Jayapura, Teraspapua.com – Universitas Cenderawasih melalui Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mengukuhkan ratusan lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG)
sebagai guru profesional dalam sebuah seremoni yang berlangsung di Hotel Horison Kotaraja, Senin (16/2/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri ratusan peserta, terdiri dari lulusan PPG calon guru dan guru tertentu, serta tamu undangan, keluarga dari berbagai kalangan. Pengukuhan ini menjadi penanda resmi berakhirnya proses pendidikan profesi sekaligus awal pengabdian para lulusan di dunia pendidikan.
Dekan FKIP Universitas Cenderawasih, Yan Dirk Wabiser, menegaskan bahwa pengukuhan ini bukan sekadar seremoni formal, melainkan refleksi dari perjalanan panjang yang penuh tantangan.
“Suasana hari ini begitu hangat. Bahkan saya sempat larut dan ikut bergembira bersama. Ini menunjukkan kuatnya kebersamaan di antara kita,” ujar Wabiser dalam sambutannya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan para lulusan tidak terlepas dari peran keluarga. Wabiser menyoroti momen seorang ibu yang hadir bersama anaknya dalam prosesi, sebagai simbol nyata perjuangan seorang pendidik.
“Di balik seorang guru profesional, ada keluarga yang ikut berjuang. Itu yang sering tidak terlihat, tetapi sangat menentukan,” katanya.
Menurutnya, dukungan pasangan dan keluarga menjadi fondasi penting yang mengantarkan para peserta hingga mencapai tahap profesional. Ia juga mengakui adanya dinamika selama proses pendidikan, termasuk berbagai aspirasi yang disampaikan peserta.
Namun, Wabiser menilai hal tersebut sebagai bentuk antusiasme tinggi. Ia menegaskan bahwa setiap tahapan, termasuk proses administrasi yang sempat memicu keterlambatan, dilakukan demi menjaga kualitas dan ketelitian.
Lebih jauh, ia memaknai prosesi pengukuhan sebagai gambaran perjalanan hidup para guru. Ia menggambarkan beragam cara peserta melangkah ke panggung sebagai simbol perjuangan masing-masing.
“Ada yang melangkah cepat, ada yang hati-hati, bahkan ada yang harus berusaha lebih keras. Tetapi semua sampai di tujuan yang sama,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh lulusan untuk menjadikan momen ini sebagai titik awal pengabdian yang lebih besar. Menurutnya, profesi guru adalah panggilan untuk membentuk generasi masa depan bangsa.
“Menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi tanggung jawab moral untuk mendidik dan membentuk karakter,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Yosefin Rianita melaporkan capaian pelaksanaan program PPG di Universitas Cenderawasih. Pada 2025, Uncen kembali dipercaya menyelenggarakan PPG bagi calon guru dan guru tertentu.
Untuk PPG calon guru, tercatat sebanyak 21 mahasiswa mengikuti program tersebut. Sedangkan PPG Guru Tertentu diikuti 3.140 peserta yang terbagi dalam tiga tahap.
Tahap pertama diikuti 1.471 mahasiswa dari 11 bidang studi, tahap kedua sebanyak 908 mahasiswa dari tujuh bidang studi, dan tahap ketiga diikuti 761 mahasiswa dari enam bidang studi.
“Seluruh peserta telah mengikuti uji kompetensi, dan sebanyak 3.104 dinyatakan lulus,” ujar Yosefin.
Ia menambahkan, pada 2026, Universitas Cenderawasih kembali mendapat kepercayaan untuk menyelenggarakan PPG calon guru dengan jumlah peserta sebanyak 12 orang. Selain itu, program PPG Guru Tertentu juga akan kembali dibuka dengan kuota 604 mahasiswa dari 10 bidang studi.
Dalam kegiatan pengukuhan tersebut, sekitar 600 lulusan PPG tahun 2025 yang hadir secara langsung resmi dikukuhkan sebagai guru profesional.
Perwakilan peserta, Taufik Makkarateng, menyampaikan bahwa perjalanan selama satu tahun mengikuti PPG menjadi pengalaman yang penuh makna.
“Kami melewati proses dengan canda, tawa, hingga duka. Semua itu membentuk kami menjadi pribadi yang lebih siap,” ujarnya.
Ia menyebut, dari 21 peserta PPG calon guru tahun 2024, sebanyak sembilan orang masih mengabdi di Papua, sementara lainnya telah kembali ke daerah asal.
Menurut Taufik, PPG bukan sekadar proses akademik, tetapi perjalanan yang membentuk nilai dan komitmen sebagai pendidik. Ia menegaskan bahwa ilmu yang diperoleh akan dibawa ke berbagai wilayah, mulai dari pegunungan hingga pesisir Papua.
“Kami datang dengan banyak pertanyaan, dan pulang membawa jawaban, pengalaman, serta semangat baru,” katanya.
Ia juga berharap Universitas Cenderawasih terus menjadi pusat lahirnya guru-guru berkualitas dari kawasan timur Indonesia.
Menutup sambutannya, Taufik mengajak seluruh lulusan untuk tetap menjaga dedikasi dan integritas dalam menjalankan profesi.
“Jadilah guru yang tidak hanya hadir di ruang kelas, tetapi juga hadir di hati setiap peserta didik,” ujarnya.
(Har)









