banner 325x300

Sinode GKI di Tanah Papua Gelar Rapat Kerja IV, Tegaskan Tahun Kepedulian dan Evaluasi Pelayanan Gereja

Ketua Badan Pekerja Sinode (BPS) GKI di Tanah Papua, Pdt. Andrikus Mofu, M.Th saat memberikan sambutan (foto Harley/Teraspapua.com)

Jayapura, Teraspapua.com – Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua menggelar Rapat Kerja (Raker) IV yang berlangsung di Gedung Graha Sara, Jayapura, Selasa (27/1/2025). Rapat kerja ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi pelayanan gereja sekaligus menegaskan komitmen Sinode GKI dalam memasuki Tahun Kepedulian.

Rapat kerja tersebut diawali dengan ibadah pembukaan. Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Dr. S. Sumihe, M.Th., yang mengambil perenungan dari Kitab Kejadian 18:1–15, tentang Allah yang berkenan mengunjungi dan menyatakan kepedulian-Nya kepada Abraham.

Dalam khotbahnya, Pdt. Sumihe menguraikan makna kehadiran Allah yang peduli dan membebaskan. Ia menyinggung doa bersejarah Ottow dan Geissler saat menginjakkan kaki di Tanah Papua, yang bukan semata-mata kehendak manusia, melainkan kehendak Tuhan.

“Sesungguhnya yang datang dan tiba di Mansinam adalah Tuhan sendiri. Ottow dan Geissler hanyalah alat. Tuhan datang untuk menaklukkan, memerdekakan, dan membangun bangsa Papua,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa makna “menginjak” bukan sekadar hadir secara fisik, melainkan simbol pembebasan dan pemulihan. Allah datang untuk memerdekakan manusia dari ketertinggalan dan membangun kehidupan agar umat hidup dalam nilai-nilai Kerajaan Surga.

Lebih lanjut, Pdt. Sumihe menekankan bahwa kepedulian Allah memiliki tiga dimensi utama, yakni menaklukkan, memerdekakan, dan membangun. Tiga bentuk kepedulian inilah yang harus diwujudkan dalam kehidupan gereja, mulai dari lingkup jemaat, klasis, hingga sinode.

“Kita belajar dari Abraham bagaimana menyambut Allah yang peduli. Tuhan mengunjungi Abraham untuk menggenapi janji-Nya. Demikian juga gereja dipanggil untuk menjadi persekutuan di dalam Tuhan, bukan persekutuan dunia,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Badan Pekerja Sinode (BPS) GKI di Tanah Papua, Pdt. Andrikus Mofu, M.Th., dalam sambutannya menjelaskan bahwa rapat kerja tahunan merupakan amanat Tata Gereja Bab IV, yang memiliki lima tugas utama.

Kelima tugas tersebut meliputi: mengevaluasi pelaksanaan program gereja selama satu tahun pelayanan di lingkup klasis dan sinode, mengevaluasi pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Gereja (APBG), menjabarkan program gereja untuk satu tahun pelayanan berikutnya, membahas dan menetapkan APBG, serta menerima usulan dari jemaat atau klasis untuk ditetapkan dalam Sidang Sinode.

Ia berharap melalui rapat kerja ini seluruh peserta dapat memberikan perhatian serius terhadap evaluasi program dan anggaran yang telah dilaksanakan sepanjang tahun 2025.

“Melalui evaluasi ini, kita diharapkan mampu mengukur hasil kerja pelayanan kita masing-masing, termasuk penggunaan anggaran untuk seluruh program yang telah dilaksanakan,” ujarnya.

Pdt. Andrikus Mofu juga menegaskan bahwa tahun 2025 merupakan Tahun Kepedulian, setelah sebelumnya Sinode GKI melewati Tahun Kesehatian. Tahun Kepedulian difokuskan pada gerakan belas kasih kepada pihak-pihak yang terpinggirkan dan terabaikan, serta kepedulian terhadap alam ciptaan.

“Oleh karena itu, di setiap lingkup baik jemaat, klasis, maupun sinode perlu dilaksanakan program pelayanan yang melibatkan seluruh warga jemaat untuk melakukan aksi nyata yang berdampak pada penguatan dan pemulihan kehidupan sesama dan alam,” jelasnya.

Ia menambahkan, sebelum penutupan rapat kerja, Badan Pekerja Sinode akan menyampaikan penjelasan terkait kesiapan pelaksanaan Sidang Sinode yang direncanakan berlangsung di Klasis Wondama, Kabupaten Teluk Wondama.

Sementara itu, Ketua Panitia Rapat Kerja IV Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Abraham Ungirwalu, S.Th., MM, menyampaikan bahwa rapat kerja ini merupakan raker terakhir sebelum memasuki tahun pelayanan 2026.

“Rapat kerja ini menjadi momen terakhir kita duduk bersama untuk mengevaluasi seluruh program yang telah dilaksanakan, sekaligus merancang apa yang akan kita kerjakan bersama pada tahun 2026,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa tingkat kehadiran peserta sangat tinggi, mencapai 95 persen dari total perwakilan klasis yang diundang, sebagai bukti komitmen pelayanan gereja.

Dalam semangat Tahun Kepedulian dan komitmen terhadap lingkungan, panitia raker juga menerapkan kebijakan ramah lingkungan dengan memberikan satu tumbler (botol minum) kepada setiap peserta. Kebijakan ini bertujuan mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai dan limbah kemasan, sejalan dengan komitmen Sinode GKI di Tanah Papua dalam menjaga ciptaan Tuhan.

(HAR)