Peringatan HUT ke-75 PGI Diapresiasi Warga, Soroti Tantangan Digital bagi Generasi Muda

Sekum Panitia HUT PGI ke- 75 pusat, Ketua Panitia HUT PGI Papua, Sekertaris Pantia Papua dan anggota Panitia pusat

Jayapura, Teraspapua.com – Puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) yang digelar di Kota Jayapura, Papua, mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk warga setempat.

Salah satunya adalah Max, warga Kelurahan Waena, yang menyambut gembira pelaksanaan ibadah syukur di GKI Pniel Kotaraja pada Minggu (25/5/2025).

Namun di tengah rasa syukur itu, Max menyoroti maraknya penggunaan gawai dan media digital oleh anak-anak muda, yang seringkali digunakan untuk mengakses konten negatif seperti pornografi dan judi online.

“Anak-anak sekarang sudah sangat akrab dengan dunia digital, bahkan sejak usia dini. Tapi sayangnya, mereka juga mudah mengakses situs-situs yang merusak moral dan masa depan mereka,” ujarnya saat dialog interaktif yang disiarkan langsung oleh RRI Jayapura pada Sabtu (24/5/2025).

Ia mengajak gereja dan masyarakat untuk lebih serius memproteksi generasi muda, terutama melalui pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah minggu, dan persekutuan anak remaja. Menurutnya, keluarga harus menjadi benteng utama melawan dampak negatif dari era digital.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Umum Panitia Pusat HUT ke-75 PGI, Pdt. Audy WMR Wuisang, S. Th, M. Si., mengakui bahwa era digital membawa dampak serius terhadap pembentukan karakter anak.

“Digitalisasi tidak bisa kita hindari. Tapi kita, sebagai orang dewasa yang lebih bijak, harus membimbing anak-anak untuk menyaring konten dan memanfaatkan media sosial secara positif,” tegasnya.

Ia menyebutkan bahwa selain pornografi dan judi online, transaksi seks juga marak terjadi secara daring, dan ini sangat mudah diakses melalui berbagai platform seperti aplikasi chat.

“Dulu orang harus pergi ke tempat tertentu, sekarang cukup melalui aplikasi seperti MeChat. Karena itu, orang tua harus lebih waspada dan berperan aktif mengontrol penggunaan gawai anak,” lanjutnya.

Pdt. Audi mendorong penguatan peran keluarga, khususnya peran kepala keluarga sebagai imam rumah tangga. Ia menekankan pentingnya edukasi dan pengawasan, termasuk penguncian aplikasi berbahaya di ponsel anak.

“Tantangan digital tidak mungkin dijawab oleh anak-anak sendiri. Orang tua dan keluarga harus hadir sebagai pelindung dan pembimbing,” tambahnya.

Sementara itu, seorang pengasuh sekolah minggu senior di Jayapura yang telah mengabdi sejak tahun 1974 turut menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi anak jalanan di kota tersebut.

Ia berbagi pengalaman membina anak-anak sejak di Sorong hingga kembali ke Jayapura, termasuk di kawasan Ampera yang menjadi tempat berkumpul anak-anak jalanan hingga larut malam.

“Banyak anak-anak ini berasal dari keluarga yang rusak. Saya melayani mereka meski dengan keterbatasan fisik karena percaya pada visi teologi GKI: ‘Datanglah Kerajaan- Mu, jadilah kehendak-Mu,’” ungkapnya dengan penuh semangat.

Merespons hal ini, Pdt. Audy WMR Wuisang menyampaikan bahwa pada 30 Mei 2025 mendatang, PGI akan mengundang 200 anak terlantar dari Jakarta untuk mengikuti PGI Festival.

Kegiatan ini bertujuan untuk berbagi sukacita dan memberikan perhatian kepada anak-anak yang kurang beruntung, seperti yang telah diteladankan oleh para pengasuh anak jalanan di Jayapura.

“Kita ingin menjadikan perayaan ini bermakna, tidak hanya bagi gereja, tapi juga bagi mereka yang selama ini terpinggirkan,” pungkasnya.

(Har)