Merindukan Status Terhormat Kependidikan

Oleh : Drs.Jan Willem Ongge,M.Pd,M.Th mahasiswa program Doctor Ilmu Komunikasi Universitas Ciber Asia

Drs.Jan Willem Ongge,M.Pd,M.Th mahasiswa program Doctor Ilmu Komunikasi Universitas Ciber Asia

ADA tiga kesalahan besar yang melekat pada kebijakan, system dan praktik pendidikan dinegri ini. Pertama, selama ini masalah pendidikan tidak pernah dianggap sebagai isu politik. Sebaliknya diarahkan untuk kemenangan politik pragmatis, dalam arti bukan sebagai rekayasa budaya tetapi bagian dari proses pemenangan ideologi politik.

Letak strategisnya praktis pendidikan tidak dipusatkan pada kepentingan peserta didik, melainkan dinilai strategis karena menjangkau semua lapisan masyarakat. Karena departemen pendidikan bukan departeman strategis, maka jabatan menteri pendidikan dianggap sebagai “hadiah menghibur” . Sebagai stroostprijs bagi partai politik,” .

banner 325x300

Kesalahan kedua, para politisi kita lupa bahwa kondisi kehidupan sekarang akan mempengaruhi kondisi kehidupan ekonomi dan politik di masa depan. Kalau kondisi kegiatan pendidikan dibiarkan sebagai persoalan sekunder atau persoalan terakhir, dapat diramalkan kehidupan ekonomi dan politik Indonesia di masa 15 tahun ke depan akan menyedihkan.

Kesalahan yang dilakukan hari ini akan kelihatan pada 50 tahun kemudian. Kita selalu menganggungkan disiplin, kejujuran, bekerja tuntas para bapak bangsa akita, tetapi kita lupa bahwa mereka adalah hasil pendidikan colonial Belanda. Warisan pendidikan colonial yang sejalan dengan keharusan proses pendidikan , dirusak Jepang.

Meskipun hanya 3,5 tahun menjajah, dominasi fasisme dan militerisme sebagai ideologi sangat terasa, di antaranya dalam praksis pendidikan. Hasil pendidikan zaman colonial Jepang hanya menyisahkan generasi fasis, tidak humanis.

Keadaan ini berbeda dari hasil didikan Belanda meskipun baru dijalankan setelah sukses Tanam Paksa yang kuat dengan materi humaniora, tidak fasistis, dan terbedakan betul pendidikan untuk militer dan untuk manusia Indonesia.

Ketiga, terbawa oleh perilaku para politisi dan pemerintahan semi-militer selama hampir 40 tahun, praktis pendidikan nyaris sebagai bidang yang terabaikan.

Kecilnya anggaran pendidikan sejak awal pemerintahan Orde Baru, bahkan juga pada pemerintahan Reformasi, menunjukan cara memandang tetap sama, berangkat dari pertumbuhan ekonomi dengan mengandalkan yang lain akan terbawa serta.

Padahal, kelalaian melakukan investasi pendidikan pada waktu sekarang harus kita tebus dengan harga mahal di hari depan. Sifat dasar pendidikan yang selalu mengacu ke masa depan , menjadi bawabf mewah.

Tiga kesalahan besar itu yang bersifat menjerat. Praksis pendidikan terjerumus jadi slogan, menjadi ironis ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa pendidikan adalah tabungan masa depan.

Memang pendidikan perlu mengacu ke masa depan, tetapi dalam melihat soal, kita selalu mengacu pada kepentingaan sesaat. Jati diri praksis pendidikan sebagai pembudayaa-peradaban maupun ramalan masa depan dan keharusan menanamkan nilai-nilai dasar yang sifatnya sudah menjadi milik bersama.

Konsep pendidikan paling tua, Yunani, merumuskan pendidikan sebagai paideia atau pembentukan seorang manusia. Yakni, pelatihan anak agar menjadi orang- yang benar-benar berbudaya dan mampu mengambil bagian dalam kehidupan sosial budaya masyarakat.

Pendidikan bukanlah sekedar pelatihan, memang tetapi keduanya mengembangkan kodrat dan kemampuan manusia. Peserta didik di kembangkan dalam sebuah konteks, di antaranya tantangan masa depan yang berubah cepat, yang seharusnya jadi cemeti betapa praksis kegiatan-terutama dalam sistim dan praktiknya adalah ke depan. Melihat beragamnya persoalan, belum lagi perubahan cepat yang terjadi.

Pertama, perkembangan serba cepat media informasi menyebabkan Lembaga pendidikan bukan sebagai satu-satunya sumber informas. Guru adalah mediator dan fasilitator-penegasan yang pernah diberikan Piaget-bagi upaya penemuan ilmupengetahuan peserta didik.

Perkembangan internet sebagai sumber informasi alternatif yang canggih, mengakibatkan informasi diperoleh hanya dengan “mengklik” di ataspapan ketik computer. Kegiatan pendidikan tidak bisa menutup matar terhadap perkembangan amat cepat itu.

Konsep bahw pendidikan hanya berlangsung di dalam kelas harus diganti dengan keluwesan dalam hal cara dan menyedia penyampaian. Pendidikan sekedar transfer ilmu pengetahuan dan ketrampilan, perlu diganti dengan kegiatan Bersama-sama menemukan ilmu pengetahuan.

