Batam, Teraspapua.com – Aparat kepolisian dinilai berperan krusial dalam meredam eskalasi konflik pasca bentrokan antar pemuda yang melibatkan warga Desa Ariate dan Dusun Tanah Goyang, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. Ketegangan yang sempat memuncak setelah insiden pada 28 Mei 2026 itu berpotensi meluas, namun berhasil ditekan melalui respons cepat aparat di lapangan.
Tokoh pemuda Desa Ariate, Stenly Siahaya, menyampaikan apresiasi terhadap langkah cepat Polres Seram Bagian Barat yang dinilainya mampu mencegah konflik berkembang menjadi lebih besar di tengah meningkatnya emosi dari kedua kelompok.
Menurut Stenly, kehadiran aparat tidak hanya berfungsi sebagai pengaman situasi, tetapi juga menjadi faktor penentu dalam memutus rantai potensi aksi balasan yang dapat memperparah kondisi.
“Kepolisian bergerak cepat meredakan situasi dan amarah dari kedua kubu. Kami sebagai pemuda sangat mengapresiasi langkah tersebut,” ujar Stenly di salah satu cafe di Batam, Kepulauan Riau, Rabu (3/6/2026).
Kronologi Awal: Ketegangan Dipicu Insiden Tengah Malam
Berdasarkan penelusuran dari keterangan keluarga korban dan sejumlah saksi, bentrokan bermula dari insiden yang terjadi lewat tengah malam di kawasan Dusun Tanah Goyang. Seorang pemuda asal Desa Ariate, Arnando Pesireron, diduga menjadi korban pengeroyokan saat melintas di depan sebuah toko milik warga setempat.
Di lokasi tersebut, terdapat sekelompok pemuda yang diduga tengah mengonsumsi minuman keras dan memenuhi badan jalan. Ketika Arnando mencoba melintas, ia disebut sempat dihalangi. Situasi memanas setelah terjadi adu mulut yang diduga dipicu ucapan bernada kesal dari Arnando.
Ucapan tersebut kemudian memicu reaksi emosional dari sejumlah pemuda hingga berujung pada dugaan aksi pengeroyokan. Arnando disebut dipukul secara bersama-sama hingga terdesak ke pagar toko. Seorang rekannya yang mencoba melerai turut menjadi sasaran kekerasan.
Dalam kondisi terdesak, keduanya berhasil melarikan diri dan kembali ke Desa Ariate dalam keadaan luka-luka.
Dari Insiden Individu ke Bentrokan Kelompok
Insiden yang semula bersifat individual kemudian berkembang menjadi konflik kelompok. Setelah tiba di rumah, Arnando melaporkan kejadian tersebut kepada keluarganya. Namun situasi berubah ketika ia kemudian bergabung dengan rombongan pemuda yang hendak menghadiri pesta di Dusun Tanah Goyang pada malam yang sama.
Setibanya di lokasi, ketegangan kembali muncul. Berdasarkan keterangan keluarga, rombongan pemuda Ariate sempat berkumpul di sekitar jembatan dusun sebelum situasi memanas akibat lemparan benda dari arah kelompok lain.
Bentrok terbuka pun tak terhindarkan di kawasan perbatasan Dusun Siaputih dan Dusun Tanah Goyang, tepatnya di sekitar pos penjagaan La’aLa. Awalnya, perkelahian terjadi dengan tangan kosong.
Namun situasi berubah drastis ketika sejumlah pihak diduga mengeluarkan senjata tajam jenis parang yang sebelumnya disembunyikan.
Dugaan Penggunaan Senjata Tajam dan Korban Luka
Arnando yang berada di barisan depan disebut menjadi orang pertama yang menyadari adanya senjata tajam. Ia berusaha menghindar, namun tetap mengalami luka di bagian bahu akibat sabetan.
Korban lain, Vino Kakihary, mengalami luka serius di bagian lengan kanan setelah mencoba menangkis serangan dengan tangan kosong. Luka tersebut memicu kepanikan di kalangan pemuda Ariate, yang kemudian memilih mundur untuk menghindari korban lebih banyak.
Namun insiden ini memicu emosi lanjutan. Adik korban, Feky Kakihary, diduga melakukan aksi balasan secara spontan dengan mendatangi lokasi kejadian seorang diri menggunakan sepeda motor sambil membawa senjata tajam. Langkah tersebut semakin memperkeruh situasi dan meningkatkan tensi konflik antar kelompok.
Peran Aparat dan Upaya Pendinginan Situasi
Di tengah situasi yang berpotensi meluas, aparat kepolisian bergerak cepat melakukan pengamanan dan pendekatan persuasif. Langkah ini dinilai efektif dalam mencegah konflik berkembang menjadi bentrokan antar kampung yang lebih besar.
Stenly menilai pendekatan aparat tidak hanya fokus pada penegakan hukum, tetapi juga membuka ruang mediasi agar konflik tidak berlarut-larut.
Ia menegaskan bahwa penyampaian kronologi kejadian kepada publik bukan untuk mencari pihak yang benar atau salah, melainkan untuk memberikan gambaran utuh agar tidak terjadi disinformasi yang dapat memicu ketegangan baru.
“Kami tidak ingin masalah ini melebar. Kronologi ini disampaikan agar masyarakat memahami kejadian secara utuh, bukan untuk memperkeruh keadaan,” ujarnya.
Seruan Menahan Diri dan Jalur Hukum
Stenly mengajak seluruh pemuda dari kedua wilayah untuk menahan diri dan menyerahkan penanganan kasus kepada aparat penegak hukum. Ia menekankan pentingnya menjaga hubungan persaudaraan di tengah masyarakat.
Menurutnya, konflik yang dipicu emosi sesaat berpotensi menimbulkan dampak panjang jika tidak dikelola dengan baik.
Ia juga mendorong peran aktif tokoh masyarakat dan tokoh pemuda dari kedua wilayah untuk meredam situasi dan membangun komunikasi damai.
“Kami percaya kepolisian akan bekerja profesional. Harapan kami, persoalan ini bisa diselesaikan dengan baik tanpa menimbulkan konflik susulan,” katanya.
Potensi Konflik Sosial dan Tantangan Penanganan
Peristiwa ini menyoroti kerentanan konflik horizontal yang dipicu faktor spontan seperti konsumsi minuman keras, kesalahpahaman, dan respons emosional berantai. Dalam konteks wilayah dengan relasi sosial yang kuat, insiden kecil dapat dengan cepat berkembang menjadi konflik komunal jika tidak segera ditangani.
Kehadiran aparat, peran tokoh lokal, serta penguatan mekanisme mediasi dinilai menjadi kunci dalam menjaga stabilitas sosial di wilayah tersebut.
Seiring meredanya ketegangan, masyarakat diharapkan kembali mengedepankan nilai persaudaraan dan menyelesaikan persoalan melalui jalur hukum serta musyawarah, guna mencegah konflik serupa terulang di masa mendatang.
(Sand/Har)









