Jayapura,Teraspapua.com – Kemunculan nama Paulus Waterpauw (PW) jelang Pilkada serentak pada November 2024 mendatang, otomatis mengubah peta kontestasi politik di Provinsi Induk- Papua.
PW mempunyai nama besar dan popularitas, untuk itu, saya menyebut PW ini seperti meteor yang kemudian memasuki atmosfer bumi yang biasa disebut “bintang jatuh”.
“Sekali lagi, PW ini seperti “bintang jatuh” ke bumi Papua yang kemudian membuat nama calon gubernur dan wakil gubernur, yang sebelumnya santer terdengar di kuping publik Papua menjadi tidak relevan jika mereka mau face to face pada pilkada mendatang,” ujar Direktur Eksekutif Consultant Political and Strategic Champaign, Nasarudin Sili Luli, Jumat (3/5/2024).
Menurut Nasarudin, Papua butuh kepemimpinan profetik dan transformatif, kompleksitas situasi dan tantangan yang dihadapi Papua saat ini memerlukan kepemimpinan yang kuat disemua lini.
Dia menjelaskan, salah satu permasalahan yang belum menemukan titik penyelesaiannya hingga saat ini adalah merosotnya integritas para pemimpin daerah Papua sebelumnya. Karena sejarah mencatat banyak pemimpin daerah di Papua yang sering kali menyalahgunakan kekuasaannya (korupsi) yang justru berujung negatif terhadap pemimpin Papua itu sendiri sehingga menghilangkan rasa simpati dan empati dari masyarakat Papua sendiri.
Kompleksitas yang dihadapi Papua hari ini dan kedepan membutuhkan sosok pemimpin yang mempunyai kapasitas dan integritas, yang dapat memberikan rasa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat Papua. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin Papua dengan segala problematikanya hari ini ialah mampu mempengaruhi (hal -hal yang positif dan bermanfaat) dengan kapasitas yang dimilikinya, katanya.

“Sekali lagi kepemimpinan Papua kedepan harus mempunyai kemampuan spiritualitas, intelektualitas dan kepemimpinan (leadership) yang mumpuni, dan saya kira dari semua prasyarat di atas ada pada sosok PW,” terangnya.
Kedua, lanjut kata Nasarudin, Papua membutuhkan kepemimpinan profetik: konsep kepemimpinan Papua kedepan harus berdasarkan nilai moral dan spiritual masyarakat Papua. Karena era reformasi telah banyak melahirkan pemimpin dan politisi yang pragmatis dan oportunistik dengan wawasan kebangsaan yang rapuh.
Oleh sebab itu, di Papua saat ini pemimpin yang memiliki sikap negarawan (statesmanship) sangat kurang sehingga kerinduan kan hadirnya negarawan semakin terasa belakangan ini.
Sosok PW, oleh Nasarudin memiliki integritas, tidak tersangkut kasus yang merugikan masyarakat banyak (Papua) termasuk korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) serta asusila. Selain itu, PW memiliki visi dan misi yang jelas tentang masa depan Indonesia yang dituangkan dalam konsep yang muda diketahui oleh masyarakat dan memiliki wawasan keindonesiaan serta kedaerahan yang cukup agar mampu menjadi kekuatan pemersatu (integration factor) bagi NKRI dan Papua pada khususnya,
“Itu sebabnya, saya menyebutkan sosok figur PW ini seperti “bintang Jatuh ” tepat di Papua atau bumi Cenderawasih. Beliau adalah kepemimpinan profetik dan transformatif yang berorientasi pada perubahan demi tercapainya tujuan, dengan sejauh mungkin melibatkan pengikutnya, memanfaatkan soft power, dengan memberi contoh, memotivasi pengikut, agar memiliki idealisme dalam upaya mencapai kesejahteraan rakyat Papua,” tandasnya.