Kedua, kegiatan pendidikan tidak dapat ditempatkan di atas kertas kosong dan terpencil dari kegiatan masyarakat, yang menurut perlunya desentralisai kurikulum dan praksis pendidikan. Artinya, bukan lagi kegiatan kependidikan sebagai alat atau sarana memenangkan pertarungan politik, tetapi didasarkan-demi dan bersumber pada-jati diri setiap peserta didik sebagai pribadi yang unik.

Ketiga, pendidikan sebagai kata kerja (pembudayaan) mengandalkan pemahaman yang benar tentang psikologi perkembangan sehingga ditinggalkan jauh-jauh keterampilan menghafal.

Kegiatan belajar-mengajar berarti bagaimana peserta didik dibimbing menemukan makna sehingga konsep belajar bermakna tidak sekedar jadi kajian filsafat pendidikan tetapi sebagai dasar kebijakan pendidikan. Psikologi pendidikan Piaget maupun Kolberg, misalnya, perlu menjadi pedoman bagaimana proses belajar adalah proses konstruksi.

Dari dalam negeri, filsafat pendidikan diajarkara-secara tajam merumuskan pendidikan sebagai proses pembelajaran-mengandalkan manusia sebagai titik sentral. Hal yang sama, dalam rentang waktu berbeda , dirumuskan dasar-dasar pendidikan oleh Ki Hajar Dewantara maupun oleh pemikir pendidikan yang pernah ada di negeri ini, seperti Pakasi dengan sistim modul (dicobakan di sekolah-sekolah lan unuversitas negeri pendidikan ) maupun YB Mangunwijaya dengan sistim pendidikan dasar yang bertolak dari psikologi perkembangan Poaget (sekolah laboratorium SD Mangunan di Sleman, Yogyakarta).

Keempat, sebagai konsekuensi pemahaman itu, penyediaan anggaran yang mencukupi adalah syarat mutlak. Pendidikan memang mahal mesti dipahami sebagai haln yang seharusnya bila kegiatan itu bukan sekadat pelengkap pengembangan sumber daya alam.

Rumusan ini mempertajam kritik rendahnya penghargaan praksis kependidikan disbanding dengan pengerukan sumber daya alam. Walaupun semua menyadari sumber daya alam sebagai sumber yang bisa habis , sementara manusia sebagai sumber daya yang tidak pernah habis.

Empat keharusan itu memang tidak dijabarkan secara panjang lebar dalam tulisan ini, tetapi tersirat dalam makna tulisan ini. Dalam sebuah seminar penulispernah ikuti seminar ber- topik QUO VADIS dalam arti sudah menuju kemana dan harus menuju kemana sebuah rumusan klasik sekaligus klise, menegaskan kita sudah kehabisan kata-kata.

Sampul majalah Basis edisi N0.07-08 Tahun Ke-49 Juli-Agustus 2000, seorang ibu yang mata kirinya tercucuk pensil dan air mata berlelehahan keluar, menggambarkan dengan tepat metafor yang ditangkap bahwa “pendidikan selama ini hanya menghasilkan air mata”. Sungguh tragis sekaligus sadis, sebab bisa saja mereka yang berpikir moderat dan sedikit positif akan berkilah, kita semua ini adalah hasil praksis pendidikan yang demikian rusak itu.

Akan tetapi, metafor itu mengingatkan adanya perasaan Bersama tentang masa depan pendidikan di Indonesia. Kita merindukan seorang pendidik atau pejabat di departemen yang memahami betul pedagogi , bukan sekedar seorang politisi. Atau kita merindukan sebuah praksis pendidikan yang terlepas dari maksdu-maksud memperalatnya sebagai alat politik praktis.

Pembahasan masalah kurikulum mengulang dan menegaskan kembali perlunya melihat praksis pendidikan sebagai isu bersama, yang pantas disejajarkan dengan isu politik praktis, membawa persoalan pendidikan menjadi isu politik, pada gilirannya menjadi isu public, menyeru bidang ini lebih diberi perhatian dan bukan sekedar pelengkap pengembangan sumber daya alam (SDA).

Diperlukan pendobrakan total, sehingga gambaran kejam mata seorang ibu tercucuk pensil atas nama pendidikan , perlu dihentikan.Otoritas pendidikan sudah seharusnya dikembalikan pada hak anak dan orang tua, dan bukan hak politisi.

Kepemimpinan seorang Abdurahman Wahid-pemimpin yang berasal dari Lembaga ke agamaan (pesantren) memberikan kemungkinan terealisasinya harapan-harapan itu. Pada era mendatang , mungkin tidak pada era “pancaroba” sekarang, tujuan-tujuan dasar praksis pendidikan bisa dikembangkan . Di antaranya, pertama pendidikan harus memungkinkan manusia membangun visi kehidupan. Kedua dengan modernitas sebagai ciri utama zaman ini, pendidikan adalah usaha mencari kebenaran yang lebih utuh, yang mengandalkan ditegakannya nilai kejujuran, bersaing sehat, disiplin, dan tahu keterbatasan diri.

Ketiga pendidikan harus menumbuhkan modal social (Fukuyamamerumuskannya sebagai serangkaian nilai yang dihayati kelompok sehingga memungkinkan kerjasama di antara mereka).

Memang akhirnya, yang terjadi adalah seruan kerinduan praksis pendidikan yang seharusnya, dan yang senyatanya kita hidupi sehari-hari. Di antaranya masalah-masalah kependidikan menjadi masalah terhormat, besar dan umum di negeri ini, semoga……….!