Jayapura, Teraspapua.com – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Jayapura memperingati 30 tahun peristiwa penyerangan kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996 atau yang dikenal sebagai Kudatuli.
Peringatan tersebut digelar melalui rangkaian kegiatan refleksi di Kantor DPC PDI Perjuangan Kompleks Perumahan Cigombong, Kota Jayapura, Papua, Senin (27/7/2026) malam.
Kegiatan refleksi yang mengusung tema “Menegakkan Watak Politik Kebenaran, Keadilan, Beradab, dan Berbudaya” ini dihadiri Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Jayapura Edward JD Rahail, SE.Par, Sekretaris DPC Andrys R. Horman, serta jajaran pengurus, kader, dan simpatisan partai. Seluruh peserta mengikuti prosesi penghormatan kepada para korban peristiwa Kudatuli.
Peringatan diawali dengan pembacaan refleksi sejarah peristiwa 27 Juli 1996 oleh Ketua DPC PDIP. Momentum ini dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban sekaligus penguatan komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi, keadilan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Dalam sambutannya, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Jayapura Edward JD Rahail mengajak seluruh kader dan masyarakat untuk tidak melupakan peristiwa Kudatuli yang menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan demokrasi di Indonesia.
Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pengingat bahwa demokrasi lahir melalui perjuangan, pengorbanan, dan keberanian melawan ketidakadilan.
Oleh sebab itu, nilai-nilai demokrasi harus terus dijaga melalui penghormatan terhadap kebebasan berpendapat, supremasi hukum, serta keberpihakan kepada rakyat.

“Kudatuli mengajarkan bahwa kekuasaan harus digunakan untuk melayani rakyat, bukan menindas. Kritik bukan ancaman, melainkan bagian dari kehidupan demokrasi yang sehat. Kita memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan tragedi seperti ini tidak pernah terulang kembali,” ujar Edward.
Melalui peringatan ini, DPC PDI Perjuangan Kota Jayapura mengajak seluruh kader untuk terus merawat semangat perjuangan Bung Karno, menjaga persatuan bangsa, serta memperkuat demokrasi yang berkeadilan. Selain itu, kader juga diingatkan untuk menolak segala bentuk kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan.
Peringatan Kudatuli ini sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah harus dijadikan pelajaran dalam membangun Indonesia yang lebih demokratis, berkeadilan, dan berpihak kepada rakyat kecil.
“Kudatuli tidak boleh dilupakan dan tidak boleh terulang. Demokrasi harus terus dijaga demi Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian dalam kebudayaan,” tegas Edward.
Ketika ditanya alasan tidak hadirnya bendahara DPC PDI Perjuangan Kota Jayapura, Rahail mengatakan pak Mustang tidak dapat menghadiri kegiatan tersebut karena tengah mengikuti agenda keluarga yang telah dijadwalkan sebelumnya.
(Arc)














