DAERAH  

Tim Patriot UGM dan Pemprov Papua Selatan Bahas Penguatan Pertanian di Kawasan Transmigrasi

Merauke, Teraspapua.com – Tim Task Force Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Gadjah Mada (UGM) 2026 bersama Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Selatan membahas strategi peningkatan produktivitas pertanian di kawasan transmigrasi, khususnya pengembangan komoditas cabai di Distrik Elikobel, Kabupaten Merauke.

Pembahasan tersebut berlangsung saat Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Selatan melakukan kunjungan ke Tim Ekspedisi Patriot 2026 PS011 di Distrik Elikobel, belum lama ini.

Pertemuan menjadi bagian dari koordinasi antara Tim Task Force Ekspedisi Patriot 2026 dan pemerintah daerah untuk mengidentifikasi berbagai persoalan sekaligus merumuskan langkah pengembangan sektor pertanian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di kawasan transmigrasi.

Salah satu persoalan utama yang mengemuka dalam pertemuan tersebut adalah keterbatasan sumber air untuk mendukung aktivitas pertanian, terutama ketika memasuki musim kemarau.

Tim Task Force Ekspedisi Patriot 2026 menyampaikan sejumlah gagasan yang sebelumnya telah dihimpun melalui proses koordinasi dan observasi terhadap kondisi kawasan. Salah satu gagasan yang dibahas ialah pengembangan infrastruktur sumber air untuk menunjang keberlanjutan produksi pertanian.

Ketersediaan air dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas lahan, termasuk untuk budidaya tanaman cabai. Komoditas tersebut membutuhkan pasokan air yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan produksi, terlebih ketika curah hujan menurun dan kondisi lahan mengalami kekeringan.

Persoalan itu juga dirasakan langsung oleh masyarakat di kawasan transmigrasi. Keterbatasan sumber air membuat petani harus menghadapi tantangan dalam mempertahankan tanaman agar tetap produktif selama musim kemarau.

Kepala Kampung Bupul Indah, Jasmin, mengatakan sejumlah sumur yang selama ini menjadi sumber air masyarakat mengalami kekeringan ketika musim kemarau. Kondisi tersebut turut memengaruhi kegiatan pertanian warga.

Menurut dia, dukungan terhadap sistem pengairan akan sangat membantu masyarakat dalam mempertahankan produksi pertanian, terutama tanaman cabai yang membutuhkan penyiraman secara rutin.

“Kalau kami diberi dukungan untuk pengairan tentunya akan sangat membantu dan berdampak pada peningkatan hasil panen tanaman cabai kami. Terutama saat musim kemarau seperti ini, tanaman cabai perlu sering disiram air,” ujar Jasmin.

Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian Tim Task Force Ekspedisi Patriot UGM dalam melihat pengembangan sektor pertanian di kawasan transmigrasi.

Koordinator Lapangan Tim Task Force TEP UGM 2026, Julian Ranik, mengatakan pengembangan produktivitas pertanian tidak hanya berkaitan dengan teknik budidaya dan peningkatan hasil panen. Infrastruktur dasar yang mampu menjawab kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menopang keberlanjutan pertanian.

“Pengembangan produktivitas pertanian perlu didukung oleh infrastruktur dasar yang mampu menjawab kondisi dan kebutuhan kawasan. Penyediaan sumber air menjadi salah satu gagasan yang diharapkan dapat dikaji lebih lanjut sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi pertanian pada musim kemarau,” ujar Julian.

Menurut dia, ketersediaan sumber air yang memadai dapat menjadi salah satu faktor pendukung agar masyarakat tetap dapat melakukan kegiatan budidaya ketika kondisi kemarau menyebabkan sumber air alami maupun sumur masyarakat mengalami penurunan debit.

Karena itu, gagasan pembangunan atau pengembangan infrastruktur air disampaikan kepada Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Selatan untuk dapat dikaji lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kawasan.

Pembahasan antara Tim Patriot UGM dan pemerintah daerah tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi cabai. Pengembangan pertanian juga ditempatkan sebagai bagian dari strategi memperkuat perekonomian masyarakat di kawasan transmigrasi.

Dengan dukungan infrastruktur dasar yang memadai, kegiatan pertanian diharapkan dapat berlangsung secara lebih berkelanjutan. Ketersediaan air dapat membantu petani mempertahankan kontinuitas budidaya, meningkatkan produktivitas lahan, sekaligus membuka peluang pengembangan usaha pertanian masyarakat.

Kawasan Transmigrasi Muting menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam pembahasan tersebut. Penguatan sektor pertanian di kawasan ini dinilai memiliki keterkaitan dengan upaya mendorong aktivitas ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.

Tim Ekspedisi Patriot UGM 2026 sebelumnya melakukan koordinasi dan observasi untuk melihat berbagai potensi serta persoalan yang dihadapi masyarakat. Hasil pengamatan tersebut kemudian menjadi bahan diskusi bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait.

Melalui sinergi tersebut, pengembangan pertanian diharapkan tidak berhenti pada peningkatan produksi komoditas tertentu, tetapi juga dapat diarahkan pada penguatan rantai ekonomi masyarakat, mulai dari budidaya hingga peluang pengembangan usaha berbasis hasil pertanian.

Ketersediaan air menjadi salah satu kebutuhan mendasar yang dinilai perlu mendapatkan perhatian karena berkaitan langsung dengan kemampuan petani mempertahankan produktivitas lahan sepanjang tahun.

Kolaborasi antara Tim Task Force Ekspedisi Patriot UGM dan pemerintah daerah selanjutnya diharapkan dapat menghasilkan langkah yang lebih terukur dalam mendukung pengembangan pertanian di kawasan transmigrasi Papua Selatan.

Dengan pendekatan yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat dan karakteristik kawasan, sektor pertanian diharapkan dapat berkembang tidak hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga sebagai salah satu penggerak ekonomi lokal di wilayah tersebut.