Joni Betaubun Motivasi Mahasiswa Baru FH Uncen: Gelar Sarjana Tak Cukup, Integritas dan Kompetensi Jadi Kunci”

Ketua Komisi IV DPR Papua, Joni Y. Betaubun, SH, MH saat memberikan materi kepada mahasiswa baru FH Uncen

Jayapura, Teraspapua.com – Ketua Komisi IV DPR Papua, Joni Y. Betaubun, SH, MH, memberikan motivasi kepada mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih (FH Uncen) dalam rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Kampus FH Uncen, Abepura, Rabu (12/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Joni membawakan materi bertajuk “Professional, Inspiration, Experience” dalam Talk Show Alumni dan Profesi Hukum. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kehidupan akademik sekaligus memberikan gambaran kepada mahasiswa baru mengenai perjalanan yang akan mereka tempuh dari bangku kuliah menuju dunia profesional.

Sebagai alumni Fakultas Hukum Uncen angkatan 2002 dan mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Uncen, Joni mengajak mahasiswa baru tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga mulai membangun karakter, pengalaman, kemampuan berorganisasi, serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

“Hari ini saya diundang oleh panitia PKKMB Fakultas Hukum Uncen untuk memberikan materi sekaligus motivasi kepada mahasiswa baru. Mereka sedang berada pada tahap awal untuk mengenal lingkungan kampus dan kehidupan sebagai mahasiswa,” kata Joni.

Menurut dia, masa awal perkuliahan merupakan momentum penting bagi mahasiswa untuk menentukan arah pengembangan diri. Karena itu, mahasiswa baru perlu memanfaatkan masa kuliah bukan hanya untuk mengikuti proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga memperkaya pengalaman melalui berbagai aktivitas organisasi dan kegiatan kemahasiswaan.

Joni mendorong mahasiswa untuk aktif dalam organisasi intra maupun ekstra kampus. Menurut dia, pengalaman berorganisasi dapat menjadi salah satu ruang pembelajaran kepemimpinan yang tidak selalu diperoleh melalui proses perkuliahan.

Ia menyebut sejumlah organisasi intra kampus yang dapat diikuti mahasiswa, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (DPMF), dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ).

Sementara di luar kampus, mahasiswa juga dapat mengembangkan pengalaman melalui organisasi kemahasiswaan seperti GMKI, HMI, PMKRI, PMR, dan GMNI, sesuai dengan pilihan serta minat masing-masing.

“Harapan kita, mahasiswa baru ini memiliki jiwa kepemimpinan. Karena itu saya ajak mereka untuk aktif dalam kegiatan organisasi, baik internal maupun eksternal kampus. Mereka harus aktif dalam kegiatan fakultas, kegiatan hukum, kegiatan kerohanian, maupun berbagai kegiatan positif lainnya,” ujarnya.

Joni mengatakan memasuki Fakultas Hukum bukan sekadar memasuki dunia perkuliahan. Menurut dia, menjadi mahasiswa hukum merupakan langkah awal untuk memasuki dunia pemikiran tentang keadilan, tanggung jawab, pelayanan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ia menilai mahasiswa hukum dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, memahami aturan dan prinsip keadilan, menyampaikan argumentasi secara bertanggung jawab, menghargai perbedaan, serta memahami berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Menjadi mahasiswa hukum berarti belajar untuk berpikir kritis, memahami aturan dan keadilan, menyampaikan argumentasi secara bertanggung jawab, menghargai perbedaan, memahami persoalan masyarakat, dan pada akhirnya menggunakan ilmu hukum untuk menghadirkan dampak yang nyata,” kata Joni.

Dalam konteks tersebut, kata dia, ilmu hukum tidak seharusnya berhenti pada pemahaman teori dan peraturan perundang-undangan. Ilmu yang diperoleh selama kuliah harus mampu diterapkan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Joni kemudian menjelaskan makna Professional, Inspiration, Experience yang menjadi tema materi yang disampaikannya.

Menurut dia, konsep tersebut merupakan pengalaman pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dengan pengalaman nyata alumni sekaligus memberikan gambaran mengenai berbagai pilihan profesi di bidang hukum.

Tujuannya, kata Joni, bukan sekadar menjawab pertanyaan mengenai pekerjaan yang dapat dilakukan setelah lulus dari Fakultas Hukum.

“Bukan hanya menjawab pertanyaan setelah lulus saya bisa bekerja sebagai apa, tetapi lebih jauh lagi, saya ingin menjadi pribadi seperti apa melalui ilmu hukum yang saya pelajari,” ujarnya.

Joni mengingatkan mahasiswa baru bahwa perjalanan menuju profesi hukum bukan sesuatu yang dapat dicapai secara instan. Ada proses panjang yang harus dilalui, mulai dari pendidikan, pengembangan kompetensi, pembentukan karakter, hingga membangun integritas.

Menurut dia, mahasiswa perlu memahami bahwa dunia kampus dan dunia profesional memiliki karakter yang berbeda.

Di lingkungan kampus, mahasiswa akan banyak berhadapan dengan teori, konsep hukum positif, metode berpikir, penelitian, serta penyusunan argumentasi. Sementara ketika masuk ke dunia profesional, lulusan hukum akan berhadapan langsung dengan berbagai persoalan nyata.

Persoalan tersebut antara lain tekanan pekerjaan, tanggung jawab, konflik kepentingan, pengambilan keputusan yang memiliki konsekuensi, hingga menghadapi masyarakat dengan latar belakang dan kepentingan yang beragam.

“Mahasiswa perlu memahami dunia profesi sejak dini agar dapat mempersiapkan diri secara lebih matang, memiliki integritas, dan siap memberikan dampak,” katanya.

