banner 325x300

Buka IHT, Chiristian Sohilait Dorong SMA Gabungan Jadi Corong Bagi Sekolah lain

  • Bagikan
Kepala Dinas PPAD Provinsi Papua Christian Sohilait, saat membuka IHT SMA Gabungan Jayapura secara daring, Selasa ( 27/7/2021)

Jayapura, Teraspapua.com – Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah (PPAD) Provinsi Papua Christian Sohilait, ST, M. SI, secara resmi membuka In House Training (IHT) SMA Gabungan Jayapura secara daring, Selasa ( 27/7).

Dalam sambutan, Kepala Dinas mengatakan, sekolah penggerak di Papua tidak banyak. hanya 7 sekolah dari 283 SMA di seluruh Papua.

Karena itu, tugas berat sekolah penggerak, adalah bisa menjadi lampu, cahaya yang tentu bisa menghasilkan multiefek kepada sekolah lain.

” SMA Gabungan bisa menjadi cahaya yang menghasilkan multiefek player kepada seluruh sekolah lain yang ada di kota Jayapura,” dorong Kadis.

Untuk itu, karena SMA Gabungan akan menjadi corong bagi sekolah lain, maka pemahaman tentang sekolah penggerak harus dikuasai bersama.

IHT hari ini, salah satunya akan memberikan informasi kepada para guru lain. Selain ada beberapa guru yang sudah mendapat pelatihan dari Kementrian Pendidikan, LPMP. tapi ini momentum baik untuk kita mentransfer ilmu yang kita dapat kepada guru yang lain.

” Kedepan, kita siapkan beberapa sekolah sebagai sekolah penggerak di tahun berikut. karena kita sudah punya training – training, salah satunya adalah SMA Gabungan,” jelasnya.

Sehingga lanjut Kadis, kita bisa rekomendasikan kepada pemerintah pusat. Jangan lagi bawa orang dari pusat karena kita sudah punya tenaga tenaga yang luar biasa.

Mantan Sekda Lanny Jaya ini juga menyampaikan apresiasi kepada kepala sekolah, panitia bahkan yayasan yang sudah mengambil bagian untuk kita harus training ini.

” Mari kita menggunakan waktu selama 9 hari dengan baik sehingga banyak informasi yang bisa kita dapat dari kegiatan ini,” ajaknya.

Christian juga mengatakan, dari data yang kita dapat di dinas pendidikan dari UNICEF bahwa hanya ada 20% sekolah di Papua yang menekankan pendidikan yang berkarakter.

Bahkan Christian mengakui, sekolah itu adalah rata-rata yang berlatar belakang Yayasan Agama. Sementara sekolah lain kita tidak punya masalah itu.

Karena itu, jangan kaget. Saat ini semua sekolah punya masalah besar karena pendidikan karakter sudah terdegradasi.

” Anak sekolah ketika keluar, sudah tidak salaman dengan guru, doa juga sudah mulai lari – lari dari ruangan, anak-anak merokok secara bebas di depan maupun di belakang sekolah.

Hal ini ditekankan Christian, karena dimana-mana saat melakukan kunjungan ditemukan guru dan siswa sama-sama merokok,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan Protestan dan Katolik Jayapura. Matias Wiran,SE msengatakan, sekolah penggerak atau sekolah motivator yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa.

Tadi kepala sekolah sudah ungkapkan. Secara holistik dengan mewujudkan profil siswa Pancasila yang meliputi kompetensi dan karakter.

“Mutu kualitas pendidikan diharapkan lebih maju satu dua langkah. Setelah kita ditetapkan sebagai sekolah penggerak maka mutu dan kualitas itu mulai dari kepala sekolah dan guru,” ujarnya.

Menurut Wiran, SDM yang berkualitas dimulai dari sekolah kepala sekolah dan guru.

Maka IHT kala ini, menjadi penting untuk kepala sekolah dan guru menyiapkan diri karena sebagai motor penggerak dalam menumbuhkan kompetensi dan karakter yang dapat dikembangkan.

Intinya, sebelum siswa unggul dan hebat, kepala sekolah dan guru harus unggul melalui in house training, sembari berharap, fasilitator memberikan yang terbaik, sehingga punya pemahaman yang lebih lengkap tentang pengembangan sekolah penggerak.

Sekolah penggerak ini juga ujar Wiran, harus menggerakkan seluruh warga sekolah. Maka kolaborasi seluruh elemen sangat diperlukan.

Baik oleh kepala sekolah, guru, siswa dan orang tua. Dia juga berharap komponen ini yang bekerja secara holistik, bersama-sama untuk mengembangkan sekolah kedepan.

Wiran juga berharap, dengan sekolah penggerak ini, mutu dan kualitas pendidikan kita semakin lebih baik.

Fokus kita ke depan, siswa harus berkualitas dan hebat. Namun sebelumnya para guru harus berkualitas,” pungkasnya.

(trp *)

 

  • Bagikan