Kamis, Januari 21, 2021
Beranda POLITIK & PEMERINTAHAN Ketua DPRP : Kasus Penembakan di Pucak Kepolisian Harus Ungkap Pelakunya

Ketua DPRP : Kasus Penembakan di Pucak Kepolisian Harus Ungkap Pelakunya

Jayapura,Teraspapua.com – Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), dalam hal ini ketua DPR Papua Jhoni Banua Rouw, meminta Kepolisian harus bekerja secara profesional mengungkap dan memproses pelaku siapapun penembakan empat pelajar dan satu Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Puncak, Papua pada 20 November 2020 lalu di Kabupaten Puncak.

Iya, mengatakan pihaknya mengutuk keras tindakan yang sewenang-wenang penembakan terhadap empat pelajar dan satu Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Puncak, Papua pada 20 November 2020 lalu.

“Kesempatan ini, kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam terutama kepada keluarga korban, sekaligus mengecam tindakan yang tidak manusiawi ini. Siapapun tentu tidak bisa menerima ini. Anak-anak sekolah dan satu pegawai negara harus meninggal dengan cara keji.

Pihak berwajib harus mengusut dan memproses hukum pelaku, apalagi ada saksi hidup dan barang-barang bukti,” kata Jhony Banua Rouw dalam keterangan persnya di Jayapura, Sabtu (05/12/2020).

Menurutnya, dari lima orang tersebut, empat di antaranya meninggal dunia. Mereka adalah Atanius Murib, Les Mosip, Wenis Wenda, dan Akis Alom (ASN Dinas Pertanian Puncak).

Sementara Manus Murib (16) selamat dan menjadi korban selamat dari peristiwa naas tersebut, tukasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Khusus (Pansus) Kemanusiaan DPR Provinsi Papua, Feryana Wakerkwa, S. IP, M mengungkap temuan Pansus Kemanusiaan di lokasi penemuan empat jenazah.

“Barang-barang bukti itu ditemukan oleh enam orang teman dan kerabat keluarga korban yang hendak pergi memastikan keberadaan Atanius Murib yang ditembak dan meninggal dalam perjalanannya pulang ke kampung halaman untuk merayakan Natal bersama orang tuanya,” jelas Feryana Wakerkwa.

Lanjut dikatakannya, selain barang-barang bukti yang sudah diamankan oleh pihak keluarga korban dari lokasi kejadian, pihaknya juga sudah mendengar langsung kesaksian Manus Murib yang selamat.

“Kesaksiannya penting sekali sehingga kami juga mendorong adanya jaminan keamanan bagi Manus,” harapnya.

Masi ditempat yang sama, Anggota Pansus Kemanusiaan DPR Papua, Laurenzus Kadepa menjelaskan laporan yang pihaknya terima di lapangan, masyarakat tidak leluasa beraktifitas di luar rumah karena semua aktivitas harus dihentikan dan kembali ke rumah masing-masing.

“Jam 5-6 sore jalanan sudah sepi di dalam kota. Beberapa gereja bahkan tidak bisa melangsungkan agenda rutinitas gereja setiap Desember atau dibilang Gerbang Natal,” ujar Kadepa.

“Ini artinya rakyat belum merasa aman. Kami minta Kepala Daerah harus berikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi seluruh masyarkat di Puncak,” timpalnya.

Namantus Gwijangge yang juga sebagai anggota Pansus Kemanusiaan menjelaskan, dari kerja Tim Pansus kemarin pihaknya sudah melakukan rapat dan memyimpulkan bahwa saksi dan alat bukti sudah cukup jelas untuk memberikan rekomendasi-rekomendasi penting dalam proses penyelesaian. Kemudian dari hasil kerja Tim Pansus sudah melakukan upaya-upaya sesuai dengan tugas Pansus.

“Jadi tugas kami tim Pansus untuk memberikan rekomendasi-rekomendasi kepada pihak-pihak yang berwenang untuk melakukan penyelesaian-penyelesaian kasus ini nanti. Sehingga dari semua fakta-fakta yang terkumpul di Pansus, kami sangat berharap terutama di masa bulan Desember ini atau bulan perayaan Natal ini tidak boleh lagi ada penembakan-penembakan. Baik itu dari pihak TPM OPM maupun pihak TNI/Pokri,” tegasnya.

Sebab kata Namantus, setiap bulan Desember selalu saja terjadi konflik. Seakan akan bulan Desember ini menjadi bulan jatuhnya korban rakyat sipil.

“Hampir setiap tahun di bulan Desember selalu saja ada korban penembakan. Sehingga kami sangat berharap supaya selama di bulan Desember ini dan bulan-bulan berikutnya tidak boleh lagi terjadi penembakan, baik dari pihak manapun,” harapnya.

Sementara itu, anggota Pansus Kemanusiaan lainnya, Decky Nawipa menambahkan, dalam menyikapi peristiwa ini, pihaknya hadir atas nama negara untuk menginvestigasi persoalan-persoalan tersebut.

“Karena selama ini kami menilai setiap peristiwa penembakan yang terjadi tidak pernah kita menyebut siapa dia pelakunya. Entah itu TPM OPM maupun TNI/Polri karena masing-masing selalu menjaga nama institusi. Sehingga pelakunya tidak pernah kita sebut,” kata Decky Nawipa.

Menurutnya, ini yang membuat rakyat Indonesia lebih khusus rakyat Papua tidak percaya terhadap TNI/Polri maupun TPM OPM, lantaran tidak pernah jelas siapa dia pelakunya.

“Kita tidak pernah menyebut itu. Kalau memang kita benar-benar ingin mengamankan dan mengayomi rakyat, maka mari kita sebut dia, siapa pelakunya dan proses dia secara hukum. Karena setiap tahun jatuh korban dan kita tidak pernah sebut pelakunya, sehingga kepercayaan rakyat kepada negara makin hari makin menurun,” tekannya.

“Jadi kami DPR hadir disana, bukan kami mau membela TPN OPM atau TNI/Polri. Kami hadir disana karena satu misi khusus yaitu Kemanusiaan. Entah itu rakyat pribumi disana ataupun pendatang yang jadi korban, kami tetap ada disana untuk melindungi rakyat,” pungkasnya.

(Matu)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Ikuti Kami

519FansSuka

Terpopuler

- Advertisment -
- Advertisment -
- Advertisment -
- Advertisment -
- Advertisment -

Terkomentari