Joni Betaubun Konsisten Gelar Doa dan Makan Bersama Janda-Yatim Piatu, Sudah 8 Kali Sejak Januari

Ketua Komisi IV DPR Papua, Joni Y. Betaubun, bersama keluarga memberi makan kepada janda dan yatim piatu (foto Arche/Teraspapua.com)

Jayapura, Teraspapua.com – Ketua Komisi IV DPR Papua, Joni Y. Betaubun, bersama keluarga kembali menggelar program bulanan berbagi kasih dengan menjamu para janda dan  yatim piatu di kediamannya, Jumat (28/8/2026) malam.

Kegiatan yang telah menjadi agenda rutin keluarga Betaubun tersebut tidak sekadar menjadi ajang makan bersama. Pada kesempatan itu, Joni bersama keluarga juga menyerahkan bantuan berupa bahan makanan serta amplop kasih kepada para janda dan anak yatim yang hadir.

Suasana kekeluargaan tampak mewarnai kegiatan tersebut. Para janda dan yatim piatu mengikuti jamuan makan bersama sekaligus mendengarkan renungan dan pesan-pesan kerohanian yang disampaikan dalam suasana penuh kebersamaan.

Dalam renungan singkatnya, Mama Syamas Musima Mamsawan mengingatkan pentingnya menjaga rasa syukur serta membangun kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang membutuhkan uluran tangan.

Menurut dia, kebaikan yang dilakukan dengan tulus tidak semestinya dilihat dari besar atau kecilnya pemberian. Setiap bentuk kasih kepada sesama merupakan bagian dari ajaran Tuhan yang perlu terus dipelihara dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga mengajak para peserta kegiatan untuk tidak berhenti berbagi ketika kembali ke lingkungan masing-masing.

“Ketika kita pulang dari sini, kalau kita membawa beras lima kilogram kemudian tetangga datang dan meminta satu kilogram, jangan langsung mengatakan tidak ada. Kalau kita memiliki kasih yang besar seperti kasih Kristus, kita harus belajar berbagi,” demikian pesan yang disampaikan dalam renungan tersebut.

Ia menilai kegiatan yang dilakukan keluarga Betaubun dapat menjadi pembelajaran bagi setiap orang percaya untuk terus mengembangkan kepedulian terhadap sesama.

Menurutnya, kasih dan kepedulian tidak harus diwujudkan melalui hal-hal besar. Justru, perhatian terhadap kebutuhan sederhana orang lain dapat menjadi bentuk nyata dari rasa syukur kepada Tuhan.

Ia juga mengajak ibu ibu janda dan yatim piatu untuk senantiasa mengutamakan kesehatan, saling mendoakan dan menjaga hubungan persaudaraan.

“Yang paling penting adalah kita saling mendoakan supaya diberikan kesehatan dan kekuatan. Kita belajar mengucap syukur dari hal-hal kecil yang dilakukan untuk sesama,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Joni Y. Betaubun menyampaikan apresiasi kepada seluruh undangan yang telah hadir dan mengikuti kegiatan bersama keluarganya.

Ia mengatakan program makan bersama tersebut telah memasuki pelaksanaan kedelapan sejak Januari 2026. Kegiatan itu, kata dia, diharapkan terus berlangsung hingga akhir tahun sebagai bentuk komitmen keluarga untuk menjaga kebersamaan dengan para janda dan anak yatim.

“Terima kasih untuk semua yang sudah datang menghadiri undangan kami keluarga. Terima kasih juga untuk firman kebenaran dan ibu-ibu yang sudah menabur melalui lagu-lagu pujian untuk kita semua,” kata Joni.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para ibu janda yang selama ini tidak hanya hadir dalam kegiatan tersebut, tetapi juga terus mendoakan dirinya, istri, anak-anak serta keluarganya.

Bagi Joni, doa dan dukungan dari para janda dan keluarga yang hadir memiliki arti penting. Ia menilai kebersamaan yang terbangun selama pelaksanaan program tersebut jauh lebih bernilai daripada sekadar kegiatan makan bersama.

“Terima kasih untuk semua doa dari mama-mama janda yang selalu mendoakan saya, istri, anak-anak dan keluarga. Kita tidak melihat besar atau kecilnya, tetapi kita melihat kebenaran dari pengalaman dan kekuatan doa,” ujarnya.

Joni menegaskan kegiatan tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk memberikan bantuan berupa makanan maupun bahan pokok.

Lebih dari itu, program tersebut menjadi ruang untuk memperkuat hubungan kekeluargaan, saling memberikan dukungan serta membangun kepedulian di tengah masyarakat.

Ia berharap kebersamaan yang telah terjalin selama delapan bulan dapat terus dipertahankan dan menjadi tradisi positif bagi keluarga maupun lingkungan sekitar.

“Yang penting kita saling mendoakan dan saling menguatkan. Kita melewati semuanya dalam kebersamaan,” katanya.

 

Joni juga mengingatkan bahwa kesehatan merupakan hal yang tidak kalah penting dalam kehidupan. Menurut dia, berbagai hal yang dimiliki seseorang akan kehilangan makna apabila tidak disertai kesehatan.

“Yang paling penting itu kita sehat. Kalau semua ada tetapi tidak sehat, percuma. Karena itu, mari kita saling mendoakan supaya tetap sehat,” ujarnya.

Ia pun berharap ibu – ibu janda dapat terus menjaga semangat kebersamaan dan tidak memandang kegiatan tersebut hanya dari sisi bantuan material.

Joni mengatakan setiap orang memiliki kesempatan untuk berbagi sesuai kemampuan masing-masing. Bantuan kecil sekalipun, apabila diberikan dengan ketulusan, dapat memberikan arti besar bagi orang lain.

Program makan bersama itu rencananya kembali digelar pada bulan berikutnya. Joni memastikan keluarga akan kembali mengundang para janda dan anak yatim untuk berkumpul, makan bersama, serta memperkuat tali persaudaraan.

“Kalau Tuhan masih memberikan kesehatan dan kesempatan, bulan depan kita tetap undang untuk makan bersama,” katanya.

Kegiatan tersebut kemudian ditutup dengan suasana penuh kekeluargaan. Selain makan bersama, para peserta juga mendapatkan bahan makanan dan amplop kasih sebagai bentuk perhatian dari keluarga Betaubun.

Bagi Joni, kegiatan sederhana tersebut menjadi cara keluarga untuk terus menanamkan nilai kasih, kepedulian dan kebersamaan.

Ia berharap tradisi berbagi tersebut tidak berhenti pada keluarganya, tetapi dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk melakukan hal serupa di lingkungan masing-masing.
(Har)