Penantian 12 Tahun, Buku Biografi Tiga Guru Perintis GKI di Yapen Akhirnya Terbit

Serui, Teraspapua.com – Penantian selama 12 tahun akhirnya berbuah hasil. Buku biografi yang mengangkat perjalanan tiga guru perintis penyebaran Injil di Kepulauan Yapen, Papua, akhirnya rampung dan diterbitkan pada 2026.

Buku yang ditulis Penehas Moman tersebut diberi judul “Menapak Jejak Sang Gembala dari Kampung ke Kampung”. Buku ini menjadi catatan sejarah yang mendokumentasikan perjalanan tiga guru perintis, yakni Stefanus Rumbewas, Yakob Aisoki Rombe, dan Petrus Songgini.

Bagi Penehas, penulisan buku tersebut bukan sekadar proyek dokumentasi sejarah. Prosesnya menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan tentang perjalanan gereja dan orang-orang yang memiliki peran penting dalam perkembangan Kekristenan di Kepulauan Yapen.

Ia menilai sejarah gereja tidak semestinya hanya dipahami sebagai kumpulan tanggal dan peristiwa masa lalu. Sejarah juga menjadi pengingat mengenai perjalanan panjang, tantangan, serta kesetiaan Tuhan dalam kehidupan gereja dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Sejarah gereja bukanlah sekadar catatan tanggal dan peristiwa masa lalu, tetapi merupakan batu penjuru yang mengingatkan akan kebesaran dan kesetiaan Tuhan bagi gereja,” kata Penehas saat ditemui di kediamannya.

Riset Berlangsung 12 Tahun

Penehas mengatakan, gagasan untuk menulis biografi ketiga guru perintis tersebut telah muncul sejak sekitar 12 tahun lalu. Namun, proses pengumpulan data hingga penyusunan naskah membutuhkan waktu panjang karena sejumlah informasi sejarah tidak mudah ditemukan.

Ia harus menelusuri berbagai sumber dan menggali informasi dari narasumber yang masih mengetahui perjalanan ketiga tokoh tersebut.

Proses itu menjadi semakin sulit karena sebagian saksi sejarah yang pernah hidup dan berinteraksi langsung dengan para guru perintis telah meninggal dunia.

Kondisi tersebut membuat Penehas harus mencari narasumber lain yang masih memiliki pengetahuan mengenai perjalanan pelayanan ketiga guru tersebut.

Selain persoalan sumber data, proses penulisan juga menghadapi keterbatasan anggaran yang digunakan untuk mendukung kegiatan pencarian informasi dan penyusunan buku.

Meski menghadapi berbagai kendala, proses tersebut akhirnya dapat diselesaikan. Pada 2026, buku “Menapak Jejak Sang Gembala dari Kampung ke Kampung” resmi terbit sebagai hasil perjalanan panjang selama lebih dari satu dekade.

Kisah Tiga Guru Perintis

Penehas menjelaskan, buku tersebut memuat biografi tiga guru perintis yang memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan gereja di Kepulauan Yapen.

Ketiganya adalah Stefanus Rumbewas, Yakob Aisoki Rombe, dan Petrus Songgini.

Menurut Penehas, ketiga tokoh tersebut merupakan bagian dari generasi awal guru yang menjalankan tugas pelayanan dan pendidikan di sejumlah wilayah Papua pada masa transisi dari kehidupan masyarakat yang masih kuat dengan kepercayaan lama menuju masuknya Injil.

Ia mencatat, Yakob Aisoki Rombe merupakan guru asal Yapen yang ditempatkan di Tanah Tabi, tepatnya di Nimboran, pada sekitar 1929-1930.

Sementara Stefanus Rumbewas ditempatkan di Menawi dan Kontiunai. Pada 1929, ia kemudian ditempatkan di Waren sebagai salah satu pionir pelayanan.

Adapun Petrus Songgini tercatat sebagai guru kedelapan yang ditempatkan di Kampung Kanaki pada 1930. Ia kemudian menjadi guru pertama yang ditempatkan di Kampung Mamara, Yapen Utara, pada 1934.

Sebelum menjalankan tugas sebagai guru, ketiga tokoh tersebut menempuh pendidikan pada masa awal perkembangan pendidikan Kristen di Papua.

Penehas mencatat, mereka menamatkan pendidikan di Sekolah Peradaban sekitar 1922/1923, kemudian melanjutkan pendidikan ke VVS Mansinam dan CVO atau Normal School di Miei hingga menyelesaikan pendidikan pada sekitar 1928-1930.

