Guru YPK Keerom Bicara, BP YPK di Tanah Papua Mendengar

Suasana Diskusi BP YPK di Tanah Papua dengan PSW YPK Keerom, para guru dan Kepsek di Kabupaten Keerom

Keerom, Teraspapua.com – Setelah apel pembukaan tahun ajaran baru 2023/2024 bersama PSW YPK Keerom, para kepala sekolah, TK, SD, SMP, SMA dan SMK serta perwakilan siswa yang dipusatkan di SMK YPK Betlehem, Kampung Sanggarai, Arso 1 Distrik Arso Barat, Kabupaten Keerom. BP YPK di Tanah Papua mengagendakan diskusi dengan topic “Guru YPK Keerom Bicara, BP YPK di tanah Papua Mendengar,”

Momentum ini dipimpin langsung oleh Ketua YPK di Tanah Papua, Joni Y. Betaubun, SH, MH, didampingi Ketua Dewan Pengawas YPK di Tanah Papua, Ibu Kristhina. R. I Luluporo, S, IP, MAP, Wakil Sekertaris, Yustus Pondayar, Direktur Eksekutif , Dra. Christin D. Widyastuti, M. Pd. Bendahara, Silas Thom Rumbewas.

Pantauan Teraspapua.com, para kepala sekolah dan guru tentu sangat senang, karena semua hal menyangkut sekolah masing-masing bisa disampaikan langsung kepada BP YPK, walau nanti secara lengkap dan terinci akan dibawahkan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang rencana akan digelar BP YPK di Tanah Papua dalam waktu dekat.

Tentu banyak pikiran dan masalah yang disampaikan dari para kepala sekolah mulai dari kekurangan guru, sarana prasarana, hinggah pergantian kepala sekolah.

Kepala SMA perbatasan Yeti, Distrik Arso Timur, Welhelmina Wakari mengaku guru-guru punya kerinduan untuk tinggal di lingkungan sekolah, namun tidak ada perumahan guru.

Bahkan ada beberapa guru yang tidak mempunyai kendaraan, yang hendak ke sekolah, masih harus menunggu teman-teman untuk numpang.

“Saya minta BP YPK bisa melihat tempat tinggal bagi guru-guru, bagi kami di Keerom, bahkan permintaan dari kepala kampung supaya ada guru-guru yang tinggal di lingkungan sekolah,” pintanya.

Karena menurutnya, tidak ada guru yang tinggal di lingkungan sekolah, tentu fasilitas menjadi kurang aman. Dan sekolah kami hanya 2 ruang kelas. Kemudian kata dia, tenaga guru banyak yang honor, sehingga pihaknya minta pertimbangan dari BP YPK.

“Saya mau sampaikan juga salah satu hal untuk menarik perhatian agar anak-anak masuk ke SMA YPK Yeti. yaitu fasilitas, namun jika minim bagaimana kita mau menarik perhatian dari masyarakat,” jelasnya.

Selain itu, Andreas Ruben Nasadit, KTU SMK YPK Betlehem mempertanyakan pergantian kepala sekolah apakah bisa diusulkan untuk menunda pergantian, karena beberapa waktu ini sekolah kami masuk dalam akreditasi sekolah, dan ada beberapa hal yang harus dikerjakan.

Hal senada juga disampaikan Wakasek Kesiswaan, Dorsila Yewi. Dimana untuk pergantian kepala sekolah SMK YPK Betlehem ditinjau lagi, karena kepala sekolah lama masih menyusun program, dan belum selesai langsung diganti dan kita guru-guru kebingungan.

“Kami mohon supaya Kepala Sekolah yang lama harus menyelesaikan program yang sementara dijalankan,” tegasnya.

Semua guru sangat mendukung ibu kepsek lama, karena dibawah kepemimpinnya, perkembangan SMK ini sangat terlihat, ada perubahan besar di SMK Betlehem, sehingga saya minta BP YPK kami bantu untuk ibu kepsek di pertahankan lagi.

