banner 325x300

Tokoh Pemuda Alex Tukeji Dukung Pemekaran Mamberamo Hulu, Soroti Akses Terisolasi dan Minimnya Layanan Dasar

Tokoh pemuda Mamberamo Hulu, Alex Tukeji

Mamberamo, Teraspapua.com – Tokoh pemuda Mamberamo Hulu, Alex Tukeji, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana pemekaran wilayah Mamberamo Hulu, Provinsi Papua menjadi kabupaten tersendiri.

Menurutnya, wilayah tersebut telah memenuhi berbagai persyaratan untuk menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB) guna mempercepat pelayanan publik dan pemerataan pembangunan bagi masyarakat di wilayah pedalaman Papua itu.

Alex menilai, secara administratif Mamberamo Hulu masih berada di bawah Kabupaten Mamberamo Raya, yang memiliki wilayah sangat luas dengan kondisi geografis yang berat.

Bentang alam yang didominasi sungai besar, rawa-rawa, hutan lebat, serta perbukitan menjadikan akses antarkampung maupun menuju ibu kota kabupaten sangat terbatas dan sulit dijangkau.

“Kami melihat sendiri bagaimana masyarakat di kampung-kampung harus menghadapi keterbatasan pelayanan karena jarak dan medan yang berat. Untuk mencapai wilayah kami harus melewati jalur sungai dengan biaya yang sangat besar dan waktu tempuh yang panjang,” ujar Alex, kepada Teraspapua.com, Rabu (11/2/2026).

Sebagian besar akses transportasi di Mamberamo Hulu lanjut Alex masih mengandalkan jalur sungai menggunakan perahu bermotor atau longboat. Pada musim tertentu, kondisi arus dan cuaca kerap menghambat mobilitas warga.

Transportasi darat masih sangat terbatas karena infrastruktur jalan belum terhubung secara optimal antarwilayah. Sementara akses transportasi udara hanya dapat dijangkau melalui pesawat perintis dengan jadwal terbatas dan biaya relatif tinggi.

Kondisi tersebut, kata Alex, berdampak langsung pada pelayanan pemerintahan, pendidikan, dan kesehatan. Banyak kampung yang harus menempuh perjalanan berjam-jam bahkan berhari-hari untuk mengurus administrasi atau mendapatkan layanan medis.

Di sektor pendidikan, ketersediaan guru dan fasilitas belajar masih menjadi tantangan. Sejumlah sekolah di kampung-kampung terpencil menghadapi keterbatasan tenaga pengajar, sarana belajar, serta akses buku dan teknologi.

Anak-anak usia sekolah sering kali harus berjalan jauh atau tinggal sementara di distrik lain demi melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

“Sementara di bidang kesehatan, fasilitas puskesmas dan tenaga medis belum merata. Beberapa kampung hanya dilayani tenaga kesehatan dengan peralatan terbatas. Dalam kondisi darurat, pasien harus dirujuk ke pusat kabupaten atau kota lain dengan biaya besar dan proses yang tidak mudah karena keterbatasan transportasi,” tutur Alex.

Selain itu, akses jaringan telekomunikasi dan internet juga belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah. Di sejumlah titik, sinyal masih lemah bahkan tidak tersedia sama sekali.

Hal ini berdampak pada keterbatasan informasi, layanan digital pemerintahan, hingga peluang ekonomi berbasis teknologi yang belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat setempat.

Meski demikian, Alex menegaskan bahwa Mamberamo Hulu memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang besar dan belum tergarap optimal.

Wilayah ini dikenal memiliki kekayaan hutan tropis dengan potensi hasil hutan kayu dan non-kayu, keanekaragaman hayati, serta sumber daya perikanan air tawar dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Mamberamo yang merupakan salah satu sungai terbesar di Papua.

Selain itu, terdapat potensi pertanian dan perkebunan lokal seperti sagu, umbi-umbian, dan tanaman hortikultura yang selama ini menjadi sumber pangan masyarakat. Potensi perikanan sungai, peternakan tradisional, hingga kemungkinan kandungan mineral dan energi terbarukan juga dinilai dapat menjadi modal pembangunan jika dikelola secara berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat adat.

Menurut Alex, dengan status sebagai kabupaten tersendiri, pemerintah daerah akan lebih fokus dalam merancang kebijakan yang sesuai dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan masyarakat lokal. Pemekaran dinilai dapat memperpendek rentang kendali pemerintahan, mempercepat pembangunan infrastruktur dasar, serta membuka peluang investasi yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan warga.

“Kami memohon perhatian Bapak Presiden dan pemerintah pusat agar melihat kondisi nyata masyarakat di Mamberamo Hulu. Kami bukan meminta lebih, tetapi meminta kesempatan yang sama untuk merasakan pembangunan, pelayanan, dan kesejahteraan sebagaimana daerah lain di Indonesia,” tegasnya.

Ia berharap aspirasi masyarakat Mamberamo Hulu dapat menjadi perhatian serius dalam kebijakan pembangunan nasional. Bagi Alex dan sejumlah tokoh pemuda lainnya, pemekaran bukan semata-mata soal administrasi, melainkan tentang menghadirkan negara lebih dekat kepada rakyat di wilayah terisolasi.

“Pemekaran ini adalah harapan agar pelayanan pemerintah lebih cepat, pendidikan dan kesehatan lebih baik, serta akses transportasi dan internet bisa menjangkau seluruh kampung. Dengan begitu, masyarakat tidak lagi merasa tertinggal,” ujarnya.

Alex optimistis, apabila pemekaran Mamberamo Hulu dapat direalisasikan, perubahan nyata akan dirasakan masyarakat, terutama dalam pelayanan pemerintahan, pembangunan infrastruktur dasar, serta pengelolaan potensi sumber daya alam secara berkelanjutan dan berkeadilan.

(Rck/Har)