Karena itu, Joni meminta mahasiswa sejak awal membangun empat fondasi penting, yakni pengetahuan yang kuat, keterampilan yang relevan, karakter yang baik, dan integritas yang tidak dapat ditawar.

Ia menegaskan, mahasiswa hukum tidak cukup hanya menjadi pribadi yang cerdas secara akademik. Seorang calon profesional hukum juga harus mampu menunjukkan karakter, integritas, serta keberanian untuk mengambil peran dalam kehidupan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Joni yang merupakan alumni FH Uncen angkatan 2002 juga mengajak mahasiswa baru belajar dari perjalanan para alumni.

Menurut dia, alumni bukan sekadar orang yang pernah menempuh pendidikan di kampus yang sama. Lebih dari itu, alumni merupakan gambaran mengenai berbagai kemungkinan masa depan yang dapat ditempuh seorang mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan.

“Alumni adalah cermin perjalanan mahasiswa. Ketika mahasiswa melihat alumni yang berhasil, pertanyaannya bukan hanya bagaimana saya bisa menjadi seperti dia, tetapi profesi apa yang telah dia lalui sehingga bisa sampai di sana,” ujarnya.

Joni mengatakan, belajar dari alumni berarti mempelajari berbagai aspek yang tidak selalu tertulis dalam buku, seperti perjuangan, kegagalan, kesempatan, pilihan karier, jejaring, disiplin, integritas, hingga keberanian dalam mengambil keputusan.

Menurut dia, pengalaman para alumni dapat menjadi referensi bagi mahasiswa untuk menentukan arah perjalanan mereka sendiri.

Karena itu, mahasiswa baru diminta tidak hanya menjadi penonton dalam berbagai kegiatan kampus. Mereka harus berani mengambil bagian, mencoba berbagai pengalaman, membangun relasi, serta mengembangkan kemampuan yang dapat menjadi bekal ketika memasuki dunia kerja.

Joni kemudian mengajak mahasiswa mulai mengumpulkan pengalaman sejak berada di bangku kuliah.

Menurut dia, ketika nantinya memasuki dunia kerja, lulusan Fakultas Hukum seharusnya tidak hanya membawa ijazah sebagai bukti telah menyelesaikan pendidikan.

Mahasiswa juga harus mampu menunjukkan kemampuan dan pengalaman yang pernah diperoleh selama kuliah.

“Ketika suatu hari nanti memasuki dunia kerja, Anda tidak hanya berkata, ‘Saya lulusan Fakultas Hukum’. Tetapi Anda harus bisa berkata, ‘Ini yang pernah saya kerjakan, ini kompetensi saya, ini pengalaman saya, dan ini kontribusi yang dapat saya berikan’,” kata Joni.

Ia menilai pengalaman yang dikumpulkan mahasiswa selama berada di kampus merupakan investasi penting bagi masa depan.

Pengalaman mengikuti organisasi, terlibat dalam kegiatan akademik maupun nonakademik, mengikuti diskusi, kegiatan sosial, maupun aktivitas yang berkaitan dengan hukum, menurut dia, akan membantu mahasiswa membangun kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, dan penyelesaian masalah.

“Pengalaman yang Anda kumpulkan hari ini adalah investasi terbaik untuk masa depan Anda sebagai profesional hukum yang berintegritas dan berdampak,” ujarnya.

Di hadapan mahasiswa baru, Joni juga menyampaikan pesan agar mereka tidak takut menghadapi kegagalan.

Ia mengingatkan bahwa perjalanan sebagai mahasiswa tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Mahasiswa mungkin memperoleh nilai yang tidak sesuai target, kalah dalam kompetisi, melakukan kesalahan dalam kegiatan, ditolak ketika mencari kesempatan, maupun mengalami kegagalan dalam berbagai proses.

Namun, menurut dia, kegagalan bukan alasan untuk berhenti.

“Jangan takut gagal. Yang perlu ditakuti adalah berhenti belajar karena pernah gagal,” tegasnya.

Joni mengatakan, pengalaman menghadapi kegagalan justru dapat menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter mahasiswa.

Karena itu, mahasiswa diminta menjadikan setiap kesalahan sebagai bahan evaluasi dan setiap kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar serta memperbaiki diri.

Ia juga mengingatkan mahasiswa bahwa gelar akademik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang lulusan hukum.

“Gelar Sarjana Hukum menunjukkan bahwa Anda telah menyelesaikan pendidikan. Tetapi integritas, kompetensi, dan kontribusi Anda yang akan menunjukkan siapa Anda sebenarnya,” kata Joni.

Menutup materinya, Joni mengajak mahasiswa baru FH Uncen menjadikan masa perkuliahan sebagai proses untuk mempersiapkan diri menjadi profesional hukum yang memiliki kompetensi sekaligus keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.

Ia berharap mahasiswa baru tidak hanya mengejar kelulusan, tetapi juga membangun karakter dan pengalaman yang dapat menjadi bekal ketika mereka terjun ke dunia profesional.

Menurut Joni, dunia hukum membutuhkan generasi muda yang mampu berpikir kritis, memiliki keberanian, berintegritas, serta mampu menggunakan pengetahuan hukum untuk memberikan solusi terhadap persoalan masyarakat.

“Selamat memulai perjalanan dari mahasiswa hukum menjadi profesional hukum untuk keadilan, masyarakat, dan masa depan,” ujarnya.

Melalui kegiatan PKKMB tersebut, Joni berharap mahasiswa baru FH Uncen dapat memanfaatkan seluruh proses pendidikan dan pengalaman organisasi selama berada di kampus untuk membentuk diri sebagai generasi muda hukum Papua yang berilmu, berintegritas, dan berkontribusi.

(Har)