Bahkan tegas dia, ada guru-guru yang sudah mengabdi sekian tahun, yang berpengalaman itu yang diangkat dan jangan ambil guru dari luar untuk menjadi kepala sekolah,” tandasnya.

Pikiran lain datang dari Kepala SD YPK Mahanaim Yetti Distrik Arso Timur Davi Agung Wijayanti, bahwa sekolahnya satu-satu di Keerom dipilih sebagai sekolah penggerak

“Walaupun kekurangan guru tapi ada pertimbangan lain sehinggah sekolah kami terpilih sebagai sekolah penggerak di Kabupaten Keerom,” terang Davi.

Siswa kami ada 36 orang yang sudah terdaftar di Dapodik. Dikatakan, ruang kelas sudah tercukupi hanya butuh biaya operasional. Tapi juga butuh ruang computer.

“Kami sudah punya bantuan dari pemerintah pusat, dan sekolah kami sudah bisa melakukan asesment mandiri, hanya dibutuhkan penambahan tenaga guru,” kata Davi.

Sementara Kepsek TK YPK Mahanaim Yetti, Sihmaning Lilik Hariani mebeberkan sekolah ini hanya ada tiga orang guru termasuk dirinya sebagai kepsek dan status masih honor.

Jumlah siswa tutur Hariani, ada 10 orang, sehingga dia meminta bantuan BP YPK untuk biaya operasional sekolah. “Kami tidak bisa minta bantuan dari orang tua maupun wali murid untuk mendukung kegiatan di sekolah,” tukasnya.

Bahkan TK YPK ini, kata Davi sangat membutuhkan komputer untuk menunjang KBM, karena pembelajaran sudah dituntut secara digital, saat ini guru-guru, masih belajar di SD terdekat untuk kegiatan pembelajaran dengan komputer.

Sementara salah satu guru muslim SD YPK Pikere Ujung Karang, Melani menyebutkan apa yang menjadi pertemuan hari ini dapat terlaksana terutama untuk tenaga guru karena di sekolah kami sangat minim.

“Untuk pembelajaran, kita harus merangkap guru kelas 1 dan kelas 2, apalagi guru agama dan satu semester ini sekolah kami tidak mempunyai guru agama,” ungkapnya.

Sementara lanjut Melani, untuk sarana prasarana juga sangat minim, buku paket juga kurang, apalagi komputer tidak ada sama sekali.

“Akibatnya kami terkendala dalam pengisian raport karena pengisian sudah tidak manual, dan harus digital (e-raport) sementara sarana itu tidak ada yang membuat kami terkendala,” ungkapnya.

Menanggapi masukan-masukan dari para Kepsek tersebut, Ketua YPK di Tanah Papua, Joni Y. Betaubun, SH, MH mengatakan, terkait dengan ini pihaknya berencana membuat FGD.

“Jadi, sesuatu yang kita kerjakan hari ini bukan dilihat besok. Ukuran keberhasilan kita untuk satu orang kita lakukan untuk dilihat satu dua tahun ke depan,” ujar Betaubun.

Tapi pentingnya kata Wakil Ketua DPRD Kota ini, kita duduk bersama, diskusi untuk mendengar pikiran dan keluhan, paling tidak satu dua BP YPK bisa mengatasinya.

“Jadi, hari ini kita mendengar guru-guru YPK Keerom Bicara dan BP YPK mendengar. Sesungguhnya, apa yang menjadi keluhan idalam diskusi tadi, akan kita buat FGD,” kata Betaubun.

Kembali dikatakan, apa yang disampaikan oleh para guru YPK di Kabupaten Keerom, tentu akan dibicarakan di FGD yang akan digelar nanti.

Kendati banyak kekurangan dan keluhan yang disampaikan oleh para guru, namun pria yang akrab disapah JB ini mengingatkan agar para guru tetap semangat untuk melayani peserta didik.

“Karena untuk melayani di sekolah YPK, tentu membutuhkan kerendahan hati kerendahan diri, karena ini merupakan panggilan untuk melayani pekerjaan Tuhan lewat bidang pendidikan,” cetus JB.

(har/ricko)