Rapat Konsultasi dengan PTAM Jayapura, DPR Kota Jayapura Pastikan Pasokan Air Aman Jelang Lebaran

Foto Bersama Pimpinan dan Anggota DPR Kota Jayapura Bersama Manajemen PT Air Minum Jayapura Robongholo Nanwani (Perseroda) (foto Harley/Teraspapua.com)

Jayapura, Teraspapua.com – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kota Jayapura menggelar rapat konsultasi dan koordinasi bersama PT Air Minum Jayapura Robongholo Nanwani (Perseroda) guna memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat selama momentum Lebaran dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

Rapat yang berlangsung di kantor PTAM Jayapura, Rabu (4/3/2026), dipimpin langsung Ketua DPR Kota Jayapura Theos Revelino B. Ajomi, didampingi Wakil Ketua I Max Karubaba, Wakil Ketua II Imam Khoiri, serta Wakil Ketua III Ferdinan Hanuebi.

Dalam pertemuan tersebut, Ajomi menegaskan bahwa pelayanan air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang tidak boleh terganggu, terutama menjelang dan saat Hari Raya Idul Fitri, di mana konsumsi air cenderung meningkat signifikan.

“Kami ingin memastikan tidak ada gangguan distribusi air bersih selama Lebaran. Air bersih adalah kebutuhan utama masyarakat, terlebih pada momen penting seperti Idul Fitri,” ujar Theos.

Ia menegaskan, rapat tersebut merupakan bagian dari fungsi pengawasan DPR Kota Jayapura untuk memastikan pelayanan publik berjalan optimal dan tidak merugikan masyarakat.

“DPR Kota Jayapura berharap PTAM dapat menjaga stabilitas layanan selama Ramadan dan Idul Fitri, sekaligus mendorong langkah strategis jangka panjang demi pemerataan distribusi air bersih bagi seluruh masyarakat kota,” jelas Noi sapaan akrabnya.

Selain memastikan kesiapan teknis, DPR Kota Jayapura juga memberikan penekanan khusus agar tidak terjadi pemadaman air menjelang hari raya. Kegiatan konsultasi ini, kata dia, bertujuan memastikan distribusi air tetap lancar hingga perayaan Idul Fitri usai.

Sementara itu, Direktur Utama PTAM Jayapura Robongholo Nanwani, Entis Sutisna, memaparkan kondisi riil pengelolaan air bersih di Kota Jayapura. Saat ini, pihaknya mengelola 23 titik pengambilan sumber air yang tersebar di 12 aliran sungai, membentang dari wilayah Angkasa hingga Sentani.

Namun, menurut Entis, tantangan terbesar yang dihadapi adalah minimnya konektivitas antarjaringan distribusi. Sebagian besar sumber air belum saling terhubung, sehingga ketika terjadi gangguan di satu wilayah, suplai tidak dapat dialihkan dari jaringan lain.

“Jaringan distribusi kita masih berdiri sendiri-sendiri. Jika satu titik mengalami gangguan atau kapasitasnya maksimal, kami tidak memiliki jalur alternatif untuk mengalihkan pasokan,” jelasnya.

Sebagai contoh, ketika wilayah Jaya Asri mengalami gangguan air, suplai tidak dapat dialihkan dari wilayah lain seperti Entrop yang memiliki debit lebih besar. Kondisi serupa juga terjadi di wilayah Angkasa dan Anapre yang tidak terkoneksi dengan jaringan distribusi di Jayapura Selatan.

Akibatnya, masyarakat hanya bergantung pada kapasitas sumber air yang tersedia di wilayah masing-masing. Situasi inilah yang kerap menyebabkan terjadinya gangguan atau penurunan tekanan air di sejumlah kawasan Kota Jayapura.

Di sisi lain, dari 23 titik sumber air yang dikelola, sebagian besar telah dibangun lebih dari 24 tahun lalu. Hingga kini, belum ada penambahan debit baru yang signifikan, kecuali di wilayah Muara Tami yang mulai dimanfaatkan pada 2021.

Wilayah lain seperti Waena, Skyline, hingga kawasan Perumnas 1, 2, 3, Perumnas 4, dan Argapura juga masih menghadapi keterbatasan kapasitas distribusi. Jangkauan layanan masih terbatas dan belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pertumbuhan penduduk.

Karena itu, manajemen PTAM berharap adanya dukungan pemerintah dan DPR untuk penambahan kapasitas produksi sekaligus integrasi jaringan distribusi, agar sistem penyediaan air minum di Kota Jayapura dapat lebih andal dan merata.

(Har)