Shihezi, Teraspapua.com – Senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Provinsi Papua, Pdt. David Harold Waromi, mulai merintis langkah strategis dalam menghadirkan solusi logistik modern di Tanah Papua melalui pemanfaatan teknologi drone kargo.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI), belum lama ini bersama perusahaan teknologi dirgantara asal China, Ursa Aeronautical Technology (UAT) Co., Ltd., dalam kunjungannya ke Kota Shihezi, Provinsi Xinjiang. Kota tersebut berjarak sekitar dua jam perjalanan darat dari Urumqi, ibu kota Xinjiang.
Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda lanjutan Waromi usai mengikuti rangkaian kegiatan resmi DPD RI di Beijing. Dari ibu kota China tersebut, ia melanjutkan perjalanan udara selama sekitar lima jam menuju Urumqi sebelum bertolak ke Shihezi.
Dalam kunjungan tersebut, Waromi didampingi oleh Prof. J.W. Saputro, dosen Universitas Pertahanan RI yang juga menjabat sebagai Ketua Institut 1945, sebuah lembaga yang berfokus pada pengembangan riset dan teknologi nasional.
UAT diketahui merupakan satu-satunya produsen di dunia yang mengembangkan pesawat tanpa awak (unmanned aerial vehicle/UAV) berukuran besar bernama Hongyan HY-100. Drone kargo ini memiliki bobot kosong sekitar 3 ton dengan daya angkat mencapai 5 ton, serta mampu membawa muatan hingga hampir 2 ton dengan jarak tempuh mencapai 1.800 kilometer.
Waromi menilai teknologi tersebut sebagai lompatan besar yang sangat relevan untuk menjawab persoalan distribusi logistik di Papua.
“Teknologi drone kargo ini adalah terobosan yang harus segera kita manfaatkan untuk menjawab tantangan logistik di Tanah Papua,” ujar Waromi dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, kondisi geografis Papua yang didominasi wilayah pegunungan dan daerah terpencil menyebabkan distribusi barang sangat bergantung pada transportasi udara dengan biaya tinggi. Akibatnya, harga kebutuhan pokok di sejumlah wilayah menjadi jauh lebih mahal dibanding daerah lain di Indonesia.
Melalui kerja sama ini, Waromi berharap teknologi drone kargo dapat menjadi solusi efektif untuk menekan biaya logistik sekaligus mempercepat distribusi barang ke wilayah-wilayah sulit dijangkau, khususnya di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Direktur UAT, Yuting Ping, mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi negara pertama di luar China yang telah memberikan sertifikasi laik udara untuk pesawat HY-100 melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
“Indonesia menjadi prioritas kami karena karakter geografisnya yang terdiri dari ribuan pulau sangat ideal untuk pemanfaatan drone kargo berukuran besar,” kata Yuting.
Ia menambahkan, Papua merupakan wilayah yang sangat potensial untuk penerapan teknologi ini, mengingat luas wilayah serta tantangan topografi yang kompleks.
Secara teknis, HY-100 dirancang mampu lepas landas dan mendarat di landasan pendek dan sederhana, termasuk landasan rumput, selama permukaannya keras dan rata. Pesawat ini juga dilengkapi teknologi navigasi berbasis GPS terbaru yang memungkinkan operasi tanpa bantuan beacon atau sinyal radio konvensional.
Sebagai pesawat tanpa awak berukuran besar pertama di dunia, HY-100 beroperasi secara otomatis mengikuti rencana penerbangan (flight plan) yang telah diprogram. Selain itu, pesawat ini didukung teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang memungkinkan adaptasi fleksibel terhadap kondisi penerbangan.
Pengoperasian pesawat dipantau oleh operator dari Ground Control Station (GCS), dengan opsi kendali manual penuh apabila diperlukan.
Sepulang dari Xinjiang, Waromi menyatakan akan segera menindaklanjuti kerja sama tersebut dengan mempersiapkan ekosistem low-altitude economy di Indonesia. Langkah ini dinilai penting agar operasional drone kargo seperti HY-100 dapat segera diimplementasikan secara optimal.
“Harapannya, teknologi ini bisa segera hadir dan memberikan solusi nyata bagi persoalan logistik di Papua, sekaligus mendorong pemerataan pembangunan di kawasan 3T,” ujar Waromi.
(Veb/red)














