Setelah 23 Tahun Penantian, Pembangunan Gedung Gereja Jemaat GKI Isak Samuel Kijne Abepura Resmi Dimulai

Jayapura, Teraspapua.com – Setelah menanti selama lebih dari dua dekade, Jemaat GKI Isak Samuel Kijne Abepura akhirnya memulai pembangunan gedung gereja mereka yang baru.

Momentum bersejarah ini ditandai dengan ibadah peletakan batu pertama yang dilaksanakan pada Rabu (27/8/2025), dan dihadiri oleh sejumlah tokoh gereja serta pejabat penting di Papua.

Peletakan batu pertama dipimpin langsung oleh Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Andrikus Mofu, yang kemudian diikuti oleh Ketua Klasis GKI Port Numbay, Pdt. Andris Tjoe, Ketua STT GKI I.S. Kijne, serta para ondoafi, tua-tua jemaat, . Calon Gubernur Papua, Benhur Tomi Mano, hadir bersama istri, Ibu Kristhina Luluporo Mano, sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan tersebut.

Turut hadir pula Ketua Badan Pekerja Yayasan Pendidikan (BPYP) GKI di Tanah Papua yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi IV DPR Papua, Joni Y. Betaubun, para pendeta, ketua klasis, serta tokoh-tokoh masyarakat dan jemaat.

Dalam sambutannya, Pdt. Andrikus Mofu menegaskan pentingnya semangat kebersamaan dalam pembangunan gedung gereja ini.

“Kita harus segera membangun. Mari bergandengan tangan mendukung proses ini. Badan Pekerja Sinode sudah berkomitmen untuk mendampingi dan memastikan pembangunan ini berjalan dengan baik. Kami percaya, dengan hikmat dan berkat Tuhan, pembangunan ini dapat selesai bahkan sebelum masa tugas kami berakhir,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa seluruh aset, baik bergerak maupun tidak bergerak, termasuk tanah di mana gereja ini akan dibangun, merupakan bagian dari kekayaan GKI di Tanah Papua, yang berada di bawah pengelolaan dan kewenangan Sinode.

Ketua STT GKI I.S. Kijne, Pdt. Diana Jembise menyampaikan bahwa hari tersebut menjadi momen penuh makna bagi perjalanan iman jemaat.

“Apa yang kita lakukan hari ini bukanlah perkara kecil. Ini bukan sekadar meletakkan batu di atas tanah, tetapi meletakkan dasar iman dan kasih yang akan menjadi fondasi kokoh bagi perjalanan jemaat ini ke depan,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa gereja yang akan dibangun bukan hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi sebagai rumah Tuhan tempat ibadah, doa, dan persekutuan umat diteguhkan.

Mewakili tua-tua jemaat, Pnt. Feri M. Karet menjelaskan bahwa Jemaat GKI Isak Samuel Kijne secara resmi terbentuk berdasarkan Surat Keputusan Badan Pekerja Klasis GKI Jayapura Nomor 01/G.1.B.1/2023 tertanggal 24 November 2003.

Jemaat ini merupakan hasil pemekaran dari jemaat GKI Sion Padang Bulan, yang sebelumnya menaungi wilayah pelayanan wick 1A, 1B, dan wick VI. Pembentukan jemaat baru ini dimaksudkan untuk memperluas dan memperdalam pelayanan, khususnya kepada warga yang sulit dijangkau karena jarak atau kondisi geografis.

Selain itu, lokasi jemaat yang berada di lingkungan STT GKI I.S. Kijne juga menjadi tempat yang strategis untuk mendukung praktik pelayanan mahasiswa teologi yang sedang dibina sebagai calon pendeta dan pemimpin gereja masa depan.

Nama jemaat ini diambil dari tokoh penting dalam sejarah kekristenan di Papua, Pdt. Isak Samuel Kijne—seorang misionaris yang telah meletakkan dasar pendidikan dan pelayanan gereja di wilayah ini.

Hingga kini, Jemaat GKI I.S. Kijne terdiri dari beberapa rayon, yakni Bethel, Kalfari, Sion, Getsemani, dan Golgota, serta dua kelompok pemuridan, dengan jumlah 119 kepala keluarga dan total 568 anggota tetap.

Selama 23 tahun terakhir, jemaat ini menggunakan gedung serbaguna milik STT GKI I.S. Kijne sebagai tempat ibadah, dan akan terus digunakan hingga proses pembangunan gereja baru selesai sesuai dengan nota kesepahaman (MoU) yang telah disepakati.

Ketua Panitia Pembangunan, Edward Kochu, dalam laporannya menyampaikan bahwa peletakan batu pertama ini menjadi jawaban atas kerinduan jemaat yang telah menanti selama 23 tahun sejak pemisahan dari GKI Sion Padang Bulan.

“Kami telah melakukan berbagai koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Puji Tuhan, hari ini semuanya terwujud,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa gedung gereja yang akan dibangun tidak hanya akan digunakan untuk ibadah rutin, tetapi juga akan berfungsi sebagai laboratorium praktik bagi mahasiswa STT GKI I.S. Kijne.

“Dengan demikian, setiap kontribusi untuk pembangunan ini bukan hanya membangun fisik gereja, tetapi juga merupakan investasi spiritual bagi masa depan pelayanan gereja di Tanah Papua,” tegas Edward.

Pembangunan gedung gereja Jemaat GKI Isak Samuel Kijne bukan hanya sebuah proyek fisik, tetapi juga simbol dari pertumbuhan rohani dan komitmen bersama dalam membangun pelayanan yang menyentuh kehidupan umat. Dengan dukungan berbagai pihak dan penyertaan Tuhan, jemaat ini kini memasuki babak baru dalam sejarah pelayanannya di Tanah Papua.