Jayapura, Teraspapua.com – Wali Kota Kota Jayapura, Abisai Rollo, melalui Asisten I Bidang Pemerintahan Evert Merauje, menyampaikan bahwa momentum peringatan HUT ke-64 Yayasan Pendidikan Kristen di Tanah Papua (YPK), HUT ke-116 Kota Jayapura, serta peringatan masuknya Injil di Tanah Tabi menjadi ajang memperkuat kebersamaan dan kepedulian sosial.
Hal itu disampaikan Merauje saat menghadiri acara grebek sampah dan penanaman pohon di kawasan Pantai Holtekamp, Jumat (27/2/2026).
Ia mengatakan, rangkaian perayaan tersebut tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata seperti penanaman pohon, pembersihan tempat umum, dan aksi bersih pantai.
“Kegiatan ini bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi merupakan wujud nyata dari iman yang bekerja melalui kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.
Menurutnya, perayaan ulang tahun seharusnya tidak hanya menghadirkan sukacita, tetapi juga memberi dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
“Inilah makna mendalam dari kegiatan hari ini, yaitu menghadirkan kebaikan bagi bumi dan kota yang kita cintai,” katanya.
Ia juga menyinggung momentum 116 tahun masuknya Injil di Tanah Tabi yang dinilai telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk lahirnya lembaga pendidikan seperti YPK yang selama 64 tahun telah berperan mendidik generasi Papua.
“Pendidikan yang lahir dari terang Injil tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga karakter, kepedulian, serta tanggung jawab terhadap ciptaan Tuhan,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, ia menekankan bahwa setiap aksi memiliki makna penting, mulai dari menanam pohon sebagai simbol menanam masa depan, hingga menjaga kebersihan sebagai bentuk disiplin dan kebersamaan.
“Melalui penanaman pohon, kita menanam masa depan. Melalui pembersihan tempat umum, kita membangun budaya disiplin. Dan melalui kebersihan pantai, kita menjaga wajah Kota Jayapura sebagai kota pesisir yang indah, bersih, dan bermartabat,” katanya.
Sebagai masyarakat Port Numbay, lanjutnya, seluruh warga memiliki tanggung jawab adat dan moral untuk menjaga tanah dan laut sebagai warisan leluhur.
“Alam Papua adalah warisan yang harus kita rawat dengan penuh hormat. Jangan sampai perayaan kita meriah, tetapi lingkungan kita terabaikan,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh siswa-siswi YPK dan generasi muda Kota Jayapura untuk menjadikan kegiatan tersebut sebagai gerakan berkelanjutan.
“Mari kita bangun kesadaran kolektif bahwa kebersihan adalah cerminan iman, dan kepedulian terhadap lingkungan adalah bagian dari kesaksian hidup kita,” ujarnya.
Pemerintah Kota Jayapura, kata dia, akan terus mendukung berbagai kegiatan sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat. Pasalnya, pembangunan kota tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pembentukan karakter manusia.
Di akhir sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada YPK di Tanah Papua atas inisiatif penyelenggaraan kegiatan yang dinilai positif dan memberi manfaat nyata bagi lingkungan serta generasi muda.
Sementara Ketua Sinode Gereja Kristen Injili di Tanah Papua, Pdt. Andrikus Mofu, melalui sambutan yang disampaikan Sekretaris Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan, Pdt. Dr. Erna Ayal, mengingatkan pentingnya penghayatan pengakuan iman GKI dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sambutan tersebut ditegaskan bahwa pada alinea terakhir pengakuan iman GKI di Tanah Papua tertulis komitmen untuk “mengusahakan dan memelihara Tanah Papua sebagai alam ciptaan Allah bagi kesejahteraan, keadilan, dan kebahagiaan umat manusia.”
Pesan tersebut, menurutnya, relevan dengan momentum peringatan HUT ke-64 Yayasan Pendidikan Kristen di Tanah Papua (YPK), HUT ke-116 Kota Jayapura, serta peringatan masuknya Injil di Tanah Tabi, yang tahun ini diwujudkan dalam semangat “Tahun Kepedulian”.
Ia mengajak seluruh elemen untuk menumbuhkan kepedulian, tidak hanya dalam bidang pendidikan, tetapi juga terhadap diri sendiri, sesama, dan lingkungan.
“Mari kita bersama-sama peduli, bukan hanya untuk pendidikan, tetapi juga bagi sesama dan alam ciptaan Tuhan. Kita terus mendorong penyatuan dan penguatan YPK dari jenjang dasar, menengah, hingga perguruan tinggi agar mampu menjawab kebutuhan di Tanah Papua,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga dan merawat alam sebagai bagian dari tanggung jawab iman. Tanah, menurutnya, memiliki makna mendalam sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga dengan penuh kasih.
“Tanah adalah mama, tanah adalah ibu. Dari tanah lahir kehidupan. Karena itu, kita yang hidup di atasnya wajib menjaga, mencintai, memelihara, dan melindungi tanah ini tanpa tawar-menawar,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pemanfaatan alam tidak boleh dilakukan secara berlebihan tanpa memperhatikan keberlanjutan. Menjaga alam, lanjutnya, merupakan wujud nyata dari pengakuan iman yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Jika tanah dan alam ini rusak, maka kita yang hidup di atasnya tidak akan pernah mengalami damai sejahtera,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung pentingnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan tenaga pendidik YPK, mulai dari tingkat dasar, menengah, hingga perguruan tinggi.
Menurutnya, kesejahteraan guru bukan hanya menjadi tanggung jawab gereja, tetapi juga memerlukan dukungan pemerintah.
“Masih banyak guru yang mengeluhkan kesejahteraan mereka. Namun karena iman, cinta, dan kepedulian terhadap anak-anak didik, mereka tetap bertahan hingga hari ini,” katanya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada para guru atas dedikasi yang telah diberikan dalam mendidik generasi muda Papua.
“Bapak dan ibu guru adalah pahlawan. Dedikasi kalian tidak bisa dibayar dengan apa pun. Bisa jadi, dari anak-anak yang dididik hari ini akan lahir pemimpin-pemimpin masa depan yang menggantikan kita,” ujarnya.
Ia menambahkan, sekolah-sekolah YPK memiliki peran strategis dalam melahirkan generasi pemimpin yang berintegritas di Tanah Papua. Karena itu, nilai integritas harus terus diimplementasikan dalam proses pendidikan, baik dalam mengajar maupun dalam pelayanan.
“Mari kita terus membangun integritas dalam setiap tugas dan tanggung jawab, serta mendidik anak-anak untuk mencintai Tuhan dan sesama,” tutupnya.
(Har/Rck)














