Ibadah Pentakosta Nuansa Kei di Jayapura, Joni Betaubun Ingatkan Nilai ‘Ain Ni Ain’

Pembina sekaligus penasehat Maskei, Joni Y. Betaubun saat memberikan sambutan (foto Arche/Teraspapua.com)

Jayapura, Teraspapua.com – Pembina sekaligus penasehat Maskei, Joni Y. Betaubun, menyerukan pentingnya menjaga persaudaraan lintas iman dan budaya dalam momentum perayaan Pentakosta bernuansa etnis Kei di Gereja Paroki Kristus Juruselamat Kotaraja, Kota Jayapura, Papua, Senin (25/5/2026).

Seruan itu disampaikan dalam acara resepsi usai misa syukuran Pentakosta yang dipimpin Uskup Keuskupan Amboina, Mgr. Seno Inno Ngutra. Turut hadir Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, yang bersama-sama memberikan penguatan rohani kepada umat, khususnya masyarakat Kei di Tanah Papua.

Betaubun menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan pesan spiritual yang disampaikan kedua uskup tersebut. Ia menilai wejangan yang diberikan menjadi pengingat penting bagi masyarakat Kei untuk terus menjaga nilai persaudaraan.

“Terima kasih atas penguatan rohani yang diberikan. Ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus saling mengasihi dan menjaga persaudaraan. Semboyan Ain Ni Ain harus tetap kita pegang,” ujarnya.

Ia menegaskan, perayaan Pentakosta memiliki makna mendalam bagi kehidupan gereja. Momentum ini mengingatkan umat akan turunnya Roh Kudus kepada para murid, yang memberikan keberanian, kekuatan, hikmat, dan persatuan dalam menjalankan misi pelayanan.

Menurutnya, perayaan Pentakosta bernuansa Kei yang awalnya hanya diikuti umat Katolik kini berkembang menjadi ruang kebersamaan lintas agama. Masyarakat Kei, kata dia, menunjukkan bahwa nilai adat menjadi fondasi yang menyatukan, melampaui perbedaan keyakinan.

“Orang Kei menjunjung adat sebagai dasar kehidupan. Karena itu, hari ini kita melihat umat Muslim, Protestan, dan Katolik bisa hadir bersama. Ini bukti bahwa persaudaraan lebih utama,” katanya.

Ia menekankan bahwa kehadiran dalam perayaan tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari panggilan gereja untuk bersekutu, bersaksi, dan melayani.

Dalam konteks itu, Betaubun menjelaskan tiga panggilan utama gereja. Pertama, bersekutu dengan membangun kebersamaan, menjaga persaudaraan, serta saling menghormati, baik dalam kehidupan gerejawi maupun sosial di Tanah Papua.

Kedua, bersaksi dengan menghadirkan nilai-nilai Kristiani melalui perkataan, sikap, dan tindakan yang mencerminkan kasih, kejujuran, serta damai sejahtera.

Ketiga, melayani dengan memiliki kepedulian terhadap sesama, ringan tangan dalam menolong, serta berkontribusi dalam pembangunan masyarakat, pendidikan, dan kehidupan sosial.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa semangat Pentakosta harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam relasi sosial dan budaya masyarakat Kei di Papua.

Sebagai komunitas perantau, masyarakat Kei, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan nilai luhur budaya yang menekankan persatuan, kekeluargaan, dan semangat saling menopang.

Ia juga menyoroti filosofi Fangnangan Ain Ni Ain yang menjadi identitas masyarakat Kei. Nilai tersebut, kata dia, mengandung makna persatuan hati, persaudaraan sejati, serta komitmen untuk saling menjaga sebagai satu keluarga.

“Ketika nilai budaya ini dipadukan dengan tuntunan Roh Kudus, maka akan lahir kehidupan yang harmonis, kuat dalam iman, dan menjadi berkat bagi banyak orang,” ujarnya.

Perayaan Pentakosta bernuansa Kei ini tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga simbol kuat bagaimana budaya dan iman dapat berjalan beriringan dalam membangun harmoni sosial di tengah keberagaman Papua.

(har)