Tokoh Pemuda Tabi Desak Aparat Usut Tuntas Kasus Dugaan Keracunan MBG di Depapre

Penanganan korban keracunan MBG Depapre

Jayapura, Teraspapua.com – Tokoh Pemuda Tabi, Yulianus Dwa, mengecam keras insiden dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Yulianus mendesak aparat penegak hukum segera turun tangan untuk mengusut tuntas dapur penyedia makanan dalam program tersebut. Ia menilai kejadian ini bukan sekadar kelalaian biasa, melainkan persoalan serius yang harus diungkap secara transparan kepada publik.

Sejak kemarin 4 Agustus hingga hari ini masyarakat terus membawah anaknya karena mengalami keracunan MBG, bahkan balita umur 1 tahun pun menjadi korban keracunan

“Ini menyangkut keselamatan anak-anak kita. Aparat harus segera bertindak cepat dan profesional untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi, termasuk motif di balik insiden ini,” tegas Yulianus dalam keterangannya, Selasa (5/8/2026).

Menurutnya, pemerintah dan pihak terkait tidak boleh menutup-nutupi fakta di lapangan. Ia menilai, masyarakat berhak mengetahui penyebab pasti keracunan yang menimpa ratusan siswa tersebut, termasuk proses pengolahan makanan hingga distribusinya.

Yulianus juga meminta agar dapur MBG yang beroperasi di Distrik Depapre diperiksa secara menyeluruh, mulai dari standar kebersihan, kualitas bahan makanan, hingga mekanisme pengawasan yang diterapkan selama ini.

“Jika ditemukan adanya kelalaian atau pelanggaran, maka harus ada tindakan tegas. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa program Makan Bergizi Gratis merupakan program strategis yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah. Namun, jika tidak diawasi dengan baik, program tersebut justru berpotensi menimbulkan risiko kesehatan yang serius.

Sementara itu, hingga saat ini pihak berwenang masih melakukan penyelidikan terkait penyebab pasti insiden tersebut. Sejumlah korban dilaporkan sempat mengalami gejala seperti mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi makanan yang disediakan.

Para siswa yang terdampak telah mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan setempat. Kondisi sebagian besar korban dilaporkan mulai membaik, meski masih dalam pengawasan tenaga medis.

Kasus ini menjadi perhatian luas masyarakat, terutama para orang tua siswa yang berharap adanya jaminan keamanan dalam setiap program yang menyasar anak-anak sekolah.

Yulianus menegaskan, pengungkapan kasus ini secara terbuka menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap program pemerintah, khususnya di sektor pendidikan dan kesehatan.

“Transparansi adalah hal utama. Jangan sampai ada yang ditutup-tutupi. Kami minta semua pihak bertanggung jawab,” katanya.

(arc)