.com – Anggota DPR Papua Pegunungan, Hengki Bayage, yang juga anggota Komisi I bidang Hukum dan HAM, menegaskan penolakannya terhadap rencana
eksplorasi tambang nikel dan batubara di wilayah Obio, Kabupaten Yahukimo. Ia menyebutkan bahwa wilayah adat tersebut selama ini dijaga ketat dan setiap investor yang ingin masuk wajib melalui mekanisme adat serta melibatkan seluruh pihak berkepentingan.
Menurut Hengki, masyarakat Obio memiliki hak ulayat yang tidak boleh dilanggar. Oleh sebab itu, investor tidak diperkenankan masuk secara diam-diam tanpa pemberitahuan dan persetujuan masyarakat adat.
“Jika ada investor yang ingin masuk, mereka harus melibatkan semua pihak terkait. Sebelum perusahaan tambang beroperasi, perlu ada kajian mendalam untuk memastikan apakah aktivitas itu merugikan masyarakat atau tidak,” jelasnya.
Ia menyebutkan bahwa ada investor yang mau masuk tanpa melibatkan masyarakat, pemerintah distrik, maupun pemilik hak ulayat. Sebagai anak adat asli Obio, ia mengaku tidak mengetahui adanya rencana semacam itu.
“Harus ada komunikasi yang baik untuk menilai untung ruginya. Namun yang saya lihat selama ini, ada investor yang mau masuk tanpa melibatkan masyarakat atau pemerintah setempat. Saya sebagai anak adat tidak tahu sama sekali,” ujarnya.
Politisi PDI Perjuangan Papua Pegunungan itu menegaskan bahwa perusahaan yang mau melakukan eksplorasi tambang di wilayah Obio harus dibatalkan.
“Jangan mereka masuk seperti pencuri tanpa memberi tahu pemilik hak ulayat. Saya tekankan, lebih baik perusahaan yang mau bekerja berhenti dulu, karena masyarakat nanti yang dirugikan dan tidak ada jaminan hidup untuk mereka,” katanya.
Hengki juga menolak seluruh aktivitas tambang yang mau masuk dihentikan sampai ada kesepakatan adat dan kejelasan kontribusi perusahaan terhadap masyarakat.
“Kita harus duduk bicara secara adat. Masyarakat harus menyetujui atau tidak, dan harus jelas apa kontribusi perusahaan. Jangan langsung masuk menggarap tambang,” tegasnya.
Ia menambahkan, pembukaan tambang yang dipaksakan dapat menimbulkan konflik. Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan banyak perusahaan tambang yang mengambil keuntungan, sementara masyarakat menjadi korban.
“Sebagai wakil masyarakat Obio, saya menolak eksplorasi tambang nikel maupun batubara di atas tanah saya. Jika ada oknum tertentu yang memaksakan kehadiran perusahaan, saya tetap menolak,” ujarnya.
Hengki juga menanggapi isu dalam rekaman suara yang beredar di media sosial, yang menyebutkan bahwa wilayah Distrik Amuma, Kabupaten Yahukimo, telah diperjualbelikan
untuk kepentingan tertentu. Ia memastikan informasi itu tidak benar.
“Kami sebagai anak daerah bingung. Siapa yang menjual? Siapa pembelinya? Kami tidak tahu. Isu bahwa tanah Amuma telah dijual itu tidak benar,” katanya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat adat menjaga ketat wilayah mereka dan setiap orang yang masuk harus diketahui oleh tokoh adat dan masyarakat setempat.
“Keutuhan wilayah kami terus kami kawal dan jaga. Tidak boleh ada wilayah adat yang diperjualbelikan,” tambahnya.
Hengki menjelaskan bahwa satu-satunya fasilitas yang mereka izinkan adalah pembangunan dan pengoperasian lapangan terbang untuk membuka akses transportasi bagi masyarakat Amuma menuju Wamena, Dekai, dan daerah lainnya.
“Wilayah kami sangat rawan. Jika tanah diperjualbelikan kepada pihak luar, masyarakat akan kehilangan tempat hidup mereka. Jadi saya tegaskan, tidak ada tanah di Amuma yang dijual. Semua informasi itu hoaks,” tegasnya.
Sebagai representasi dari masyarakat Obio yang duduk di parlemen DPR Papua Pegunungan, Hengki Bayage menolak keras
Dikatakan, sampai saat ini saya belum pernah mendapat informasi sedikitpun untuk rencana pembukaan perusahaan Nikel dan batu bara di Obio, maka saya menolak atas desakan masyarakat setempat yang saya wakili mereka.
Sementara itu, Hengki menyampaikan bahwa pada Selasa, 9 Desember 2025, ia melakukan perjalanan dari Dekai ke Distrik Obio untuk menyerahkan bingkisan kasih Natal berupa bahan makanan kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian menjelang perayaan 25 Desember.
“Distrik Obio dan beberapa distrik lain merupakan Dapil saya, dan selalu memberikan dukungan politik kepada saya. Karena itu, setiap Natal saya hadir untuk berdialog dan membawa bantuan kasih,” ujarnya.
Ia memastikan bahwa kunjungannya murni untuk tugas kemanusiaan dan tidak terkait dengan upaya pembukaan tambang seperti yang disebarkan dalam rekaman suara yang beredar.
“Apa yang saya lakukan murni untuk memberikan bingkisan kasih kepada masyarakat,” tegasnya.
Setelah kegiatan selesai sekitar pukul 15.30 WIT, ia langsung kembali ke Dekai tanpa melakukan komunikasi apa pun yang berkaitan dengan aktivitas tambang.
Namun, ia menyayangkan beredarnya rekaman suara yang mencatut namanya dan menuduhnya terlibat dalam pembukaan tambang nikel dan batubara di Obio.
“Sampai detik ini saya tidak pernah berkomunikasi soal itu, dan saya tidak tahu-menahu tentang rencana gelap tersebut. Jika ada pihak yang mencoba mencatut nama saya, itu tidak benar,” tegasnya.
Hengki menegaskan, “Saya jujur ingin sampaikan bahwa saya tidak terlibat sedikit pun dalam percakapan dalam rekaman itu.”
(Arch))
