” Tercatat dalam sejarah GKI di Kepulauan Yapen bahwa Yakob Aisoki Rombe adalah guru pertama asal Yapen yang ditempatkan di Tanah Tabi, tepatnya di Nimboran tahun 1929/1930,” ujarnya.

“Stefanus Rumbewas ditempatkan di Menawi dan Kontiunai, kemudian pada 1929 ditempatkan di Waren sebagai pionir. Sementara Petrus Songgini merupakan guru yang kedelapan di Kampung Kanaki pada 1930 dan guru pertama di Kampung Mamara, Yapen Utara, pada 1934,” sambungnya.

Melayani di Tengah Tantangan

Penehas mengatakan, perjalanan pelayanan ketiga guru perintis tersebut tidak berlangsung dalam kondisi yang mudah.

Mereka menjalankan tugas bersama guru-guru yang berasal dari Ambon dan Sanger pada masa transisi antara kehidupan masyarakat yang masih dipengaruhi kepercayaan lama dan masuknya Injil.

Situasi tersebut menghadirkan berbagai tantangan dan risiko. Para guru tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan awal penyebaran Injil di berbagai kampung.

Menurut Penehas, perjuangan tersebut membutuhkan ketekunan dan kesetiaan. Mereka harus menghadapi berbagai keterbatasan untuk menjalankan tugas pelayanan hingga akhir kehidupan.

“Mereka bekerja bersama guru-guru Ambon dan Sanger pada masa transisi antara zaman kekafiran dan Injil yang penuh tantangan dan risiko. Sungguh sangat rumit bila direnungkan. Namun tantangan itu dilalui dengan setia sampai akhir hidup dan Injil Kristus menang di tanah ini,” katanya.

Bagi Penehas, kisah tersebut penting untuk kembali dibaca oleh generasi sekarang. Ia berharap pengalaman para guru perintis tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi dapat menjadi pelajaran bagi generasi muda.

Menurut dia, keterbatasan pengetahuan dan fasilitas pada masa itu tidak menghalangi para guru untuk menjalankan tugas yang mereka yakini sebagai bagian dari pelayanan.

“Kalau membaca biografi ini, mengajak kita untuk mengingat kembali pada masa lampau dan belajar dari pengalaman guru-guru perintis terlebih dahulu, yang walaupun terbatas pengetahuannya, namun tetap dipakai Tuhan untuk tanah ini,” ujarnya.

Ajak Generasi Muda Rawat Sejarah GKI

Penerbitan buku tersebut juga menjadi pesan Penehas kepada generasi muda Kristen agar tidak melupakan sejarah perjalanan gereja di Papua, khususnya GKI di Kepulauan Yapen.

Ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi pembaca sejarah, tetapi juga mengambil bagian dalam mendokumentasikan berbagai kisah yang selama ini belum tertulis.

Menurutnya, perkembangan zaman dan perubahan generasi membuat sejumlah cerita sejarah berpotensi hilang apabila tidak segera didokumentasikan.

Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk ikut menulis dan mengarsipkan sejarah gereja sehingga kisah perjuangan para pendahulu dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

Ia menilai dokumentasi sejarah menjadi semakin penting karena sebagian pelaku dan saksi langsung dari perjalanan awal gereja di Yapen kini sudah tidak ada.

“Berbagai hal kami lewati dalam menulis buku ini, yaitu soal mencari data yang susah untuk digali kembali, karena para saksi yang bersama dengan ketiga guru perintis ini sudah tidak ada. Maka kami cari orang-orang yang masih ada yang mengetahui cerita sejarah,” katanya.

Selain persoalan narasumber, keterbatasan anggaran juga menjadi salah satu tantangan dalam proses penyusunan buku.

Namun, seluruh kendala tersebut tidak menghentikan proses penulisan yang telah berlangsung selama 12 tahun.

Kini, “Menapak Jejak Sang Gembala dari Kampung ke Kampung” menjadi salah satu upaya Penehas Moman untuk menyelamatkan jejak sejarah tiga guru perintis sekaligus mengingatkan generasi masa kini bahwa perjalanan gereja di Kepulauan Yapen dibangun melalui proses panjang, pengorbanan, dan kesetiaan para pendahulu.

Buku tersebut diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi perjalanan tiga tokoh, tetapi juga menjadi bahan refleksi bagi generasi muda untuk memahami sejarah, menghargai perjuangan para pendahulu, serta melanjutkan karya pelayanan dan pendidikan yang telah dirintis sejak puluhan tahun lalu.

(EB)